8

1065 Words
Drrrrt...Drrrt... Ponsel Reza berbunyi di atas meja. Farah hapal benar, pasti Reza lupa membawa handphonenya karena terburu-buru. Farah mengambil ponsel itu dan melihat nama Agnes di ponsel Reza. Farah meletakan sapu dan menghampiri meja yang memanggil-manggilnya karena dering ponsel Reza. "Hallo..?" ucap Farah menyapa suara di sebrang sana. "Kamu siapa?" tanya suara di sebrang sana. "Saya Farah. Mbak temannya Mas Reza?" tanya Farah dengan nada penasaran. "Teman? Saya itu istrinya Reza! Harusnya saya yang tanya. Kamu itu siapa!" bentak suara itu. Bahu Farah turun kecewa, lututnya lemas. Farah berjalan pelan ke arah sofa mencoba meluruskan apa yang dia dengar walau terasa sakit. "Istrinya?" Farah bertanya sekali lagi, meyakinkan apa yang didengarnya adalah nyata. "Iya saya istrinya. Kamu siapa si? Mana suami saya?" "Mas Reza sudah berangkat kerja, mbak. Handphonenya tertinggal." Jawab Farah menahan suaranya yang sudah parau. " Kamu belum jawab pertanyaan saya. Kamu siapa? Kenapa HP suami saya ada di tangan kamu si ?" " Saya pembantu rumah tangganya." Jawab Farah menahan bibirnya yang bergetar. " Oh pantesan. Bilangin sama tuan kamu, saya nelfon. Rio anaknya lagi sakit." " Baik bu." Farah menjawab dengan nada sepelan mungkin agar suara tangisnya tersamarkan. Farah mematikan ponsel Reza dengan tatapan tidak percaya. Di ponsel Reza padahal wallpaper mereka berdua yang tersenyum bahagia, seakan hal Reza adalah sah milik orang lain tidak pernah ada. Reza tersenyum lebar, Farah mencium pipinya. Sempurna sekali jika semua orang melihat wallpaper ponsel Reza. Telfon itu menghancurkan semua ekspetasi yang Farah kira semua akan cantik dan baik-baik saja. Rasa patah hati memang sudah tidak asing lagi, tapi rasa seperti ini percaya masa depan akan indah bersamanya, nihil.  Ribuan kata cinta, tatapan manis itu, dan semua angan-angan yang mereka akan bangun.. Hancur seketika. Farah memang wanita murahan, tapi untuk sebuah cinta sejati.. Farah tidak ingin ia dijadikan nomor kedua. "Jadi selama ini? Semua kata cinta itu?" Farah menutup mulutnya, menahan tangisnya. Rasanya begitu sakit. Beberapa bulan ini ia mencintai orang yang sudah dimiliki. "Kenapa cinta sejati itu tidak pernah berpihak padaku? Kenapa?" Farah bergegas mengambil tas dan meganti pakaiannya. Farah akan kembali ke club malam, mungkin Farah memang terkutuk dan harus tinggal di tempat itu selamanya. Tak pernah ada pangeran impian seperti di film - film yang akan menyelamatkannya. Dongeng hanyalah dongeng. "Lebih baik aku kembali menjadi jalang daripada harus menjadi duri dalam pernikahan seseorang." Farah pergi dengan luka di hatinya yang menganga lebar. Farah harus melupakan Reza. Harus. Walau dia harus sampai mati karena menahan rasa sakit ini tidak apa, Farah tahu rasanya sakit hati ketika keluarga hancur berkeping-keping. Kau kan selalu tersimpan di hatiku Meski ragamu tak dapat ku miliki Jiwaku kan selalu bersamamu Meski kau tercipta bukan untukkuTuhan, berikan aku hidup satu kali lagi Hanya untuk bersamanya Ku mencintainya Sungguh mencintainya Rasa ini sungguh tak wajar Namun ku ingin tetap bersama dia Untuk selamanya...Mengapa cinta ini terlarang Saat ku yakini kaulah milikku Mengapa cinta kita tak bisa bersatu Saat ku yakin tak ada cinta selain dirimu The Virgin - Cinta Terlarang *** Farah berjalan cepat melewati Dio yang sedang menghisap sebatang rokok. "Lo masih ingat tempat ini?" Ledek Dio tanpa menyadari Farah yang sedang terluka. Farah tetap berjalan menaiki anak tangga. Membanting pintu di belakangnya