Setelah makan selesai, Lintang dan Desty segera masuk ke dalam kelas takut jika mereka nanti akan terlambat lagi. Di hukum ntuk yang kedua kalinya pasti akan terasa sangat memalukan.
‘’Baiklah murid-murid, hari ini bapak akan memberikan tugas kelompok. Jadi kalian membuat rumah miniatur dari sendok ice cream yang terbuat dari kayu. Tapi bukan hanya sekedar rumah asal-asalan, kalau bisa menyerupai rumah adat yang berada di negara Indonesia. Dan salah satu dari kalian nanti harus maju dan menceritakan asal-muasal rumah tersebut. Jad kalian harus berusaha sebaik mungkin, karena akan mempengaruhi nilai di buku rapot kalian,’’ perintah wali kelas yang kebetulan mengajar seni dan keterampilan.
‘’Iya, pak,’’ jawab seisi kelas serentak.
‘’Karena satu kelas ada 40 orang, jadi kita bagi menjadi sepuluh kelompok. Dan di dalam toples ini ada kertas lipat yang bertuliskan angka nomor kelompok. Kalian di mulai dari terdepan paling kanan maju satu persatu mengambil kertas ini!’’ perintah wali kelas bijaksana.
Soal kerja kelompok memang lebih baik di acak, sebab jika memilih sendiri tentu saja mereka akan berebutan memilih yang paling pintar. Ujung-ujungnya akan terjadi keributan.
Tak terkecuali Lintang dan Desty, mereka maju secara bergiliran untuk mengambil kertas.
‘’Baiklah, kelompok nomor satu angkat tangan!’’ perintah wali kelas tegas.
Para murid yang mendapat angka satu langsung mnegangkat jari, wali kelaspin langsung mendata di laptop.
‘’Sekarang kelompok nomor dua!’’ timpal wali kelas.
Lintang dan Desty mengangkat tangan secara bersamaan, mereka sangat senang sebab menjadi satu kelompok. Namun, senyuman itu segera sirna sebab kedua anggota kelompok lain adalah Devan dan Adit.
‘’Ya ampun, bencana apa ini?’’ bisik Desty.
‘’Iya, kenapa hari ini kita sial sekali,’’ balas Lintang berubah muram.
Setelah wali kelas selesai mendata sampai kelompok sepuluh, wali kelas tersebut langsung menutup laptop dan berdiri tegap.
‘’Waktu masih ada sisa dua puluh menit, sebaiknya kalian gunakan untuk berdiskusi bersama kelompok kalian mengenai rumah adat mana yang akan di buat dan juga siapa yang bertugas sebagai pembicara di depan kelas. Bapak harap kalian bisa bekerja sama dengan baik, jika ada salah satu dari anggota kalian ada yang tidak mau di ajak kerja sama harap laporkan ke bapak dan akan dikurangi nilainya!’’ kara wali kelas.
‘’Iya, pak,’’ jawab seiri kelas serempak.
Wali kelaspun beranjak keluar, begitu sudah tidak kelihatan kelas yang tadinya tenang berubah gaduh.
‘’Mimpi apa aku semalam, kenapa bisa satu kelompok dengan dua mahluk aneh itu,’’ teriak Devan tidak terima.
‘’Kalau kamu tidak mau kerja sama bilang saja, aku tidak segan-segan lapor pada wali kelas kok,’’ jawab Desty sengit.
‘’Sudah, saat ini lebih baik kita memutuskan mau di buat kapan dan dimana? Jadi untuk sementara kita fokus menyelesaikan tugas dulu!’’ sela Adit sok bijaksana.
‘’Hey, sejak kapan kamu berubah serius ini?’’ sindir Devan.
‘’Kita ini sebentar lagi mau ujian nasional, dan nilai dari tugas ini sangat berpengaruh,’’ jawab Adit.
‘’Adit benar, siapa yang tidak setuju bisa keluar dari kelompok!’’ timpal Lintang.
‘’Apa kamu menyuruh aku keluar?’’ pekik Devan tersinggung.
‘’Devan, aku rasa telinga kamu masih normal. Atau memang daya serap otak kamu yang rusak?’’ balas
‘Sudah cukup, kita jangan ribut lagi!’’ teriak Adit sakit kepala.
‘’Jadi kita mau buat kapan dan di mana? Karena aku anak perempuan pastinya tidak bisa mengerjakan malam,’’ tanya Lintang meminta pendapat sekaligus mengutarakan permintaan. Karena jika malam hari dia harus bekerja.
‘’Mau kapan itu terserah kalian, tapi aku hanya ingin di kerjakan di rumahku. Melihat penampilan kalian berdua aku ragu dengan rumah kalian, pastinya tidak nyaman untuk belajar,’’ jawab Devan pedas.
Lintang melirik ke arah Desty, mengisyaratkan sahabatnya agar tidak terpancing emosi. Untung saja Desty mau menahan diri, jadi pembicaraan berikutnya tidak terjadi keributan lagi.
