10

897 Words
Farah mengambil ponselnya di laci. Memang benar ada banyak pesan masuk dari Reza. "Kamu baik - baik aja?" "Farah kamu gak mau dengerin aku dulu?" "Farah maafin aku.." "Farah semua itu salah paham.." Tapi, yang paling menyakitkan hatinya adalah wallpaper di ponselnya yang berisikan foto keduanya dengan senyuman lebar di dalam kamar. Farah membuka galerinya dan menghapus semua foto Reza dengan brutal. Walau menyesakan dan ia masih mencintai Reza. Sudah sepantasnya laki-laki sialan itu dilupakan. Semua ini hanya butuh proses untuk melupakan. Kekasihku sayangku Ku ingin kau tahu Hati ini 'kan selaluMenantikan cintamu Kaulah yang pertama yang memberi arti cinta'tuk selamanya tetap di hatikuIngin memelukmu Mendekap hangat cintamu'tuk selamanya tetaplah di hatiku Kuberi semua untukmu Dengan kesungguhanku Tak akan ku berbagi meskipun engkau jauhKu kan s'lalu merindukanmu Ku kan tetap selalu menjagamu Jangan ada kata berpisah Pegang erat janjiku (janjimu) Yakinkan di hatimu (Selalu Untukku) Tak akan ku berpaling Hanya kau satu di hatikuKu akan selalu disampingmu Tak ku biarkan kau jauh'tuk selamanya ku tetap di hatimu Kaulah yang pertama (yang selamanya) Yang memberi arti cinta (untuk dirimu)'tuk selamanya tetap di hatikuIngin memelukmu Mendekap hangat cintamu'tuk selamanya ('tuk selamanya) Bunga Citra Lestari - Tetaplah Di Hatiku ***  Dio membuatkan teh manis panas untuk Farah. Dio memperhatikan Farah dari semalam. Setelah melayani tamunya, Farah tidak lagi keluar kamarnya. Farah tertidur dengan wajah ditutupi selimut. Dio meletakan gelas teh panas itu berhati-hati. "Farah.." Panggil Dio lembut. Farah tetap menutup matanya. "Rah, gua buatin teh manis ya di meja. Cepat sembuh kalau lo lagi sakit." Dio meninggalkan kamar Farah. Farah mengintip dari selimutnya. Dia sedari tadi memang sudah terbangun. Hanya saja Farah sedang tidak ingin berbicara dengan siapa pun sampai nanti malam. Farah mengambil cangkir putih berisikan teh manis panas dan menyesapnya perlahan. Rasanya tubuhnya jadi lebih baik. "Rah gua balik lagi mau kasih.." Dio langsung menutup lagi pintu kamar Farah. Farah yang kaget karena pintu terbuka tiba-tiba langsung menutupi tubuhnya dengan selimut. "Sorry.. gua gak maksud liat badan lo." "Dio!!!" Teriak Farah kesal. "Pakai baju dulu deh lo. Gua mau kasih sarapan." Farah dengan cepat mengenakan tanktop dan hotpants yang tergeletak di karpet kamarnya. "Ok, masuk." Dio membuka pintu perlahan-lahan dengan roti bakar di tangannya. "Ini sarapan lo." Dio menjulurkan pada Farah. "Thanks." "Lo udah merasa baikan?" "Gua gak sakit." "Terus kenapa lo di kamar aja? Biasanya lo udah kelayapan di pagi hari." "Gak mood." "Gak mood atau lagi sakit hati?"  Goda Dio mencoba memancing senyuman Farah. "Gak mood." Ternyata Farah benar-benar tidak bisa diajak becanda. Dio duduk di sofa kecil Farah. Pemilik kamar itu hanya bisa menatap Dio heran. "Gua mau minta maaf soal Reza." "Gak perlu." "Karena gua kenalin lo sama Reza. Lo jadi begini." "Basi basi. Udah lo keluar aja gak apa-apa." "Eh, tapi kok lo tahu si gue sama Reza?" Tanya Farah heran. "Gue kemarin ngeliat lo dijemput sama Reza." "Liat? Perasaan gue gak pernah liat lo deh di bawah pas gue sama Reza pergi." " Ya pokoknya gue liat aja, gue kan punya mata. Hak gue dong buat liat siapa aja." Jawab Dio dengan nada sedikit kesal. Farah benar - benar ingin tahu kapan dan di mana Dio melihatnya pergi dengan Reza. "Gua juga gak tahu soal Reza udah nikah. Dia gak pernah kasih tahu gua. Semalam pas dia turun dari kamar lo.. Gua tanya sama dia." "Kepo juga ya lo." "Sorry Rah. Karena gua lo terluka begini." Dio menatap Farah yang hanya bisa mengigit bibirnya menahan air mata. "Lo gak salah apa-apa. Gua emang terlalu murahan." Farah tersenyum terpaksa. "Lo adalah perempuan paling beharga. Kemurahan lo itu hanya karena kondisi Rah. Lo bisa dapat tempat yang lebih baik." "Gua udah rusak, Yo. Biar aja kerusakan ini terus berjalan sampai gua mati." Dio membelalakan matanya tak percaya dengan ucapan Farah. Apa karena Farah sedang tidak enak hati jadi pembicaraannya membuat dia merasa tidak nyaman? "Rah.. Lo butuh istirahat." Dio meninggalkan Farah sendiri dengan hatinya yang masih hancur berkeping-keping. Dio terus menyalahkan dirinya sendiri. Ia tidak menyangka jika Farah bisa jatuh cinta dengan laki-laki seperti Reza. Seharusnya dengan pekerjaan ini Farah tidak perlu jatuh cinta dengan pelanggannya karena hanya akan menyulitkan dirinya sendiri. Dio memperhatikan tangannya yang sedikit terluka, karena semalam menghajar Reza. Dio tidak pernah merasa begitu emosi dengan seseorang, hanya karena Reza menyakiti Farah dan Dio membencinya karena hal itu. Tiba-tiba saja tangannya melayang, memukul Reza sampai Reza terhuyung. Reza tidak melawan, hanya menatap marah Dio karena pukulan itu. Semua mata memperhatikan mereka berdua, tapi Dio tidak peduli. Satu pukulan sebenarnya terasa kurang, tapi Dio akan menghabisinya kalau Reza menyakiti Farah sekali lagi. I'm not a perfect person, There's many things I wish I didnt do, But I continue learning, I never meant to do those things to you. And so I have to say before I go, That I just want you to know, I've found a reason for me, To change who I used to be, A reason to start over new, And the reason is you. I'm sorry that I hurt you, It's something I must live with every day,And all the pain I put you through, I wish that I could take it all away ,And be the one that catches all your tears. Thats why I need you to hear, I've found a reason for me, To change who I used to be, A reason to start over new And the reason is you, The Reason - Hoobastank
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD