Manusia tak bisa merubah ciptaan Tuhan, tapi manusia memiliki kekuatan untuk merubah takdir.
.
.
.
Rei melihat beberapa ruangan dalam rumah utama masih tertata rapi. Dinding-dinding berlatar belakang vektor biru yang amat ia sukai dulu pun tak ada yang mengelupas. Satu persatu langkahnya diikuti dengan perasaan bahagia dalam hatinya. Yuuki yang melihat Rei terkadang tersenyum tipis. Lelaki itu akhirnya melihat dan tak menyesali telah membawa Rei kembali ke rumah utama.
Wangi lavender dalam rumah itu terasa pekat. Beberapa kali Rei menanyakan kebsradaan bunga itu pada sang penjaga, tapi mereka pun tak tahu. Aneh pikirnya. Jika ada wangi lavender yang sepekat ini, pastilah ada banyak tangkai lavender yang ada di halaman atau dalam rumah.
"Rei, aku akan mencari sesuatu di lantai atas, kau coba pergi ke perpustakaan atau laboratorium milik ayah."
Ucapan Yuuki hanya dibalas anggukan. Setelahnya, mereka berdua berpisah dan memulai pencarian. Ya. Pasti ada sesuatu yang mampu menjawab asal muasal kelahiran anak-anak seperti mereka. Penjaga yang tadinya membersamai dua pemuda itu dengan berat hati mengizinkan. Pasalnya sudah sejak masuk tadi ia merasa tertekan dengan aura Rei dan Yuuki. Mereka pasti tidak akan menerima jika penjaga itu melarang. Penjaga itu pun tahu, penolakan mereka pastilah akan diikuti dengan kemampuan tidak logis milik mereka. Ah, tidak terbayang di benak penjaga itu jika tiba-tiba waktunya berhenti atau takdirnya ditulis ulang oleh Yuuki, sang penulis. Bisa jadi lebih parah, dipaksa melakukan hal tanpa ia sadari karena pikirannya telah dirasuki Rei, sang Sense yang mampu melakukan semua kemampuan. Mengingat pikirannya baru saja dirasuki saat ia membuka gerbang tadi, ia semakin takut untuk melarang mereka.
Kini, Rei telah sampai di perpustakaan ayahnya. Langkah pemuda itu jadi lebih ringan saat si penjaga pergi. Memang seharusnya dari awal masuk ia suruh saja para penjaga itu tidak mengikuti. Toh, ia hafal semua seluk beluk rumah ini.
Seperti dugaan Rei, perpustakaan ayahnya rapi dan terawat. Buku-buku yang dulu sempat ia baca masih berderet di rak. Wangi kertas lusuh memang tercium di beberapa sudut, namun tak ada bau debuIa yang menyesakkan. Semuanya tampak rapi dan bersih. Syukurlah, pikir Rei. Ia amat merindukan tempat ini.
Senyum tipis terukir di bibir merah pemuda itu. Beberapa lama kemudian, tangan dan matanya sudah asyik mengambil dan membaca beberapa buku di rak. Ia memulai pencariannya dari sudut buku-buku kedokteran. Beberapa buku mengenai teknik CRISPR berjajar di sana.
Dahi Rei mengkerut. Pemuda bermata coklat itu perlu berpikir keras untuk mencerna buku-buku tersebut. Meski ia termasuk mahasiswa jenius di kelasnya, tapi menemukan petunjuk dalam sebuah buku bukanlah hal yang mudah baginya.
CRISPR adalah sebuah teknik untuk memodifikasi DNA sebagai cara mengurangi resiko penyakit turunan.
"Mengurangi resiko penyakit, kan. Lalu bagaimana bisa teknik ini membuat kemampuan super dalam DNA kami?"
Sambil terus membuka lembar demi lembar, Rei mengulang penjelasan mengenai CRISPR dalam buku-buku yang pernah ia baca. Saat sedang ingin mengembalikan buku itu, bola mata Rei menangkap sesuatu. Di antara beberapa deret dari buku-buku tentang CRISPR ada buku yang terselip. Punggung buku itu berwarna biru langit. Covernya tampak terbuat dari kulit sintetis.
Bola mata Rei tampak membesar. Petunjuk yang ia cari akhirnya muncul juga. Jantungnya berdetak cepat. Hampir saja ia ingin menahan helaan dari mulutnya, namun ia tahan. Butuh kesadaran dan ketenangan untuk siap melihat apa isi buku itu.