‘’Baiklah, menurut Adit kapan?’’ tanya Lintang lagi.
‘’Bagaimana kalau besok siang? Lebih cepat selesai lebih baik. Dan soal bahan nanti kita tinggal patungan dan biar aku yang membeli. Jadi besok kita tinggal buat saja,’’ jawab Adit.
‘’Sudahlah tidak usah patungan, semua biaya biar aku yang tanggung. Hanya saja saat presentasi ke depan jangan aku!’’ Sela Devan.
‘’Juga jangan suruh aku, aku kalau soal hapalan sangat buruk,’’ segah Desty menyerah.
Semua melihat ke arah Lintang, mau tak mau diapun mengajukan diri.
‘’Baiklah, kalau begitu biar aku saja,’’ balas Lintang.
‘’Nah, dengan begini semua sudah beres kan? Jadi besok sepulang sekolah kita langsung ke rumah Devan. Aku tidak peduli kalian mau sering berantem atau bagaimana, tapi aku minta untuk tuga skali ini kalian bisa menahan diri!’’ pinta Adit.
‘’Wih, tak kusangka seorang playboy sepertimu bisa berpikir serius begini,’’ goda Desty.
‘’Karena aku ingin lulus, memangnya kamu mau jika nilaimu jelek?’’ jawab Adit agak kalem.
‘’Aku juga mau mendapat nilai bagus,’’ tukas Desty tertawa.
Lintang diam-diam ikut tersenyum, pada saat itu Devan sekilas melihat senyuman Lintang tidaklah asing.
‘’Devan, kenapa kamu melamun?’’ tanya Adit.
Devan langsung menggeleng dan mengambil tasnya.
‘’Karena semua sudah selesai, akum au pulang dulu,’’ kata Devan.
‘’Loh, bel belum berbunyi,’’ pekik Desty.
‘’Bodo amat,’’ balas Devan cuek.
‘’Eh, tunggu aku!’’ timpal Adit buru-buru mengejar Devan keluar.
‘’Sudahlah, biarkan saja,’’ bujuk Lintang.
‘’Benar juga sih, tidak ada Devan kelas menjadi tenang dan damai,’’ jawab Desty senang.
Desty dan Lintang tertawa riang dengan kepergian Devan dan Adit, sedangkan di sisi lain ada Lita yang tengah menatap mereka berdua dengan rasa iri.
‘’Des, apa kamu sadar dengan Lita yang melirik ke arah kita terus sejak tadi?’’ bisik Lintang.
‘’Palingan dia kesal sekaligus cemburu, karena kita satu kelompok dengan Devan,’’ jawab Desty bangga di atas penderitaan seseorang yang tidak disukainya.
‘’Dan kita yang tidak menginginkan satu kelompok dengan mereka malah apes begini,’’ balas Lintang keheranan.
‘’Kamu tenang saja, selama ada aku tidak akan aku biarkan satu orangpun menindas dirimu,’’ ucap Desty.
‘’Iya, terima kasih banyak Desty,’’ ucap Lintang bahagia memiliki sahabat seperti Desty.
Sepulang sekolah Lintang langsung naik angkutan untuk pulang ke kontrakannya, sebenarnya tadi mau di antar oleh Desty. Hanya saja Lintang menolak, sebab kasihan pada sahabatnya jika harus bolak balik.
Di perjalanan sekilas Lintang melihat seorang lelaki dan perempuan yang pernah ditemuinya saat di salon dulu.
‘’Walaupun si cowok terlihat judes tapi mereka berdua sepertinya sangat harmonis, buktinya ketika ke salon dan sekarang ke butik si cowok itu dengan setia mengantar dan menunggu,’’ batin Lintang merasa iri.
Mengenai perasaan sendiri entah kenapa Lintang tidak berani jatuh cinta, kehidupannya yang serba sulit seperti itu membuatnya menjadi sosok kakak yang harus berjalan lurus ke depan memikirkan cita-cita. Harapan Lintang selama ini adalah bisa melanjutkan kuliah dan kelak mendapat pekerjaan yang baik. Karena dia sudah tidak tahan dengan kemiskinan yang dirasakan oleh orang tua beserta adiknya, apalagi semakin ke depan adiknya juga akan membutuhkan biaya yang banyak.
‘’Aku ada simpanan uang lima ratus ribu, semoga dalam satu minggu ini aku bisa mendapat bonusan banyak agar saat ulang tahun Farel aku bisa membelikan sepeda untuknya,’’ batin Lintang penuh harap.
Walaupun Farel hanya meminta kue saja, akan tetapi Lintang tahu jika adiknya sangat menginginkan sepeda yang sama dengan teman-temannya. Walaupun harganya dua juta akan tetapi Lintang ingin berusaha memberikan senynum kebahagiaan kepada adiknya agar tidak dihina lagi.
‘’Aku harus semangat mengumpulkan uang,’’ tekad Lintang.