Pertama kali Lintang memasuki ke tempat karaoke perasaanya langsung ngeri, banyak mata yang menatap padanya. Terlebih lagi para lelaki yang langsung antusias dengan penampilan Lintang yang seks dan menarik. Seperti gaya ala Desty, elegan tapi menawan.
Meskipun begitu Lintang masih belum terbiasa mengenakan pakaian yang ketat, selama ini dia selalu memakai baju longgar.
"Des, aku takut," bisik Lintang gemetar tangannya.
"Apa yang kamu takutkan?" tanya Desty yang tidak kaget dengan suasana seperti ini.
"Aku takut kalau di apa - apain," jawab Lintang jujur.
"Santai, aku ada cara jitu agar nanti kamu bisa selamat," balas Desty sambil nyengir.
Lintang hanya tersenyum sambil meyakinkan diri, mengingat tentang keluarganya yang sangat membutuhkan uang mau tak mau membuat dia harus berani. Apalagi dengan bantuan Desty yang cerdik dia yakin semua akan berjalan baik - baik saja.
Akhirnya mereka berdua menemui seorang wanita setengah baya yang penampilannya sangat sexy. Dengan make up tebal dan lipstik merah merona. Dan yang paling mencolok adalah perhiasan yang menempel pada leher, lengan dan jemari yang begitu berkilau.
"Hay, Tante Mesya… Ini teman yang aku ceritakan. Cantik kan?" Sapa Desty yang terlihat sudah akrab dengan wanita tersebut.
"Wah… Luar biasa. Namamu Lintang Kan?" tanya Mesya.
"Iya, Tante," jawab Lintang malu - malu.
"Tante, bisakah kalau sedang bekerja di sini namanya diganti? Dia masih sekolah, jadi bekerja di sini juga menyamar biar tidak sampai ketahuan guru," sela Desty.
"Hemmm… Boleh juga. Lagian anak di bawah umur sebenarnya masih belum bisa bekerja di sini. Kalau begitu mulai sekarang nama kamu Bunga ya? Semoga kamu menjadi Bunganya di tempat karaoke ini," jawab Mesya penuh harap.
"Akan saya usahakan," jawab Lintang lembut.
Mesya hanya tersenyum melihat kepolosan anak buah barunya, perawakan Lintang yang lugu itu tidak ingin di ubah. Sebab malah membuat orang lain menjadi tertarik.
"Apa malam ini kamu sudah siap bekerja?" tanya Mesya meyakinkan Lintang.
"Siap, Tante," jawab Lintang mengangguk yakin.
"Baiklah, kamu ikut aku dan mulai sekarang panggil aku Mami ya?" ajak Mesya tersenyum riang.
"Lintang, eh... Bunga… Aku mau pergi menemui teman - temanku dulu ya?" Sela Desty.
"Iya, kamu juga jaga diri baik - baik," jawab Lintang mulai was - was setelah kepergian sahabatnya.
Tapi sebelum Desty pergi gadis itu membisikkan ke telinga Lintang sambil menyelipkan sesuatu.
"Semoga sukses ya?" ucap Desty berlalu pergi.
"Terima kasih, Desty," jawab Lintang mulai tenang kembali.
Selain sebagai tempat karaoke, di sana juga ada semacam tempat dugem juga. Hanya saja tempatnya terpisah. Jadi tempat karaoke berada di ruangan pribadi yang kedap suara.
Sebagai orang baru Lintang diperkenalkan dengan teman lainnya yang seprofesi. Dari mereka Lintang di beri tahu bagaimana cara menarik pelanggan.
"Pokoknya kalau penampilan kamu bagus maka kamu bisa mendapat bonusan yang lumayan," bisik Lala mengedipkan sebelah matanya.
Lala adalah senior yang usianya sekitar 25 tahun, perempuan itu bukan hanya sekedar menemani bernyanyi. Tapi juga mau diajak tidur asalkan harganya sesuai dengan yang gadis itu inginkan.
Lintang hanya tersenyum, tapi seluruh tubuhnya merinding. Mana mungkin dia berani menggunakan cara ekstrim yang bisa membahayakan diri sendiri. Kintang lebih yakin menggunakan caranya Desty yang paling aman.
