Part 8-- Serangan

1186 Words
--Hal yang paling menyakitkan adalah mengingat hal yang ingin dilupakan. . . . Moskow, 2042 Langit tampak cerah di ibu kota Rusia. Bintang-bintang tengah memamerkan cahayanya membuat malam semakin berwarna. Di depan gedung indah nan megah, sebuah teater kebanggan Rusia—Teater Bolshoi—seorang pria berkulit putih pucat berdiri. Kilauan air mancur membayangi wajahnya. Kemeja hitam dan celana semi jeans menampakkan lekuk tubuh atletis miliknya. Malam itu tak sedingin malam-malam lain di Moskow, jadi setelan sederhana itu mampu menghangatkan diri. Ia melihat sekilas jam tangan Alba miliknya, memastikan waktu yang telah berlalu. Tangan kanannya memegang sebuah buket bunga mawar kecil namun cukup indah dan tampak harum. Kepalanya menoleh kea rah pintu utama gedung sekali-kali, mencari orang yang ia tunggu. "Kau terlalu tampan memakai kemeja hitam, sayangku." Tiba-tiba seorang wanita bermantel bulu berwarna coklat memeluk si pria dari belakang. Gaun silver di dalam mantelnya menampakkan sedikit lekuk tubuh rampingnya. Si pria menoleh ke belakang, lantas membalikkan tubuhnya berhadapan dengan wanita itu. Ia memegang tangan wanita itu lembut. "Bagaimana pertunjukkannya?" "Hm? Membuatku kesal karena kau tak melihatku di panggung sana." Bibir merah wanita itu mengerucut. Hanya seulas senyuman hinggap di bibir si pria seakan menanggapi ekspresi marah wanitanya itu. Kini tangan kanannya diulurkan ke hadapan wanita. Buket bunga mawar nan indah membuat bola mata si wanita berbinar. "Untukku?" "Hem." Wanita itu kembali mengerecutkan bibirnya. Menahan kesal melihat ekspresi datar lelaki di hadapannya. Ia meraih tas tangannya, dan berlagak seakan ingin mengambil sesuatu dari dalam sana. "Apa aku harus membayarnya, Tuan Ravell Mirrium?" Mendengar lelucon dari wanita itu, si lelaki—Ravell— tertawa kecil. Tanpa aba-aba, tangan kirinya mengelus lembut pucuk kepala wanita itu. "Aku tahu kau akan marah karena aku tak melihat pertunjukanmu, jadi paling tidak terimalah bunga ini." "Salah. Aku marah karena kau selalu bersikap dingin padaku, seakan kau mau membunuhku!" Seketika elusan di pucuk kepala si wanita terhenti. Ravell menurunkan tangannya. Wajah si wanita langsung tampak terkejut. Lalu perasaan bersalah menaungi pikiran dan hatinya. "Tidak, bukan maksudku... yang tadi itu, kau tahu aku hanya bercanda kan, sayang?" "Tak apa, itu sudah biasa." "Ravell—" "Yang terpenting, anak itu, aku sudah mencarinya ke rumah utama, tapi dia tidak berada di sana." Raut wajah wanita di hadapan Ravel kembali berubah. Amarah yang memuncak membuat rona merah di paras cantiknya. Entah mengapa, perasaanya cepat sekali berubah-rubah setiap menghadapi pria yang selalu berada di hatinya itu. Tangan kanannya terangkat, seakan mengambil aba-aba untuk menampar Ravell, namun helaan nafasnya membuat ia kembali berpikir normal. "Bukankah sudah kubilang, kita kembali ke tempat sialan ini bukan untuk mencari siapapun, kau hanya cukup menemaniku berakting di pertunjukkan opera kan? Bukankah sudah kubilang, lupakan semua tentang mereka, tentang anak itu atau siapapun, aku hanya tak ingin melihatmu kembali terluka, aku tak mau semua kehidupan normal kita hilang begitu saja, apa kau belum juga mengerti keinginanku, Rivaille?!" Suara wanita itu meninggi. Bulir air mata mulai jatuh membasahi pipi mulusnya yang masih berhias blush on. Dia menahan isak tangis di antara nada suaranya yang semakin tinggi. Napasnya tak beraturan, membuatnya tampak kesulitan menahan emosinya sendiri. Ravell terpaku. Pria berwajah datar dan dingin itu memang lebih mirip penyihir es daripada pangeran berkuda putih. Ia bahkan tak perduli dengan ekspresi wanita di hadapannya yang tengah mati-matian menahan amarahnya. "Aku harus menemukan sense atau terror ini tak akan pernah berakhir." "RAVELL MIRRIUM! KAU—" Perkataan wanita itu tertahan di bibirnya yang terkatup seketika saat Ravell mendaratkan kecupan hangat di sana. Bibir mereka bersentuhan. Bola mata biru safire nan indah milik wanita itu membulat. Sedang kelopak mata Ravell tertutup rapat, seakan menikmati kehangatan dan rasa manis milik bibir wanita yang tengah ia nikmati. Seluruh saraf di tubuhnya seakan memberi perintah kepada otaknya untuk tak melepaskan bibir wanita itu. Napas mereka terengah saat bibir mereka terpisah sesaat dan kembali bersentuhan. Tangan kanan pria berwajah dingin itu memeluk punggung sang wanita erat, seakan takut wanita di hadapannya menghilang. "Ravell...," Wanita itu bergumam memanggil nama pria yang masih memeluk dan mengulum bibir merahnya. Ia tahu pria yang ia cintai setengah mati itu jarang sekali melakukan hal-hal berbau romantis atau menunjukkan kemesraan mereka, kecuali ada hal yang sangat ia takutkan. Saat kedua kali namanya digumamkan si wanita, Ravell menjauhkan bibirnya dari bibir si wanita yang kini berwajah merah panas, menahan malu dan tersipu, atau malah menahan segala kenikmatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. "Percayalah padaku, Elriena." Lidah wanita itu kelu, mulutnya terbungkam. Satu-satunya kalimat yang tak akan mampu ia bantah akhirnya diucapkan Ravell. Tangan kanan Ravell meraih tangan kanan wanita itu—Elriena, membawanya pergi meninggalkan taman depan Teater Bolshoi.  *** Kyoto, 2042 "Selamat datang." Seorang pramusaji menyapa saat Rei duduk di meja sebuah kafe. Beberapa menu dipilihnya dan pramusaji itu dengan sigap mencatat pesanannya lalu sesaat kemudia pergi untuk menyiapkannya. Rei menghela napas sambil menatap datar ke luar jendela. Semua pertanyaan tentang masa lalunya dan kenyataan sebenarnya tentang dirinya semakin menghantui dirinya. Beberapa saat kemudian, tatapannya beralih pada layar besar di tengah kafe, layar itu menampilkan sebuah prooyeksi tiga dimensi seorang wanita yang tengah bernyanyi. Tatapan Rei terpaku pada wanita tiga dimensi itu. Alunan nada indah mengalun dari bibir merah wanita itu. Beberapa orang di kafe yang juga menyaksikan proyeksi itu berbisik-bisik. "Illiana Grande? Wah, seorang diva memang berkarisma sekali ya." "Benar, kudengar dia meraih penghargaan Grammy Awards berkali-kali." "Jelas saja, suaranya benar-benar indah, seperti malaikat yang tengah bernyanyi dengan harpa saja." Ucapan-ucapan orang-orang di sekitarnya membuat Rei semakin memperhatikan wanita dalam proyeksi itu. Wajahnya menunjukkan seakan ia tengah menerka siapa wanita itu. Seakan ia pernah mengenalnya dan cukup familiar dengan wanita itu. Diva? Illiana Grande? Beberapa pertanyaan merasuki batin Rei. Namun saat ia tengah memikirkan jawaban-jawaban dari pertanyaan itu, wanita dalam proyeksi itu tersenyum, matanya mengarah pada Rei, seakan ia benar-benar menatap Rei. Entah mengapa, musik yang mengiringi suara wanita itu berubah. Bittersweet memories – That is all I'm taking with me. So good-bye. Please don't cry: We both know I'm not what you, you need (I Will Always Love You- Whitney Houston) Seketika Rei meringkuk. Tubuhnya bergetar hebat. Seakan ada sebuah pemicu yang memaksanya mengingat hal yang ingin ia lupakan. Tangan kanannya meremas rambutnya. Tak meredakan sakit yang menusuk di kepalanya, kini tangan kirinya ikut menekan kuat kepalanya. Beberapa orang di kafe itu melihatnya heran. "Tuan, anda tidak apa-apa?" Suara pramusaji itu terdengar samar di telinga Rei. Ia mencoba menutup matanya untuk menghentikan kengerian yang merasuki dan menggerogoti tubuhnya. "Kenapa dia?" "Kau mau pergi ke mana?" "Hai, sudah makan?" "Kalau jalan hati-hati!" "Tahu tidak, dia itu...." "Blablabla..." Suara-suara memenuhi indra pendengarannya. Rei berteriak. Ia semakin meringis saat membuka matanya. Bayangan-bayangan banyak benda dan manusia dapat dilihatnya, bukan hanya yang ada di hadapannya, tapi juga yang ia tak tahu ada di mana. Darah segar mengucur dari hidung Rei. Tangan kanannya menutupi matanya. Teriakannya semakin keras saat ia sekali lagi merasakan guncangan hebat di sekujur tubuhnya. Sakit tak terkira seakan tengah di rasakannya. "Sakit! Kepalaku serasa mau pecah!" Ia terus meringis kesakitan. Beberapa orang mendatanginya hendak menolong. Tangan Rei kembali menekan kepalanya. Sekarang suara-suara aneh memenuhi pikirannya. Ia tak tahu itu apa, hanya suara-suara yang terdengar samar namun bersahut-sahutan. "Orang gila, ya?" "Ah, sial, kenapa harus ada hal begini, mengganggu jam istirahatku saja" "Blablablabla...." "ARGH! SAKIT! Seseorang tolong aku, TOLONG—" "REI!" Dari arah pintu masuk kafe, Runa berlari menahan tubuh Rei yang limbung. Ia mencoba menyadarkan Rei, namun pandangan Rei mulai tidak fokus. Tatapan Rei lurus ke arah Yuuki yang juga datang bersama Runa. "Kau...brengsek... aku tidak membunuh ayahku, bukan aku, sial...." Sinar mata Rei meredup. Tubuhnya terjatuh, membuat Runa berusaha menahannya. Ia tak sadarkan diri. Orang-orang pun mulai mengerumuninya, membuat kafe itu tampak ramai sekali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD