Saat melintasi jalan ke arah rumahnya, Malea sempat mampir ke sebuah mini market. Saat keluar, Malea dikejutkan oleh sesuatu.
" Loh.... itukaaaaan...."
" O... ternyata mereka orang-orang yang tidak punya pikiran ituuu.... " Gumam Malea saat melihat satu - satunya mobil yang terparkir di depan cafe terdekat dengan kampus.
Ada senyum merekah di bibir Malea seraya mengangguk - angguk kan kepalanya dan berlalu pergi. Tapi saat Malea sudah dekat dengan mobil yang membuat air kotor menghiasi bajunya dia nampak sedikit menunduk. Entah apa yang di perbuatnya, tak lama dari itu ia segera berjalan menuju tempat tinggalnya.
Wajah Malea berseri - seri, ada nada lagu yang keluar dari bibirnya samar - samar. Sedikit berjingkat kakinya saat berjalan layaknya sedang sangat bahagia.
Sementara itu di cafe di depan mini market, keluarlah empat orang cowok yang merupakan geng pria - pria terpopuler di kampus. Mereka memasuki mobil yang terparkir di depan cafe itu.
Saat akan melajukan mobilnya, Rafa merasa ada yang aneh dengan mobilnya. Rafa menghentikan mobilnya di tepi trotoar dan turun untuk melihat apa yang terjadi.
" Shiitt....." Umpat Rafa seraya menendang ban mobilnya, hingga membuat teman - teman nya pun ikut ke luar.
" Ada apa Rafa?" Tanya Nico.
Tak mendapat jawaban dari Rafa, Nico menoleh ke arah ban mobil yang mereka naiki.
" Bukan nya tadi tidak apa - apa?" Kata Reza sambil menempelkan hape ke telingganya.
" Bawa tekhnisi ke kafe dekat kampus sekarang..." Titah Reza pada salah satu asisten rumah tangga keluarganya yang bekerja sebagai driver.
Mereka berempat duduk di tepi trotoar sambil menunggu tekhnisi yang di pesan Reza datang. Padahal hanya ban nya saja yang kempes. Mereka harusnya bisa mengganti sendiri......
Sementara itu, Malea telah tiba di rumah.
" Siang non , ceria sekali,,,," sapa paman Ifan yang menyaksikan keriangan Malea.
" Siang juga paman...."
Senyum ceria menghiasi wajah Malea siang ini, seraya masuk ke dalam rumah.
" Hi....hi...hi.....mereka pasti sedang uring - uringan jika tahu ban mobil mereka kempes...... hi....hi..." Ucap Malea membayangkan wajah Rafa dan teman - teman nya sambil menutup pintu kamarnya.
Malea merebahkan badan nya di atas tempat tidurnya. Dia merasa lega sudah membalas perbuatan para pria yang disebutnya tidak punya otak itu. Tak lama berselang, Malea mendengar paman Ifan memanggil nya untuk makan siang.
" Tok.... tok...tok...."
" Non makan siang sudah di siapkan bik Siti..."
" Nanti saja paman aku ngantuk mau tidur dulu..."
Hari ini adalah hari yang melelahkan bagi Malea. Profesor, kursi yang di tempeli permen karet, geng para pernguasa, belum lagi bajunya yang telah kotor.
" Fiuh.... menyebalkan sekali..." Gumam Malea yang matanya mulai menyipit dan akhirnya tenggelam dalam lautan mimpi - mimpi nya.
Kembali ke kumpulan para cowok keren, siapa lagi kalau bukan Rafa dan teman - teman nya. Mereka sedang berkumpul di rumah Reza. Mobil Rafa yang tadi di tinggalnya juga sudah di bawa oleh driver keluarga Reza.
Mereka nampak asyik berkumpul di ruang tengah rumah Reza. Keluarga Reza adalah keluarga pembisnis. Ayah dan ibunya jarang sekali ada di rumah.
" Rafa..... kenapa kamu melamun? " Sapa Nico yang sedang asyik dengan gadget nya namun saat melihat teman nya hanya diam dan seperti ada yang difikirkan, dia menjadi penasaran.
