Bab 2 Bintang Yang Cemerlang

726 Words
"Apa kamu serius?" Suara Justin terdengar dingin dan sarat emosi. Sambil menghela nafas panjang, Cecilia menjawab, "Ya. Aku ingin bercerai, dan aku tidak ingin satu sen pun darimu." Justin mendengus dengan nada menghina. "Apakah ini trik barumu?" "Jika kamu punya waktu, kita akan pergi ke pengadilan perdata besok pagi. Aku..." Justin dengan kasar menutup teleponnya, membuat Cecilia tidak punya kesempatan untuk menyelesaikan kata-katanya. Melihat wajah Justin yang cemberut, Erin bersandar di bahunya, bertanya dengan prihatin, “Apa yang terjadi, Justin?” Justin menggelengkan kepala, lalu mengambil gelas minumannya lagi. Dia tidak percaya Cecilia benar-benar akan menceraikannya. Wanita itu tidak memiliki latar belakang keluarga yang mapan dan tidak memiliki keterampilan untuk mencari nafkah. Cecilia tidak akan bisa hidup tanpanya. Justin yakin ini pasti hanyalah tipuan Cecilia untuk menarik perhatiannya, dan cepat atau lambat wanita itu akan kembali untuk memohon padanya. Keesokan harinya, di pintu masuk pengadilan sipil. Cecilia sudah lama menunggu ketika akhirnya Justin tiba. Dia turun dari limusinnya. Pesonanya bak seorang bangsawan dan parasnya yang sangat tampan menarik perhatian banyak orang. Dia berjalan mendekat, menatap Cecilia secara agresif dengan mata dingin dan tajam. "Apa yang kamu inginkan?" "Sebuah perceraian." Cecilia menatap matanya dan menjawab dengan suara tenang, tidak ingin menjelaskan lebih jauh. Saat mereka masuk ke pengadilan, staf sudah menunggu. Mereka menyelesaikan prosedur dengan cepat dan segera mencapai langkah terakhir penandatanganan nama mereka. Cecilia hanya melihat sekilas isinya sebelum menandatanganinya tanpa ragu, lalu memberikan kertas itu kepada Justin. Tindakan tegasnya menimbulkan perasaan tidak nyaman dalam diri Justin. Dia merasa bahwa wanita ini tiba-tiba menjadi asing baginya. Cecilia dulu sangat bergantung padanya, tapi sekarang, dia berani menceraikannya. Cecilia mendorong kertas itu sedikit ke arah Justin, bertanya dengan nada acuh tak acuh, “Tunggu apa lagi?” Justin mencibir tetapi tidak menandatangani kertas tersebut. Dia memperingatkan Cecilia, "Kamu akan kehilangan semua yang kamu miliki. Apa kamu yakin, Nyonya Wijayakusuma?" Cecilia menatap matanya yang dalam, lalu menjawab, “Ya, seratus persen yakin.” Mereka kemudian mengajukan permohonan cerai. Hakim menyuruh mereka menunggu selama tiga bulan untuk mendapatkan putusan. Selama periode tersebut, mereka dapat mencabut permohonan cerai itu kapan saja jika mereka menyesalinya. Mendengar ucapan sang hakim, Cecilia berkata, "Saya tidak akan menyesalinya." Wajah Justin menjadi gelap saat dia menatap Cecilia untuk mengamati wanita itu. Apa yang Cecilia lakukan hari ini memang mengejutkan Justin. Dia tampak sangat ingin menyingkirkan Justin. Karena itulah perasaan Justin jadi campur aduk. Dia berkata kepada hakim, "Dia tidak akan punya kesempatan lagi untuk mundur." Justin kemudian melangkah keluar dari aula. Cecilia menyusulnya. "Baiklah, Bapak Wijayakusuma, sampai jumpa tiga bulan lagi..." Cecilia bahkan belum sempat menyelesaikan ucapan terakhirnya ketika Justin sudah masuk ke dalam mobil dan membanting pintunya. Mobil itu melaju pergi, meninggalkan Cecilia. Cecilia hanya bisa menggelengkan kepala. Memang benar, Justin sama sekali bukan seorang pria sejati. Dia masih jahat padanya bahkan setelah mereka bercerai. Cecilia kemudian berdiri di sana selama beberapa saat untuk menelepon seseorang. "Aku sudah mengurus perceraianku. Datanglah ke pengadilan sipil untuk menjemputku." Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, sebuah mobil sport convertible berwarna merah berhenti di samping Cecilia. Sahabat Cecilia, Sabina Brijaya, turun dari mobil. "Serius kamu benar-benar bercerai?" Sabina bertanya setengah tak percaya. "Ya." Cecilia mengangguk, membuka pintu, dan masuk ke dalam mobil. "Keren!" Sabina bersorak sambil melompat ke dalam mobil tanpa membuka pintu. "Dulu kamu adalah gadis yang sangat keren sebelum menikah dengannya. Sekarang lihatlah dirimu. Kamu kehilangan dirimu sendiri dan hampir menjadi pelayannya. Akhirnya sekarang kamu bebas. Saatnya kembali dan mengambil alih perusahaan. Kami semua merindukanmu." Cecilia menggigit bibirnya, tidak berkata apa-apa. Dia jelas sedang dalam suasana hati yang buruk, jadi Sabina memeluknya erat-erat. "Ayolah, tidak perlu menahannya." Cecilia membenamkan wajahnya di pelukan Sabina beberapa saat. Kemudian, sambil menyeka air matanya, dia tersenyum canggung. "Kamu sudah membantu aku menjalankan perusahaan selama bertahun-tahun. Aku khawatir aku tidak bisa mengelolanya dengan baik." "Hei, kamu adalah superstar di dunia kosmetik. Kembalinya kamu akan mengguncang dunia." Sabina menyentil kepala Cecilia. Dia tidak puas dengan sikap pengecut Cecilia. "Pria itu membutakanmu dan membuatmu lupa betapa briliannya dirimu dulu. Sangat mudah bagimu untuk mendapatkan kembali dirimu yang dulu. Jangan pernah meragukannya." Sabina menyemangati Cecilia. Cecilia mengenang masa lalu ketika dia memulai bisnisnya sendiri. Rasanya melelahkan, tapi dia bahagia.  Namun, kegagalan pernikahannya merupakan pukulan yang terlalu besar baginya untuk menemukan kembali dirinya yang dulu. Dia membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyesuaikan status barunya ini. “Kita bisa bicarakan itu nanti. Aku perlu istirahat sekarang.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD