“Kesalahan terbesarku adalah tak bisa melindungi orang yang kucintai”-- Hear Saber
.
.
.
Beberapa saat setelah Rei mengirimkan telepati pada Hear, lelaki itu terdiam. Alunan suara yang membuat kepalanya sakit telah berhenti. Wajah lelaki itu menjadi penuh tanda tanya. Namun, ia tetap pura-pura kesakitan melihat kondisi Hans yang masih menganggap strateginya berjalan sempurna. Tawa terbahak dari Si Pengendali pikiran itu masih memenuhi atap gedung tersebut. Sora dengan tatapan kosongnya masih mengacungkan pistol ke kepalanya sendiri, membuat Rei mesti berhati-hati untuk bertindak.
“Apa kau akhirnya merasa tidak berguna, Sense? Kau bahkan tidak bisa melindungi orang-orang terdekatmu? Sayang sekali, Si Sempurna ternyata tidak sehebat yang kukira,” ucap Hans diikuti dengan kekehan tertawanya. Rei terdiam. Ia masih pura-pura meringis. Di kepalanya sekarang telah terbesit berbagai ide untuk menaklukan pria mengerikan di depannya. Ia memfokuskan kembali kemampuan ‘membunuh’nya.
Namun, sebelum Rei selesai mengendalikan tubuhnya sendiri, dari pintu masuk atap gedung muncul dua orang yang ia kenal. Runa menyeret Yuuki di belakangnya. Mata wanita itu masih tampak kosong.
Sial! Apa yang terjadi? Kenapa Runa bisa kembali dalam pengaruh Hans?!
Rei mencoba menatap Yuuki yang tak sadarkan diri di tangan Runa. Sesuatu pasti telah terjadi, tapi lelaki itu tak bisa menerkanya. Hans menyeringai lebar menyambut kedatangan bonekanya yang lain.
“Reader …., aku tahu kau memang sekuat itu. Jadi, Rei, sudah cukup berpura-pura kesakitan. Karena aku juga sudah tahu bahwa Sang Diva telah kalah.” Ucapan Hans membuat Rei bergidik. Ia salah memperhitungkan langkah. Dengan cepat, Runa berlari menuju Rei, meninggalkan Yuuki yang tak sadarkan diri tergeletak di lantai. Wanita itu mencekik leher Rei sangat erat. Rei mengerang. Ia mencoba memanggil nama sahabatnya itu, tapi nihil, tidak ada perubahan sama sekali.
Aku harus kembali mengambil alih pikirannya!
“Oh, ya? Kau pikir kau bisa melakukan itu, Sense?” ucap Hans membuat Rei tersentak. Ia melupakan bahwa dirinya sedang berhadapan dengan Si Pengendali pikiran. Sekarang, cekikan Runa semakin erat. Rei terbatuk beberapa kali dibuatnya.
Tangan Rei berusaha menyentuh pucuk kepala Runa, tapi tampak sulit sekali ia menggapainya. Berkali-kali pria itu menyebut nama wanita di hadapannya, berharap ia akan sadar. Tawa Hans sekarang semakin keras.
Namun, tiba-tiba, cekikan Runa terlepas. Tetesan air mata terjatuh dari pelupuk wanita itu. Rei tercekat. Ia memegangi lehernya. Namun, saat menyadari Runa tidak sadar seutuhnya, ia segera beranjak menuju Hans. Lelaki itu berkelit, tapi Rei akhirnya berhasil memegang lengannya.
“Permainanmu berakhir sampai di sini, Hans!” ucap Rei.
“Haha, benarkah? Kau mau mencoba membunuhku? Lalu Sora juga akan membunuh--”
“Hentikan kegilaan ini, KIM HANSEL!” Suara seorang wanita yang kini berdiri di pintu masuk atap gedung memotong ucapan Hans. Tanpa basa-basi, ia segera berlari menuju Hans dan ikut memegangnya bersama Rei. Lelaki itu meringis.
“A …, Apa ini? Si …, apa, kau?” ucap Hans terbata-bata. Sedetik kemudian, sang pengendali pikiran itu terjatuh tak sadarkan diri, begitu juga dengan Sora dan Runa.
“Oh, tidak, Sora! Sadarlah!” Wanita misterius itu kini beralih pada Sora, ia membasuh lembut wajah si ‘Penglihat’ itu.
“Kau? Siapa?” tanya Rei akhirnya.
***
“Illiana?” Menyadari suara nyanyian perempuan di hadapannya berhenti, Hear mencoba memanggil namanya. Tentu saja, tidak ada jawaban yang terdengar, karena kenyataannya, wanita itu telah meregang nyawa tergantung di rantai ayunan.
Di pendengaran Hear, lelaki itu sama sekali tak mendengar detakan jantung Illiana. Air mukanya mulai panik. Ia bernjak dari tempatnya terseok-seok, sambil terus memanggil nama wanita yang mencintainya. Air mata mulai membasahi pipinya. Ia meringis. Lelaki buta itu mencoba mendatangi tempat di mana ia mendengar suara pelan ayunan.
