Malam harinya. Sesuai yang direncanakan Rifki semuanya telah berjalan dengan lancar. Dibantu oleh Naufal keinginannya sudah 90 persen terlaksana. Rifki tidak berhenti tersenyum membayangkan kebahagiaan yang menanti di depannya saat ini. Ia benar-benar yakin dengan niat baiknya. Naufal menepuk bahu Rifki membuat laki-laki itu menolah. Keduanya saling melempar senyum. “Makasih!” ujar Rifki “Untuk?” “Bantuan lo.” Naufal terkekeh. Tanpa mengucap terima kasih sekalipun Naufal tidak masalah. Ia ikut bahagia melihat temannya bahagia. “Nggak perlu berterima kasih karena apa yang gue lakukan hanyalah hal sepele.” “Sombong!” “Di mana Farah sekarang?” tanya Rifki “Sebentar lagi dia akan datang bersama Cahaya.” Rifki mengangguk sebagai jawaban. Rifki memegang dadanya yang terasa berde