kasar. Dio memperhatikan Farah dari tempatnya berdiri. Karena rasa penasaran, Dio perlahan-lahan menaiki tangga dan membuka pintu kamar Farah yang tidak terkunci. Farah menutup wajahnya dengan bantal untuk meredam suara tangisnya. "Farah? Lo sakit?" tanya Dio yang masuk ke dalam kamar Farah. "Kalau mau ke dokter, gua anterin yuk." tetap tak ada jawaban selain suara tangisan Farah. Dio mengambil bantal yang menutupi wajah Farah. Dio menatap wanita di depannya dengan tatapan tak kalah sedih. Baru saja kemarin Farah tertawa dan tersenyum karena cinta yang memabukan itu. Sekarang ia menangis sejadinya. Ingin rasanya Dio memeluknya, menyelamatkannya, dan membawanya pergi andai dia tidak memiliki tanggung jawab atas tempat ini. "Rah lo kalau nangis jelek." ledek Dio tidak tepat pada waktunya. "Keluar dari kamar ini Dio. Gua mau sendiri.." Pinta Farah dengan nada parau. Dio tidak bergeming dari tempatnya. Ia tak akan pergi sampai ia tahu penyebab Farah menangis. "Gua tetap di sini ya Rah. Gak apa-apa kalau lo anggap gua gak ada. Gua nemenin lo nangis aja." Farah tidak memperdulikan ucapan Dio dan tetap menangis. Dio duduk di pinggir ranjang Farah. Membelai lembut rambut Farah. "Maafin gua ya.." **** Farah baru bisa menghentikan tangisnya setelah 20 menit menangis. Farah duduk di samping Dio. Dio sedang duduk di depan club sambil merokok ketika melihat Farah datang dengan penampilan berantakan, sangat berbeda dengan penampilannya kemarin yang seperti seorang putri cantik. Dio mengajak Farah masuk dan membicarakan masalahnya di dalam, karena Dio tidak ingin orang jadi penasaran kenapa Farah menangis. "Lo mau minum?" tawar Dio. Farah memanggutkan kepalanya. Dio mengambilkan segelas minuman dari bar. "Minuman ini bisa buat lo merasa lebih baik." Tanpa ucapan apa-apa Farah langsung meneguknya habis. "Haus kan lo. Makanya kalau nangis kira-kira, Rah." Ledek Dio yang tidak tahu situasi. "Diam." "Lo kenapa si? Perasaan kemarin lo bahagia-bahagia aja deh.." Dio heran, memang cinta bisa berubah secepat itu ya? "Bukan urusan lo." "Kalau lo kenapa-kenapa kan itu tanggung jawab gua." "Gua gak kenapa-kenapa. Gua cuma capek aja jadi nangis." "Gua tahu Rah lo bohong. Lo kira gua buta?" "Udah please.." "Gua tinggal deh ke bawah. Yang penting lo udah berhenti nangis." Farah tetap diam dan menatap ke lantai. "Dio.." panggil Farah, membuat langkah Dio terhenti. "Makasih udah nemenin gua nangis." Dio memanggutkan kepalanya tersenyum. "Kalau lo butuh sesuatu atau tempat cerita lo bisa cerita ke gua." Farah tersenyum kecil. Dio sebenarnya adalah orang yang Farah takuti karena ia yang memegang kekuasaan atas bar ini dan seisinya. Farah tidak menyangka Dio memperhatikannya dan menemaninya menangis. Kepala Farah terasa pusing karena lelah menangis. Farah harus tidur sebelum menemui tamu-tamu nanti malam. Ajari aku tuk bisa Menjadi yang engkau cinta Agar ku bisa memiliki rasa Yang luar biasa untuk ku dan untukmu... Ku harap engkau mengerti Akan semua yang ku pinta Karna kau cahaya hidup ku malam kuTuk terangi jalan ku yang berliku ... Hanya engkau yang bisa Hanya engkau yang tahuHanya engkau yang mengerti Semua ingin kuAjari aku untuk bisa mencintaimu Ajari aku untuk bisa mencintaimu Mungkinkah semua akan terjadi pada diri ku Hanya engkau yang bisa mencintai kuHanya engkau yang bisa Hanya engkau yang tahu Hanya engkau yang mengerti Semua ingin ku Hanya engkau yang bisa Hanya engkau yang tahu Hanya engkau yang mengerti Adrian Martadinata - Ajari Aku
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD