Keesokan paginya, halaman rumah tuan Fedro romano terasa lebih ramai dari biasanya. Sebuah mobil hitam dengan lambang keluarga Romano terparkir rapi di depan pagar kayu. Bukan kemewahan yang mencolok, tapi cukup untuk menandai bahwa sebuah babak baru akan dimulai. Lucas berdiri di tengah halaman, memegang tas kecilnya dengan kedua tangan. Wajahnya cerah, tapi matanya terus melirik ke arah Kakek Paul dan Nenek Berta, seolah takut jika menatap terlalu lama, ia akan menangis. “Apa di kota ada kebun?” tanyanya pada Gwen, setengah berbisik. Gwen berlutut di hadapannya, merapikan kerah bajunya. “Ada taman besar!!” jawabnya lembut. “Dan kita bisa menanam apa pun di sana.” Lucas mengangguk, tapi pelukannya pada kaki Gwen mengerat. Kakek Paul berdeham, mencoba menyembunyikan suaranya yang sera

