Part 29-- Perseteruan

1151 Words
--“Membenci orang lain untuk menutupi kekuranganmu adalah hal yang paling memalukan."-- Rei Harold. . . . Rei menekan tombol di sisi kanan pintu atap gedung. Lelaki itu tahu yang akan dihadapinya di balik benda yang akan terbuka itu adalah pria yang mengerikan. Memori Rei yang telah kembali membuat ia mengingat bahwa Kim Hansel adalah anak asuh ayahnya yang paling membenci dirinya. Sekelebat, kejadian akan kepergian Hans dari rumah besar terekam di kepala Rei. Hans yang masih boceh menjadi provokator akan kepergian anak-anak asuh Harold yang lain. Hal itu juga yang membuat Harold tertekan. Setelah kelahiran Rei, anak-anaknya bersikap aneh. Mereka dengan tanpa alasan membenci kehadiran Rei. Bahkan, Rei pun masih ingat bagaimana perlakuan Hans dan anak-anak asuh di bawah kendalinya yang membuat Rei selalu dikambing hitamkan jika ada anak yang terluka atau hal-hal yang membuat susah Harold. Ia tahu, Hans memang membenci dirinya, tapi lelaki itu sama sekali tidak mengerti alasannya. Pintu gedung semakin lebar terbuka, membiarkan cahaya matahari yang terik menyinari wajah Rei. Kini, lelaki berkemeja biru itu bisa melihat jelas wajah Kim Hansel, Sang Pemikir, Thinker. Rambut acak-acakan pria yang tampak berumur 30 tahunan itu bergerak mengikuti semilir angin, mantel coklatnya menutupi setengah badan lelaki itu. Walau tampak urakan, seringai Hans kini mampu membuat Rei bergidik. Sudah lama sekali Rei tak melihat rupa kakak angkatnya itu. Ya, semua anak asuh Harold memang dikenalkan sebagai kakak angkat Rei, walau Hans sangat membenci dan menolak hal itu, tapi tidak dengan Rei, ia tetap menganggap mereka saudara, meski dirinya akhirnya melupakan mereka setelah terkena retrograde amnesia. Dengan menahan tubuh yang bergetar, Rei melangkahkan kaki ke arah Hans. Di samping lelaki berkebangsaan Korea itu, Sora dengan tatapan kosong berdiri mematung. Senjata laras panjang masih tergenggam erat di tangannya. Mungkin, Sora menjadi sandera untuk melumpuhkan Rei, begitu piker lelaki berkulit putih itu. “Kau pikir aku akan menggunakan Sora untuk membunuhmu, Sense?” Seketika mata Rei membulat menatap Hans yang melihatnya dengan pandangan mengerikan. Sorot mata lelaki itu tampak aneh. Mata cekung dan hitam gelap Hans seakan mampu menatap ke dalam diri Rei. “Oh? Terkejut? Bukankah harusnya kau tidak terkejut? Ayolah, aku hanya memiliki satu kemampuan, tapi kau memiliki semuanya, Sense? Jangan membuatku senang dengan terus melihat ketakutan dalam pikiranmu, he-he ….” Seringai Hans semakin lebar. Lelaki itu sekarang terkekeh pelan. Tanpa sadar, Rei mengepalkan kedua tangannya, geram. Ia mencoba menenangkan dirinya dan memusatkan kemampuan killernya. Di dalam hatinya, sama sekali tak berniat untuk membunuh lelaki itu, tapi kalau memang keadaan mendesak, ia akan membunuh ingatan Hans. “Berniat membunuhku, Sense? Pikiranmu terlalu sibuk untuk memusatkan satu kemampuan. Ayolah, tunjukkan semua berkah yang kau punya, bukankah sekarang kau mengingat semuanya? Atau kau masih belum terbia—” “Berhenti bermain-main dengan pikiranku, Hans. Kalau kau hanya membaca seperti itu aku merasa seperti berhadapan dengan Runa, tidak lebih.” Dengan tatapan yang mulai serius, Rei memotong perkataan Hans. Kini, lelaki berambut acak-acakan itu tertawa terbahak. Tangan kanannya menutup wajahnya yang merunduk sambal terpingkal. Rei sama sekali tak mengerti apa yang lucu. Namun, ia tak mau memikirkannya. Lelaki di hadapannya itu sudah membuat Rei amat kesal. “Jangan bercanda, Hans. Ini tidak lucu bagiku. Kau melakukan teror ini untuk menemukanku, kan? Kau telah merenggut nyawa orang-orang yang tidak ada hubungannya, apa menurutmu itu lucu?” Suara Rei meninggi. Lelaki berkulit putih itu luar biasa kesal dengan sikap Hans yang seperti merasa tidak bersalah dengan apa yang ia lakukan. “Ha-Ha …, benar, ini sangat lucu bagiku, Sen—” “Berhenti memanggilku begitu! Aku punya nama, kau tahu?!” sergah Rei. Namun, tawa Hans semakin keras akan ucapan itu. “Ha-Ha …, ini lucu sekali, sang pemilik berkah sekarang sedang merendah, hah?!” Setelah mengucapkan hal itu, mendadak