“Tidak …, tidak mungkin …,”ucapnya putus asa. Ia mengulurkan tangan ke arah ayunan yang masih meninggalkan suara rantai yang berdecit. Didapatinya kulit wajah Illiana yang mulai dingin. Lelaki itu terus menerus mencoba meneriakkan nama sang diva. Namun, tak ada suara yang keluar. Ia pun mencoba melepaskan rantai yang membelit Illiana. Direbahkannya jasad wanita itu di tanah dengan hati-hati.
“Illiana …, tidak! Bernapaslah, kumohon!” ucap Hear berkali-kali. Air mata semakin membanjiri wajahnya. Teringat jelas sosok Illiana yang menyanyikan lagu Havana untuknya. Ingatan saat wanita itu menggodanya.
“Are you hear My Song, Honey?” Tanya Illiana saat itu. Sebenarnya, Hear mendengar suara merdu wanita itu. Ia tahu bahwa Illiana berusaha keras menggodanya. Tidak mungkin lelaki itu tak mendengarnya. Meski ia pura-pura tak melepas headsetnya, Hear tidak bisa menahan untuk mengerjai wanita di hadapannya.
“Did you sing a song for me?” sambil menahan tawa, lelaki itu mempertahankan wajah datarnya dan mengembalikan pertanyaan Illiana.
Bayangan itu teringat jelas di pikiran Hear kini. Lelaki itu terus memanggil nama sang Diva.
“Illiana, bangunlah, kumohon …, bernyanyilah untukku, aku tidak akan membohongi perasaanku lagi, kumohon …,” Ucapan yang sama terus menerus digaungkan oleh Hear. Namun, percuma wanita di hadapannya tidak akan pernah lagi bernyanyi untuknya.
“Kumohon, bangunlah, aku mencintaimu, Illiana. Selama ini, aku sangat mencintaimu dan kesalahan terbesarku adalah tidak bisa melindungi orang yang kucintai …,” ucap Hear pasrah sambil mencium bibir Illiana yang membiru.
***
Yui beranjak dari persembunyiannya. Perasaan-perasaan yang tak mampu ia tafsirkan membuat dadanya sesak. Ada pertanyaan, pengkhianatan, dendam, kesedihan yang mendalam, penyesalan, semua perasaan itu seakan memeluk diri Yui erat. Gadis kecil itu berjalan perlahan menuju anak lelaki yang sudah jatuh pingsan sejak beberapa menit yang lalu. Yui mencoba memanggil nama saudara kandungnya itu.
“Kyouru? Kau tidak apa-apa?” Saat menyentuh Kyouru, gadis kecil itu menghela napas lega. Bocah yang tergeletak di hadapannya masih hidup. Namun, ia tahu ada nyawa yang telah hilang di antara para pemilik kemampuan. Tangisan Hear membuat dadanya sesak dan itu membuatnya mengerti bahwa sang Diva telah pergi.
“Kyou, Illiana-nee …, Hiks.” Isak tangis Yui mulai terdengar. Berkali-kali ia mencoba menyeka air mata yang terus mengalir di pipinya. Dalam pikirannya, ia sadar harus segera menemukan Rei dan yang lain, tapi ia tidak mungkin meninggalkan Kyouru di sana begitu saja. Maka, gadis kecil itu terpaksa memilih duduk di samping Kyouru. Ia menaikkan kepala bocah itu ke pangkuannya.
“Kyou, kau tahu, aku merindukanmu. Kata Yurika, kau terus-menerus mencariku. Aku tahu, setelah kau sadar nanti kau pasti akan menyesal telah menyerangku. Tapi, tidak apa-apa, Kyouru, jangan menyalahkan dirimu sendiri, karena aku tidak mau lagi merasakan perasaan menyesakkan seperti ini …,” Yui kembali menyeka air matanya. Ia amat membenci ketidak berdayaan dirinya. Sejak dulu, karena kemampuannya yang sebatas merasakan perasaan orang lain, ia hanya bisa berdiam diri jika ada yang terjadi dengan saudaranya. Ia tak bisa berbuat apa pun, mesti ingin. Ia hanya bisa menyadarkan mereka untuk merelakan semua yang terjadi, atau melakukan hal yang seharusnya mereka lakukan. Kini, Yui tak bisa menahan tangisannya saat menyadari dirinya tak mampu menyelematkan saudaranya.
“Berhenti menangis, aku akan semakin menyesal jika melihatmu seperti ini,” suara Kyouru mengejutkan Yui. Bocah itu mengedip-ngedipkan matanya yang silau akan cahaya lampu taman yang mulai menyala. Hari sudah senja, waktu telah berlalu cepat sejak hari penuh tragedi itu dimulai. Sayang, bukannya berhenti, tangisan Yui semakin keras saat menatap Kyouru yang sudah tersadar.