Prof. dr. Rajua Harold. B.Sc. M.D. D.P.H
Terpampang jelas sebuah nama di sampul depan buku itu. Nama yang amat dikenal oleh pemuda yang kini bernapas menderu. Rei menghela napas berat. Tangannya dengan ragu mengusap sampul buku itu. Bersamaan dengan usapan tangannya, sekeliling pemuda itu berubah.
Dinding-dinding perpustakaan berubah menjadi sebuah ruangan putih penuh dengan alat-alat kimia. Beberapa orang berjas putih tengah berkerumun sambil berdiskusi mengitari meja bulat di depan Rei. Pemuda itu bergidik. Kemampuan "membaca" lah yang sekarang sedang diaktifkan di saraf-saraf otak lelaki berparas tampan itu.
Rei dengan jelas melihat semua yang ada di hadapannya. Orang-orang yang semakin ribut, cairan-cairan kimia dalam gelas kaca, mikroskop dan alat-alat kedokteran serta beberapa kandang hewan berisi tikus putih atau kucing semuanya dapat ia lihat. Namun tidak sebaliknya, mereka yang bisa dilihat Rei tidak akan bisa melihat Rei. Semua yang bisa dilihat Rei hanya rekaman dari dalam buku itu, dan detak jantung pemuda berjaket abu itu semakin cepat.
"Harold, kau tidak bisa melanjutkan penelitian ini! Penelitian ini tidak akan pernah berhasil!" seorang pria berkumis tipis meneriaki seorang lelaki yang amat dikenal Rei-- ayahnya, Profesor Harold.
Lelaki berkumis tipis itu menekan sudut kepala kirinya dengan tangan. Profesor Harold tetap bergeming. Lelaki yang dikenal Rei selalu tenang itu melepas kacamatanya. Tangan Harold menekan tulang hidung yang mungkin pegal. Beberapa saat kemudian, mata lelaki itu menatap lurus ke arah pria berkumis tipis.
"Aku akan mencoba mencari tekniknya lagi. Pasti ada cara untuk membuatnya berhasil."
Setelah mengatakan hal yang membuat rekan-rekannya kesal, ayah Rei pergi meninggalkan ruangan itu. Sekeliling Rei pun ikut berubah mengikuti ayahnya.
Kini yang dilihat Rei adalah sebuah tempat yang mirip rumah sakit. Seorang dokter wanita tengah berbincang dengan Harold dan wanita yang belum pernah dilihat Rei. Namun, tanpa sadar, air menetes di sudut mata Rei. Ia menyekanya dengan perasaan yang aneh. Melihat wanita yang berada di sebelah ayahnya enatah kenapa membuat ia ingin berteriak dan menangis. Rei kembali menghela napas dan memperhatikan situasi di depannya.
"Maafkan aku, Harold, Risanna. Aku dan yang lain sudah amat berusaha untuk menemukan penyakitnya, tapi kami tidak berhasil."
Mendengar ucapan itu, Harold semakin erat menggenggam tangan wanita di sebelahnya.
"Apa tidak ada lagi yang bisa kita lakukan itu membuatnya tetap hidup, Dokter Viyanka?"
Hanya gelengan kepala dari Dokter Viyanka yang menjawab pertanyaan Harold. Lelaki itu memejamkan mata sesaat.
"Berapa lama lagi waktu kami untuk bisa bersamanya, Viyanka?"
Kini giliran Risanna--wanita di sebelah Harold-- yang mengajukan pertanyaan.
"Sekitar lima hari, lewat dari itu, aku tidak bisa memastikan organ dalamnya berfungsi dengan baik."
Seulas senyum menghiasi wajah Risanna yang tampak pucat.
"Bolehkah kami membawanya pulang dan menghabiskan lima hari kami bersamanya di rumah. Aku.... akan sulit menyusui dan menatap wajah mungilnya jika ia terus berada di inkubator."
Meski tampak ragu, Dokter Viyanka mengiyakan.
Sekeliling Rei kembali berubah. Kini ia melihat Harold dan Risanna mengambil seorang bayi dalam inkibator. Risanna mengelus lembut pipi bayi itu. Senyum dan air mata saling bercampur di wajahnya.
Dada Rei terasa sesak, tapi lagi-lagi penglihatannya berubah. Hari-hari Harold, Risanna serta bayi itu bergulir di hadapan Rei, namun itu tak lama. Setelah lima kali, pemandangan-pemandangan indah tentang keluarga bahagia itu sirna. Kecupan kasih sayang, senyum dan tawa serta alunan nyanyian pengantar tidur berhenti. Rei kini memandang hal yang tak pernah ia tahu. Semua pemandangan indah penuh kasih berubah menjadi sebuah makam yang ditangisi oleh Harold dan Risanna.