Terpojok dan ditodong pistol bukanlah hal baru untuk Nadia, bahkan sebenarnya ia telah mengalami kejadian yang lebih buruk dari itu. Tetapi meski sudah berkali-kali sampai seperti sebuah rutinitas di kala kondisi tidak stabil, Nadia tetap tidak pernah bisa merasa terbiasa ketika berada di situasi yang sama. Nadia tetap merasakan bagaimana jantungnya berdetak degan cepat, keringat dingin menguncur deras di seluruh tubuhnya, dan yang jelas rasa takut yang luar biasa. Nadia sudah berkali-kali mengatakan bahwa ia belum mau mati. Ada banyak hal yang harus ia lakukan. Mungkin sebagian besar rasa takutnya adalah karena ia tidak mau mati. Terlebih, mati di tangan musuh dan dalam keadaan yang mengenaskan pula. Suatu hari jika Nadia memang harus mati, ia ingin kematian yang damai. Semisalnya, mati k

