“Manusia tercipta untuk menciptakan jalur takdirnya sendiri.”—Katsuragi Odo. . . . “Benar, kan?” Odo melepas kacamatanya dan mengelap alat bantu melihat itu dengan lap kecil. Sosok lelaki berambut pirang di hadapannya kini menatap Odo lekat-lekat. Raut muka atlit yang masih memakai pakaian olahraganya itu tampak waspada. Namun, seakan tak memedulikan apa yang dipikirkan lelaki di hadapannya, Odo dengan seenaknya masuk ke dalam ruangan. Ia pun duduk di atas kursi yang terletak dekat ranjang perawatan sang atlit. “Hm? Sepertinya kau tak mau menjawab—” “Siapa kau? Kenapa bisa masuk ke sini! Aku akan panggil petugas, ah CCTV, di sana kau li—” Sang atlit yang memotong ucapan Odo belum selesai bicara saat dokter itu juga menyela ucapan lelaki itu. “Kau tak mau menjawab pertanyaanku terleb