" Eh..... kalian ngerasa aneh ngak sih.... perasaan mobil aku tadi ngak kenapa - napa.... tapi kok bisa kempes ya...." Kata Rafa menegak kan duduknya yang tadi merebahkan punggungnya di kursi.
" Ya bisa aja gengs... secara kita kan ngak tahu kalau ada sesuatu di jalan yang bisa bikin mobil Rafa kempes..." Sahut Aldi yang masih fokus dengan layar televisi di depan nya.
" Tapi pas aku tadi tanya sama supirnya Reza... dia bilang mobilnya ngak kena paku atau sejenisnya ... yang bisa bikin mobil aku kempes guys.... " Balas Rafa.
Mereka nampak berfikir sejenak hingga Aldi mengatakan sesuatu. " Kenapa kita ngak ngecek cctv di jalan deket kampus.....bukan nya di sudut luar kampus ada cctv nya..."
" Otak lu encer juga Di," sahut Reza sambil tertawa.
" Ha...ha...ha... Aldi...." Ucap Aldi dengan bangganya sambil menepuk dadanya sendiri.
" Ya udah nanti aku minta asisten ayah ku untuk meminta salinan rekaman cctv kampus..."
Obrolan mereka berganti ke yang lain setelah mereka fikir masalah ban mobil Rafa yang kempes sudah di temukan jalan keluarnya.
Keesokan harinya.
" Non.... kenapa lari - lari, sarapan nya belum di makan..." Kata bik Siti melihat Malea yang terburu - buru sambil berlari keluar dari rumah.
" Nanti saja bik aku sarapan di kampus... udah telat..." Jawab Malea dengan mulutnya yang masih penuh dengan sandwich yang tadi dia ambil di atas meja makan.
Sekarang sudah pukul 08.10, Malea berlari kecil pergi ke kampus karena pagi ini dia ada kuliah beberapa materi manajemen. Malea teringat perkataan Sifa padanya sebelum pulang jika dosen manajemen itu orangnya killer banget.
" O...ya Lea, besok jangan terlambat ya, dosen manajemen itu killer banget orangnya, kita bisa di hukum kalau sampai terlambat," ucap Sifa sesaat sebelum memasuki taxinya kemaren.
" Tttiiiiiiiinnnnnn......."
Suara klakson mobil mengagetkan Malea dari lamunan nya.
" Siapa sih... reseh banget ni orang... kayak nfak ada jalan yang lain aja," gerutu Malea sambil memutar tubuhnya kebelakang, melihat siapa gerangan yang sepagi ini sudah membuat moodnya jadi rusak.
" Ups.... itu mobil yang aku kempesin kemaren, mati aku...." Gumam Malea dalam batin nya.
Benar saja, Rafa dan teman - teman nya keluar dari dalam mobil itu mendekati Malea. Wajah mereka nampak sangat mengerikan dan tiba - tiba suasana menjadi sangat menakutkan di sekitaran Malea seperti di kelilingi para hantu penghisap darah manusia.
Malea berjalan mundur saat Rafa dan para anggota geng mendekatinya. Malea hanya diam sambil terus berfikir bagaiman caranya bisa kabur dari sana.
" Cling...." Tiba - tiba Malea mendapatkan ide.
" Pak profesor..... " pekik Malea sambil melihat ke arah belakang Rafa dan teman - teman nya seakan melihat seseorang.
Dengan cepat Malea segera mengambil langkah seribu menuju gedung kuliahnya, saat Rafa and the genk sedang menoleh ke belakang. Sambil memeganggi kacamatanya yang hampir jatuh, Malea terus berlari tanpa menoleh kebelakang. Malea berhenti dan menoleh kebelakang saat tiba di anak tangga menuju ke ruang kuliahnya.
" Hah.... hah.... hah..... akhirnya aku selamat...." Ucap Malea terengah - engah.
" Selamat dari apa......?"
" Deg.... "