Sora membidik senapanya kea rah Rei. Sontak, lelaki bermata hitam itu tercekat. “Kak Sora, apa yang kau—” “Mari bermain denganku, Sense. Siapa yang paling cepat, peluru di senapan wanita bonekaku ini atau gerakan tanganmu yang akan menyentuhku dan membunuhku?” Hans menyeringai sambal menepuk-nepuk pundak Sora pelan. Tak lama kemudian, selongsong peluru menuju ke arah Rei. Lelaki yang sebelumnya membaca gerakan tangan Sora itu pun menghindar cepat. Tanpa menunggu tembakan kedua,, tubuhnya dengan gesit langsung berlari mendekati Hans. Namun, lagi-lagi tembakan Sora membabi buta ke arahya. Beruntung, senapan yang didesain untuk menembak jarak jauh itu tidak membidik dengan benar saat Rei semakin dekat. Kini, hanya beberapa langkah lagi, Rei mampu menyentuh Hans. Sayang, lelaki itu menjetikkan jarinya dan membuat Sora mengeluarkan pistol tangan dari sakunya. Wanita itu kini menghadap ke samping kiri tubuhnya, tempat Rei terkaku. Sora tidak membidik Rei dengan pistol itu, tapi ia menempelkan senjata it uke pelipisnya sendiri. “Bagaimana, Sense? Kau mau mati atau orang lain akan kembali menggantikanmu untuk mati?” Hans terkekeh tanpa memedulikan wajah Rei yang dibasahi peluh. Sial! Aku tidak mengira ia akan melakukan ini! “Permainan yang menyenangkan bukan? Jadi, kau mau membunuhku? Dan wanita ini akan terbunuh menggantikanmu. Ah, Sense kita tidak punya hati ternyata.” Tawa Hans semakin kencang. “Ha-ha, baiklah. Ini mulai menyebalkan, Hans. Kalau ini maumu, aku akan senang hati rela dibunuh olehmu, tapi dengan satu syarat.” Rei menatap tajam lelaki di hadapannya. Tawa Hans berhenti, ia menoleh dengan malas ke arah Rei. “Syarat?” ucapnya sambal menaikan sebelah alisnya. “Ya, kau harus menjawab pertanyaanku terlebih dahulu.” Kaki Rei dengan perlahan mencoba mendekati Sora sambal tetap memperhatikan Hans. Mendengar permintaan lelaki berbaju biru itu, Hans kembali tertawa. “He? Semacam kata-kata terakhir rupanya. Baiklah, akan kujawab dengan senang hati,” ucap leaki itu. Rei menghela napas berat. “Kenapa kau sangat membenciku?” Mendengar pertanyaan itu, amarah Hans tersulut. Lelaki berambut acak-acakan itu serta merta menarik kerah kemeja Rei. “Kau masih menanyakan hal bodoh itu, Bocah?! Apa kau tidak ingat, kehadiranmu yang membawa berkah adalah ancaman bagi kami. Harold sialan hanya menggunakan kami sebagai kelinci percobaan untuk membuat dirimu, kau tahu? HAH?!” Tatapan Rei berubah menjadi tenang saat mendengar luapan amarah Hans. “Kau merasa Ayah akan membuangmu, kan? Ah, bukan, kau takut semuanya akan membuangmu karena keberada—” BUAGH! Tinju Hans melayang ke perut Rei. Lelaki berkemeja biru itu pun terlempar dan tersungkur di lantai. Darah segar keluar dari ujung bibir Rei. Namun, sebuah senyuman tipis menghiasi wajahnya. “Kau tahu Hans? Kau sebenarnya membenciku untuk menutupi kekuranganmu, kan?” Lagi-lagi, tangan Hans mengarah kea rah Rei untuk meninjunya, tapi dengan sigap, Rei memegang lengan Hans. Dengan sedikit ilmu judo yang dia pelajari saat kuliah dulu, Rei mengangkat Hans dan membantingnya. Lelaki berambut acak-acakan itu terbatuk. “Membenci orang lain untuk menutupi kekuranganmu adalah perbuatan yang paling memalukan. Aku tidak menyangkan seorang thinker ternyata membenciku hanya karena takut kesepi—” belum sempat Rei menuntaskan perkataannya, selonsong peluru melesat di samping wajahnya. Ia pun segera menyadari Sora yang masih dalam pengaruh Hans. Lelaki bermantel coklat itu terkekeh, tapi pukulan Rei lagi mendarat di mukanya berkali-kali. Tiba-tiba, terdengar suara nyanyian di telinga Rei. Ia mengerang seketika. Tangannya terlepas dari tubuh Hans. Dengan menahan rasa sakit yang tiba-tiba mendera, Rei menutup telinganya. “Wah …, divaku sudah datang, kau pikir aku lah yang akan kesepian, Sense? Ha-ha, bagaimana kalau sebaliknya? Sekarang, kita tinggal menunggu pion-pionku membunuh orang-orang yang kau sayangi dan kau akan merasakan kesepian yang sebenarnya, Rei Harold!” Pekik suara gagak mulai memenuhi langit diiringi tawa Hans dan nyanyian aneh yang membuat Rei meringis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD