Tak ada yang tahu hati manusia, kecuali dirinya sendiri dan Tuhan.
.
.
.
Udara terasa lebih lembap dari kemarin. Rei menatap kosong ke luar jendela ruang rawatnya. Entah apa yang ia pikirkan, namun raut kesedihan tampak jelas di wajah pucat itu. Sudah lewat seminggu dari hari terakhir Detektif Ishirou mengunjungi pemuda itu di rumah sakit, dan selama itu pula kabar penyelidikan kasus si pembunuh berantai tak sampai pada Rei. Tak pernah.
Rei menghela napas berat. Kemarin dokter sudah mengizinkannya pulang dan melakukan rawat jalan di rumah. Bagi lelaki itu sebuah keajaiban ia dapat mengkondisikan dirinya dengan cepat. Usaha memang tidak akan mengkhianati hasil. Dengan tekad untuk mencari dalang di balik teror itu, ia terus berusaha mengkondisikan tubuhnya meski harus merasakan sakit yang parah di kepalanya.
Saat Rei masih menatap kaku ke luar jendela, Yuuki masuk ke dalam ruangan. Tangan pria berkacamata itu membawa sebuah plastik putih berisi penuh makanan. Rei tidak suka makanan rumah sakit, dan Yuuki paham kondisi adik angkatnya itu. Lelaki itu tersenyum lega saat melihat Rei terpaku pada jendela. Bahkan kedatangan Yuuki tidak mempengaruhi lamunan Rei.
"Ada hal yang menarik?" Tanya Yuuki menghancurkan kesunyian. Rei menoleh sekilas sebelum akhirnya kembali menatap kosong ke jendela. Melanjutkan lamunan kesedihan dan kegelisahannya.
"Kalau kau mau kita akan pulang hari ini dan mulai pencarian orang itu."
Ucapan Yuuki diserap dalam-dalam oleh Rei. Lelaki itu tahu apa yang harus ia lakukan meski Yuuki tak memberitahunya sekali pun. Ia kembali menghela napas berat sebelum akhirnya bersedia membuka mulut.
"Apa Yui akan membantu?"
"Tentu."
"Di mana dia?"
"Entah, mungkin sebentar lagi datang. Kenapa kau tidak mandi dulu sebelum kita pulang jadi aku tak perlu mencium bau badanmu."
Rei mendelik. Dengan tatapan jengkel melihat Yuuki, yang ditatap malah tertawa kecil.
"Kau masih bisa bercanda di saat seperti ini?"
"Aku tidak bercanda, aku serius tak mau mencium bau badanmu. Lagipula berhentilah memikirkan hal di luar jangkauanmu. Jangan merasa kalau hanya kau yang terbebani. Aku, Runa, Yui, dan saudara kita yang tahu teror ini pasti juga merasa terbebani."
Tatapan Rei sekarang beralih ke selimut putih yang menutup sebagian badannya. Kebenaran tentang kemampuan lelaki itu telah terkuak, dan itu malah menjadi beban berat. Pikiran dan tubuh putra Dokter Harold itu seakan masih menolak keadaanya sendiri, tapi ia harus terus melangkah. Tidak, malah ia harus menyelesaikan segala yang telah terjadi, karena ialah kunci dari pintu riset ayahnya.
Beberapa menit kemudian, obrolan dua orang pria itu disela dengan kehadiran Yui. Gadis kecil itu dengan riang berlari ke arah Rei. Dengan tergopoh, wanita dewasa di belakangnya mengikuti.
"Kak Rei, Kak Rei, kudengar kau sudah bisa pulang?"
"Hm. Apa kau sedang mencoba mengasihaniku, Yui?"
Seketika gadis kecil itu merengut. Ia tahu walau kondisi Rei belum sepenuhnya seimbang, kemampuan milik pemuda itu tetap dapat digunakan maksimal, meski masih menyakiti Rei.
"Tidak. Aku akan membantumu mengetahui lebih detail tentang kemampuan sempurnamu."
Kedua mata Rei terbelalak. Sorot mata pria berwajah asia itu menajam. Dadanya terasa sesak sesaat, namun helaan napas membuat ia kembali tenang. Yuuki yang masih berdiri di samping ranjang Rei tak kalah terkejut.
"Apa maksudmu? Apa Aku bisa menstabilkan kondisi tubuhku ini?" tanya Rei penasaran.
"Tepat. Jika nii-san ingin mengalahkan 'orang itu', nii-san harus bisa menstabilkan dan memaksimalkan kemampuan sempurna dalam diri nii-san, dan aku tahu caranya."
Sepasang bola mata gadis itu berbinar. Ia telah menantikan lama saat ia kembali bisa memanggil Rei dengan panggilan 'nii-san'. Lama sekali.
"Bagaiman caranya?"
"Kita harus kembali ke rumah lama Dokter di Moskow dan menemukan buku harian penelitiannya."
Seorang lelaki buta masuk ke ruang rawat Rei dan menyela obrolan mereka. Sebuah earphone biru laut terpasang lekat dengan telinganya. Yui menatap lelaki itu senang. Sedangkan raut wajah Rei berubah geram.
"Kau!"
"Rei-nii tenanglah, Hear-nii ada di pihak kita!"
Tangan kecil Yui menahan tubuh Rei yang hendak turun dari ranjangnya. Senyum penuh harap milik gadis itu meruntuhkan kemarahan Rei. Yuuki dan wanita yang bersama Yui bergeming, seakan mereka tahu siapa lelaki buta itu.
"Kudengar singer telah memaksa ingatanmu kembali, jadi seharusnya kau sudah mengingatku bukan, Rei?"
Hear–lelaki buta itu– melepas earphonenya. Seulas senyum menghias bibir pemuda itu. Rei mendengus kesal. Ingatan tentang si buta itu memang sudah kembali, dan ia tahu siapa dia, tapi perlakuannya saat terkahir kali mereka bertemu membuat amarahnya sulit untuk surut.
"Kau berada di pihak 'orang itu', kan? Lalu untuk apa kau ke sini? Menjebak kami, hah?!"
Pertanyaan dingin dengan nada tinggi itu tidak menghapus senyum di bibir Hear. Lelaki yang bisa mendengar suara apapun itu malah tertawa kecil.
"Jika kau masih menerka kedatanganku ke sini berarti kemampuanmu belum bisa dikendalikan sepenuhnya, ya? Jadi akan sangat berbahaya jika aku langsung mengantarkanmu pada 'orang itu', Rei."
"Kau tahu siapa dia?"
Lelaki buta itu terdiam sesaat lalu mengangguk.
"Aku tahu monster seperti apa dia, karena itu aku berusaha keras melepaskan diriku sendiri meski mengorbankan anak itu ...,"
Kalimat Hear tertahan. Ia menghela napas pelan. Agar emosinya tidak dirasakan Yui, ia harus menenangkan diri.
"Karena itu, kau harus menjadi lebih kuat dan mempu mengendalikan kemampuan kesepuluh indramu atau kau tidak akan pernah mampu menyeret 'orang itu' ke penjara."
"Rei, Hear tidak pernah berbohong, kau tahu jelas hal itu."
Yuuki ikut meyakinkan Rei. Sekarang semua keputusan ada Rei. Sang Sense, anak yang sempurna, yang mampu menggunakan kesepuluh kemampuang saudaranya yang lain.
"Baiklah. Kita berangkat ke Moskow besok pagi. Tapi sebelumnya, Yuuki, apa kau sudah bisa menghubungi Runa?"
Yuuki menggeleng.
"Nihil."
***
Sebuah kereta ekspres membawa serta Runa di dalam gerbongnya. Gadis itu menatap sendu pepohonan yang daunnya mulai berguguran lewat jendela kereta. Perasaanya campur aduk. Rasa kecewa pada Rei yang begitu saja mempercayai Yui yang tak pernah datang sebelumnya membuat ia kesal setengah mati.
Cemburu memang membuat orang semakin tidak percaya diri. Malah sebelum Yui datang, gadis itu sudah tidak percaya diri akan cintanya pada Rei.
Jangan baca pikiranku!
Teringat jelas perintah Rei saat pertama ingatannya kembali. Ya, mungkin bagi Rei dia hanyalah gadis mengesalkan yang mampu membaca pikiran orang lain. Bukankah pikiran orang itu adalah privasi, dan Runa merasa ucapan Rei saat itu seakan menempatkannya sebagai kriminal yang membuka privasi orang.
Kini, ia tak tahu harus kemana. Satu-satunya yang ia pikirkan adalah menjauh sementara dari Rei dan menenangkan diri. Cinta membuat gadis itu lupa akan masalah yang tengah terjadi.
"Berjalan-jalan sendiri, Reader? Kau kecewa pada Sang Sense? Aku juga. Bukankah dia memperlakukanmu seperti itu karena keangkuhannya akan kemampuan sempurna? Ah, untuk apa kau mencintai orang seperti Rei, Reader, ah, bukan, Haruna Hatsu?"
Runa terkesiap. Ia mendengar suara yang tak asing, tapi bukan dari pendengarannya, seakan orang itu berbicara dalam pikirannya. Gadis itu menoleh ke kanan dan kiri. Tak ada siapapun yang mencurigakan, hanya gerbong-gerbong yang terisi penuh dengan penumpang biasa dan beberapa robot penjaga.
"Kau mencariku? Tidak, tidak, kau tidak akan menemukanku jika tak pergi ke sini, ke tempatku, di Shibuya, Tokyo. Aku menunggumu, Haruna Hatsu."
Suara itu berhenti. Jantung Runa berdegup kencang. Beberapa saat kemudian ia turun dari kereta di sebuah stasiun dan mengubah rute perjalanannya.