Tapi rupanya bekerja di sana juga harus pandai menggoda, nyatanya bekerja di situ seperti pakaian yang di pajang. Jadi nanti jika ada pembeli mereka akan melihat - lihat baru setelah tertarik akan di sewa. Untuk pertama kalinya Lintang merasa begitu hina dan kotor, dia ingin menangis dan takut saat pelanggan yang masuk adalah bapak - bapak setengah baya yang memakai jas seperti orang kaya. Tapi untung saja Lala yang berada di sampingnya dengan gesit menggandeng lelaki tersebut untuk masuk ke ruangan yang sudah di siapkan. Sepertinya lelaki itu memang sudah menjadi langganan Lala.
Tak lama kemudian datang dua pemuda yang langsung membuat mata Lintang Syok.
"Devan… Adit… Kenapa mereka datang ke sini? Ya ampun, kalau mereka tahu pasti di sekolahan aku akan di buli lebih kejam lagi. Dan tentunya aku akan di keluarkan dari sekolah kalau ketahuan bekerja di tempat seperti ini," batin Lintang bergetar hebat tubuhnya.
Lintang menunduk untuk menyembunyikan wajahnya. Dia menutupi sebagian rambutnya yang di ikal gantung agar tidak di kenali oleh mereka.
Devan dan Adit tampak lebih dewasa dengan pakaian yang keren, siapa mengira jika mereka berdua masih kelas dua SMA. Mesya yang sudah tahu siapa kedua pemuda remaja itu langsung mendekati mereka.
"Halo Tuan Devan, Tuan Adit. Tepat sekali kalian datang ke sini, ada pegawai baru yang cantik dan muda banget loh," sapa Mesya.
"Mana?" tanya Adit yang antusias.
"Itu yang paling ujung sendiri, namanya Bunga. Baru kali ini bekerja jadi masih seger banget," kata Mesya riang.
"Ah aku sedang malas kesini… Kita ke sebelah saja lebih asyik," bisik Devan yang sedang bosan dengan perempuan murahan.
"Kamu ini, katanya mau mencari hiburan," sergah Adit.
"Kamu tidak takut terkena penyakit menular?" tanya Devan.
"Sialan, kamu kira aku ini cowok apaan? Aku datang ke sini hanya sekedar menyanyi. Bukan hal yang lainnya," jawab Adit agak tersinggung.
"Baik - baik, ayo kita coba ke tempat yang lebih santai," balas Devan menahan tawa.
Sebagai anak remaja yang masih masa puber, kedua cowok itu memiliki rasa penasaran yang tinggi. Mereka memang sudah terbiasa datang ke tempat itu, hanya sekedar nongkrong, dugem dan minum bir. Sampai tadi teman Devan merasa terlalu bising dan memilih ke tempat yang bisa membuatnya tenang.
"Gila… Dari jauh saja sudah terlihat menarik," bisik Adit sambil mendekati Lintang.
"Iya, lumayan juga," jawab Devan mengagumi kecantikan Lintang yang terpoles make up.
Biasanya Devan memiliki selera yang tinggi soal memilih cewek, sebagai cowok playboy kelas atas hanya cewek tertentu yang diminatinya.
Lintang walaupun memejamkan mata tapi dia sudah bisa merasakan ada dua langkah kaki yang mendekatinya.
"Jangan mendekat… Jangan mendekatiku," batin Lintangmembuka mata sebelahnya
"Hai,Bunga…" sapa suara yang dikenalnya, yaitu Adit.
lintang dengan pelan - pelan mengangkat wajahnya dan membuka matanya. Dia hanya terdiam dan ketakutan saat berhadapan dengan dua pemuda yang begitu sering menghinanya di sekolah.
Devan pertama kali melihat Lintang secara dekat langsung terpana, begitu juga dengan Adit. Dan yang paling mengejutkan mereka berdua tidak mengenali jika Bunga adalah Lintang si culun di sekolah.
"Anak baru ya?" tanya Devan langsung mendekat.
lintang hanya mengangguk ragu.
"Wajar kamu masih terlihat malu - malu karena baru kali ini bekerja di sini, santai saja kami bukan orang jahat," timpal Adit menggunakan jurus rayuannya.
"Adit, kamu cari yang lainnya!" bisik Devan memberi kode untuk pergi.
Devan sebenarnya lebih tertarik ke tempat dugem, karena di sana lebih banyak cewek cantik dan kece yang bisa di ajak kencan. Sedangkan Adit lebih menyukai ketenangan. Tapi entah kenapa kali ini Devan begitu bersemangat.
Adit sebagai sahabat Devan tentu saja mengalah, pemuda itu mencari pemandu lain untuk di ajak duet.