Perempuan itu berhenti beberapa langkah di hadapan Gwen. Tatapannya lembut namun menelusuk, seolah membaca lebih dari sekadar wajah lelah di depannya. “Kau Gwen?” tanyanya. Gwen refleks menunduk sopan. “Iya, Nyonya.” Suaranya serak karena haus dan kelelahan. “Maaf jika pekerjaan saya belum rapi.” Perempuan itu tersenyum senyum yang hangat, berbeda dari senyum Tuan Fedro yang penuh perhitungan. “Aku Nyonya Fedro,” katanya. “Dan aku tidak datang untuk menilai hasil kerjamu!!!” Mata Gwen membesar sesaat, lalu ia kembali menunduk, gugup. “Maaf, Nyonya. Saya tidak tahu ...” “Tak apa,” potong Nyonya Fedro lembut. Ia mengulurkan keranjang kecil itu. “Kau sudah bekerja sejak pagi. Makanlah sebentar.” Gwen ragu. Tangannya kotor oleh tanah, tubuhnya penuh keringat. “Saya, … tidak ingin melangg

