Tidak ada bunyi apa pun selain dengung lampu dan napas mereka. Maxim akhirnya yang lebih dulu bergerak bukan menjauh sepenuhnya, hanya cukup untuk memberi ruang yang berbahaya. Tangannya masih menggantung di udara sejenak sebelum benar-benar turun, seolah ragu melepaskan sesuatu yang baru saja ia pegang terlalu lama. Gwen masih berdiri di tempatnya. Dadanya naik turun perlahan, tapi jantungnya menolak ikut tenang. “Kau terlalu dekat!!” katanya pelan. Bukan keluhan. Bukan peringatan. Maxim menatapnya lurus. “Kau tidak mundur.” Itu membuat Gwen terdiam. Ia menurunkan pistol, meletakkannya di meja dengan gerakan hati-hati. Logam itu berbunyi pelan saat menyentuh permukaan suara kecil yang terasa terlalu keras di ruang sempit itu. “Aku belajar,” ucap Gwen akhirnya. “Bukan hanya soal men

