6. Rahasia Lintang Dan Bunga

1238 Words
Sang guru hanya memberikan sedikit penjelasan kemudian meminta para murid untuk mengerjakan tugas, karena guru tersebut akan ada rapat sekolah. Begitu guru tersebut meninggalkan kelas suasana menjadi riuh. Devan yang sedari tadi menahan amarah mendekati bangku Lintang dengan tatapan kesal. "Hay… Kau! Kenapa tadi kamu mengejekku?" tanya Devan sambil menggebrak meja Lintang. Seketika Lintang dan Desty terdongak kaget, begitu juga dengan teman sekelas lainnya menjadi sunyi. Lintang hanya diam saja tak ingin menanggapi sikap Devan yang suka semena - mena, akan tetapi Desty yang tidak terima sahabatnya diperlakukan seperti itu. Desty berdiri dan gantian menggebrak mejanya sendiri sambil melotot ke arah Devan. "Dev, jaga sikapmu! Kamu pikir kamu itu siapa? Kenapa kamu bertingkah sok begitu di sekolah ini. Dan kenapa kamu selalu mengganggu Lintang?" bentak Desty. "Karena tampang temanmu itu sangat memuakkan, coba kamu lihat! Semua murid perempuan cantik - cantik kecuali penampilan kawanmu itu yang seperti manusia purba. Memalukan sekolah kita!" balas Devan sengit. "Bukankah itu dirimu yang mempermalukan sekolah? Playboy kampungan dan norak. Dan bukankah prestasi Lintang jauh lebih bagus dibanding dirimu yang selalu rangking terakhir?" sentak Desty semakin garang. Devan marah sekali, karena semua teman - teman di kelas menertawakannya, hampir saja pemuda itu ingin menjitak kepala Desty. Akan tetapi saat tangannya melayang dari belakang Adit langsung menangkap tangan tersebut. "Dev, lebih baik kita keluar dari kelas ini. Aku merasa gerah," sela Adit. "Kamu benar, di sini begitu gerah," balas Devan sembari menyindir ke arah Desty dan Lintang. Setelah Devan dan Adit keluar, dua teman perempuan lainnya juga mengikuti mereka. Dengan tatapan judes seolah menusuk ke arah Lintang dan Desty. Lintang hanya menunduk, sedangkan Desty membalas tatapan kedua gadis tersebut seolah menantang berkelahi. Di sekolah memang tidak ada yang berani melawan Devan dan sohibnya kecuali Desty. Karena sahabat Lintang itu bukan tipe gadis yang mau mengalah saat di tindas. Apalagi Desty memang bisa bela diri, selain itu di luar dia memiliki teman geng berandalan yang terkenal nakal. Makanya jika ada Desty tidak akan ada yang berani mengusik Lintang. "Des, Terima kasih," ucap Lintang menggenggam tangan sahabatnya. "Buat apa takut dengan mereka? Kalau mau mengajak berkelahi aku juga layani," jawab Desty yang masih kesal. "Eh, Aku ada rahasia yang belum aku ceritakan padamu," bisik Lintang mengalihkan pembicaraan. "Rahasia apa?" tanya Desty antusias. "Nanti saja," jawab Lintang melirik karena banyak teman sekelas yang pasti bisa mendengar. Tapi Desty bukan gadis penyabar saat dirinya kepo akan hal sesuatu, gadis itu segera menarik tangan Lintang dan membawa ke kantin. "Eh, kalau kita dimarahi guru," pekik Lintang. "Tidak, ini adalah tempat ternyaman," jawab Desty selalu nekat. Kantin memang tempat ternyaman yang jauh dari jaungkauan guru, sebab Kantin guru dan murid berbeda tempat. Setelah memesan minuman Desty segera duduk mepet Lintang untuk meminta cerita rahasia itu. "Cepat ceritakan? Mumpung belum ada orang di sini," desak Desty penasaran. Lintang menarik napas panjang, memang sebuah kesalahan meminta sahabatnya untuk menunggu. Tapi dia pun juga merasa ini waktu yang tepat, sebab jika bel istirahat berbunyi maka kantin akan penuh. "Semalam pelanggan pertama aku adalah Devan, dan dia memintaku menemani dari jam awal sampai akhir. Dia juga memberi aku tip uang," bisik Lintang tepat di kuping Desty. "Gila! Apa dia tidak mengenalimu? Dan apakah si resek itu mengapa - ngapakan kamu?" tanya Desty semakin penasaran. "Dia sama sekali tidak mengenaliku, awalnya dia datang bersama Adit. Dan mereka percaya saja jika namaku adalah Bunga. Kemudian Devan meminta Adit untuk bersama pemandu lain. Dan anehnya lagi sikap Devan begitu begitu sopan dan manis. Beda banget dengan yang di sekolah," jawab Lintang menahan tawa. "Kamu kalau dandan dan pakai baju bagus memang sangat berbeda, apalagi saat rambutmu itu di urai. Aku saja awalnya juga tidak bisa mengenalimu. Eh, sepertinya Devan naksir Bunga, bagaimana kalau kamu gunakan kesempatan ini untuk