Beberapa bulan kemudian, waktu berjalan lebih lambat dari yang Gwen kira. Kehamilannya kini menginjak tujuh bulan. Perutnya membulat sempurna, terasa berat namun menenangkan sebuah pengingat bahwa hidup terus tumbuh di dalam dirinya, meski dunia di luar masih penuh bayang-bayang. Apartemen yang dulu terasa aman perlahan berubah menjadi ruang sempit yang menyesakkan. Setiap sudutnya menyimpan keheningan yang sama. Pagi itu, cahaya matahari hangat menembus jendela apartemen, menerangi dapur kecil tempat Gwen dan Maxim sarapan. Aroma kopi dan roti panggang memenuhi ruangan, menciptakan kehangatan yang tenang. Maxim menuangkan kopi ke cangkirnya, mengambil roti panggang, lalu duduk di seberang Gwen. Mereka makan dalam diam nyaman, sesekali tersenyum pada satu sama lain tanpa perlu kata-kata

