Rifki melepas ciumannya lalu menyatukan kening keduanya. Rifki dan Farah saling menatap sembari mengatur nafas. Jemari Rifki mengusap bibir Farah yang basah karena perbuatannya barusan. “Maaf!” ujar Rifki “—“ Farah terdiam karena tidak tahu harus menjawab apa. Ia marah ketika mengetahui Rifki menciumnya dengan lancang, bahkan mencuri kesempatan saat dirinya sedang tidur. Tapi di satu sisi ia menikmatinya. “Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menciummu.” ujar Rifki “Lagipula untuk apa kamu berhenti di pinggir jalan?” “Aku tidak tahu harus ke mana, Farah. Aku tidak tega membangunkanmu.” “Tapi mencuri kesempatan untuk menciumku.” Rifki terkekeh mendengar perkataan Farah. “Tapi kamu terlihat menikmatinya.” ucapnya sembari menaik turunkan alisnya menggoda “Shut up!” Fara