membalas dendam padanya. Kamu plorotin saja uanganya," saran Kia. "Ah aku tidak berani," tolak Lintang yang memang penakut. "Ih kamu, kenapa takut. Apa kamu tidak ingat perlakuan dia selama ini padamu di sekolah," bujuk Desty. "Aku hanya berniat bekerja untuk mencari uang saja, tidak ada niat buruk lain," jawab Lintang jujur. "Ah kamu ini memang polos sekali, terlalu baik hati. Bagaimana kalau kamu dekati dia saja dan buat dia jatuh cinta padamu? Tapi kamu buat dia patah hati karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Kamu tidak merasa kesal apa saat melihat tampang dia yang sok kegantengan?" ujar Desty. "Aku hanya takut jika suatu saat ketahuan," balas Lintang cemas. "Justru itu bagus, setelah kelulusan kan biasanya Devan mengadakan pesta ulang tahun besar - besaran. Nah, saat itu kamu datang berpenampilan yang cantik seperti Bunga. Buatlah Devan dan pemuda lain yang mengejekmu itu terbungkam mulutnya melihat kecantikan kamu yang selama ini tersembunyi," jawab Kia sembari mempermainkan rambut Lintang yang selalu di ikat. "Eh, bagaimana dengan Adit? Apakah dia tertarik padamu juga?" timpal Desty kemudian. "Des, kadang aku merasa antara kamu dan Adit seperti ada perasaan terpendam," bisik Limtang menahan tawa. "Ngomong apaan kamu," sentak Desty marah. "Serius, aku ingat setiap kali kamu berantem dengan Devan pasti Adit akan melerai. Seolah - olah dia melindungimu," jawab Lintang. "Konyol," balas Desty dengan tatapan tak terima. Lintang hanya tertawa, karena sikap Desty terkadang juga suka kepo sama Adit. ******************************** Di sisi lain Devan dan kawannya sedang nongkrong di belakang sekolah, tempat kekuasaan mereka. Karena tidak ada yang berani nongkrong di sana kecuali teman - teman Devan Tak lama kemudian ponsel milik Devan berbunyi, pemuda itu segera mengangkatnya. "Ada apa, Kak Yuta?" tanya Devan sopan. "Sepulang sekolah langsung ke rumah nenek, akan ada acara makan malam bersama di sana," perintah Yuta tegas. "Aku ada les kak, tidak bisa ditinggalkan karena sebentar lagi kenaikan kelas," jawab Devan yang pandai berbohong. "Oh, baiklah kalau begitu. Nanti aku akan bilang pada nenek," jawab Yuta pengertian. Tak lama kemudian sambungan telepon tertutup. Devan segera menyimpan ponselnya ke saku. "Wah tumben kakakmu itu mudah percaya? ucap Adit heran. "Heleh, aku tahu pasti nanti kak Yuta akan kabur juga di tengah acara," balas Devan nyengir. "Kamu sendiri kenapa tidak datang?" tanya Adit. "Ah malas sekali ikut acara perkumpulan keluarga, paling nanti ujung - ujungnya aku akan di banding - bandingkan dengan Kak Yuta," jawab Devan. "Yah… Kak Yuta memang mengagumkan. Dia sangat tampan, cerdas dan daya tariknya begitu tinggi. Meskipun dia di kejar - kejar banyak perempuan tapi dia bersikap cool dan hanya setia pada satu wanita," puji Adit. "Kamu yang belum tahu saja, dia setia bukan karena cinta, tapi karena terpaksa. Karena calon kakak iparku itu begitu bawel, sedangkan kakakku sama sekali tidak tertarik dengan perempuan yang menyebalkan. Terlebih lagi hubungan mereka di jodohkan oleh nenek, sedangkan Kak Yuta adalah anak yang begitu patuh dan tidak berani melawan orang tua," sergah Devan. "Wah... Jadi masih enakan kamu ya posisinya? Bisa mengencani banyak cewek sekaligus," ucap Adit. "Tentu saja, dan sepertinya aku punya mangsa baru. Tapi kali ini perasaanku berbeda, bukan hanya sekedar penasaran dan aku benar - benar tertarik padanya," jawab Devan senang. "Aku tahu, pasti Bunga kan? Dia memang gadis yang mempesona," ujar Adit. "Hey... Dia milikku ya?" sergah Devan. "Iya… iya… stok ku masih banyak. Aku tidak akan berebut pada temanku sendiri," jawab Adit santai. Di gerombolan tersebut ada sepasang mata yang melihat penuh kepedihan, dia adalah Lita, gadis yang diam - diam mencintai Devan tapi tak berani mengungkapkan karena pemuda itu menganggapnya hanya sebatas teman. "Bunga itu siapa?" tanya Lita pura - pura bersikap biasa. "Mangsa baru Devan, palingan kalau sudah dapat dia juga akan bosan seperti biasanya," sela Adit yang peka dengan teman gadisnya itu. Lita terlihat tersenyum lega, gadis itu tahu jika Devan ini setiap kali pacaran tidak bertahan lama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD