Chapter 27

1376 Words
Lagi-lagi Yoon berdiri mematung di balkon apartemennya. Tidak banyak hal yang bisa ia lakukan di sini. Pun ia juga tidak memiliki banyak kesempatan untuk keluar. Tidak setelah semua yang telah terjadi. Ia tidak ingin membuat Ben salah paham lagi. Terlebih saat hubungan mereka seoalah kembali sebagaimana mestinya. Meski tak bisa dipungkiri Yoon sering merasa ada yang kurang. Entah apa, ia tidak mau memikirkannya lebih jauh. Terdengar langkah-langkah kaki mendekat yang tidak lain adalah Ben, ia terlihat letih dan kemejanya berantakan. Yoon berbalik dan menyambut kepulangannya dengan senyuman. Ben balas tersenyum dan menciumnya. "Maaf membuatmu menunggu lama," Ben berbisik di telinganya tanpa mau melepas pelukannya. Yoon tidak keberatan, justru ia senang. "Tak apa, bagaimana urusanmu, sudah lebih baik sekarang?" Ben mendesah lelah. "Aku cemas harus pergi lagi besok. Dan," ia mendesah lagi. "Aku tidak bisa pulang dalam beberapa hari kurasa." Yoon mengernyit, mendorong tubuh Ben menjauh agar bisa menatap mata biru indah yang disukainya itu. Alis Ben tertaut sarat penyesalan. Jelas ia juga keberatan Yoon melepas pelukannya. "Tapi aku janji setelahnya kita bisa liburan berdua, ke mana pun yang kau mau," kata Ben mencoba menghibur Yoon sekaligus menghibur diri sendiri. Yoon tersenyum samar. Menyembuyikan kekecewaannya. "Baiklah," ia bertanya-tanya dalam hati apa Ben lupa ia akan kembali ke Seoul tepat setelah perayaan halloween. Dan, hei, ia sudah terlanjur berjanji pada Alice akan merayakan halloween bersamanya. Apakah ia bisa mengajak Ben juga? Yoon rasa ia bisa mengaturnya nanti. Asal Ben tidak tiba-tiba sibuk saja. "Kau sudah makan?" Tanya Ben sambil lalu, ia melepas kemejanya dan melemparkannya sembarangan di atas ranjang. Jika sore tadi bisa ia sebutkan sebagai makan malam, mungkin saja. Tapi tidak, Yoon sadar ia sudah lapar lagi sekarang. Ia melirik jam dinding, sudah pukul sepuluh lebih. "Aku akan mandi dulu lalu kita bisa memesan makanan," Ben menciumnya lagi, kali ini seolah tidak ingin melepas Yoon lagi. Yoon tertawa kecil dan mendorongnya menjauh. "Mandilah aku akan pesan makanan sekarang, aku sudah lapar." Ben nyengir meminta maaf, mencium Yoon untuk terakhir kali dan menghilang di balik pintu kamar mandi. Yoon menarik kursi di depan meja riasnya dan mendudukan diri. Menunggu lagi. Ia mendesah tanpa suara, menyandarkan punggung pada sandaran kursi dan mendongak memandang langit-langit. Tanpa alasan ia teringat pada tujuan awal ia datang ke sini. Untuk menenangkan diri, kan? Yoon mendengus tertawa. Tujuan itu terdengar tak lebih dari sekedar omong kosong sekarang. Yoon mengetuk-ngetuk jemarinya pada meja. Menunggu. Tanpa melakukan apa pun. Berujung dengan melamun dan pikirannya pergi ke mana-mana. Selalu saja begitu banyak hal muncul dalam benaknya dalam satu waktu. Memberinya begitu banyak pertanyaan yang kebanyakan tak berani ia jawab. Atau membuatnya teringat pada hal-hal kecil yang sempat ia lupakan. Seperti setumpuk kertas di sudut meja kerja Tadashi misalnya. Dulu Yoon mengatakan akan membawa semua hasil gambaran Tadashi bersamanya ke Seoul. Lalu sekarang, ia bahkan hampir melupakan hal itu. Yoon mencondongkan tubuh pada meja dan bertopang dagu dengan sebelah tangan. Bertanya-tanya sendiri dalam hati apakah mungkin Tadashi sudah membuang semua itu? Tadashi Hamada. Sosok yang cukup lama ia kenal dan tidak pernah berubah. Selalu cuek dan tipe orang yang tidak mengikuti arus. Jika menggambarkannya, mungkin seperti sebuah produk edisi terbatas. Yoon terkikik karena pemikirannya sendiri. Tapi memang benar adanya begitu. Walau sudah berteman cukup lama, sebelum datang ke New York, toh, Tadashi memang selalu mengabaikan pesan dan telepon darinya. Persis seperti biasa. Namun Yoon tidak pernah benar-benar marah terhadap sikap Tadashi, meski semenyebalkan apa pun temannya yang satu itu. Mungkin karena pertemanan mereka yang begitu lama membuat Yoon jadi terbiasa dengan sikapnya. Yoon mendadak teringat, pada saat pertama kali ia bertemu Tadashi. Waktu itu sebuah keluarga baru datang menjadi tetangganya, mereka membuat pesta rumah baru sederhana dan mengundang orang-orang di sekitar. Yoon yang kagum pada desain rumah berkeliling, tanpa tahu apa yang sebenarnya ia lakukan, ia sampai di halaman samping rumah itu. Ada sebuah kolam dan air mancur yang cantik sekali. Tepat saat itu lah Tadashi tiba-tiba muncul dan membuatnya terkejut. Yoon sampai terpeleset dan salah satu kakinya merosot ke dalam kolam. Ah, kalau teringat hal itu ia jadi agak malu. Tadashi terlihat dingin sekali saat itu. Yoon sampai kesal melihat raut wajahnya. Terlebih kenyataan bahwa ia harus melihat raut wajah itu setiap hari. Tetapi semakin ia mengenal Tadashi, ia tidak lah seburuk yang Yoon kira. Walau sikap cueknya memang parah sekali, sih. Selebihnya ia teman yang baik. Oh! Yoon teringat lagi. Ketika ia menemani Tadashi mengajari Sua menyetir mobil diam-diam. Yoon tertawa kecil sekarang. Mereka berdua tidak pernah akur. Mungkin karena sama-sama cuek pada dasarnya. Apalagi Sua yang dulu itu pembenci laki-laki. Dan sekarang, banyak hal telah berubah. Dalam suka mau pun duka yang mereka lewati bersama. Yoon sadar, selalu ada Ben di sisinya. Tadashi juga. Pada saat kepergian kakeknya, Ben selalu ada, menjaganya, memastikan Yoon selalu baik-baik saja. Tadashi juga rela pulang untuk menemaninya. Lalu, saat-saat terburuk lain dalam hidup. Seperti saat kepergian Han. Menghilangnya Sua. Yoon tidak akan pernah lupa bagaimana Ben berusaha menghibur dirinya. Yoon tersenyum lembut dan tanpa sengaja mengalihkan pandangan pada cermin di hadapannya. Wajah itu, wajah milik seseorang yang sudah mengalami begitu banyak hal-hal menyakitkan dalam hidup. Yoon hanya berharap, akan memiliki akhir yang bahagia dalam cerita hidupnya yang akan datang. Seperti Sua. Meski Yuta bukanlah seseorang yang telah merubah dirinya sepenuhnya. Tetapi Yoon tahu pasti Yuta sangat mencintai Sua. Yoon mendesah, tak tahu pasti apa yang benar-benar ia rasakan sekarang. Waktu berjalan cepat, ya? Tanpa sadar tahun-tahun sudah berlalu begitu saja. Terdengar suara pintu terbuka dan Yoon tersadar dari lamunan. Ia berbalik dan memandang Ben yang tengah mengeringkan rambut dengan sehelai handuk kecil. "Sudah memesan makanan?" Tanyanya. "Oh, benar," Yoon jelas-jelas telah melupakan hal itu. Ia bangkit dan mencari keberadaan ponselnya. Setengah mengutuk diri sendiri karena malah melamun dan tidak memesan makanan dulu. Ben menarik lengan Yoon dan memeluknya erat. Yoon mengernyit heran. "Kau tidak mau memesan makanan sekarang?" Tanya Yoon dengan suara tertahan karena terdorong ke dalam d**a bidang Ben yang terasa dingin. "Tidak, sudah ada kau," Ben tertawa menggoda. Yoon mendengus dan mendorong laki-laki itu menjauh. Ben tidak mau kalah dan mengeratkan pelukannya. "Aku sangat merindukanmu, tahu!" Ia merengek berlagak marah. Yoon menggulirkan mata padanya, tidak bisa tidak tertawa dengan tingkah Ben yang satu ini. Siapa sih yang tidak bersyukur memiliki pacar menggemaskan seperti Ben? "Sebentar saja," Ben berbisik. Suaranya berubah dalam dan serius. Seketika Yoon berhenti bergerak dan mulutnya membeku dalam gerakan tawa. Kalau diingat lagi, Ben sudah sangat jarang menunjukkan sikap imutnya semacam ini. Yah, mengingat ke belakang mereka lebih sering bertengkar ketimbang akur. Dan sejujurnya, untuk saat ini, Yoon malah merasa agak asing dengannya. Ia juga merasa, seolah ada sesuatu di antara mereka. Sesuatu yang tidak ia tahu apa. "Aku ingin tetap seperti ini." Sunyi sejenak. "Aku juga," Yoon balas berbisik tanpa memiliki keinginan untuk bisa didengar. Apa itu? Apa yang salah? Otaknya sibuk bertanya-tanya dalam dunianya sendiri. Sesaat melupakan kenyataan bahwa Ben ada di sini. Memeluknya. Menunjukkan sikap yang telah lama ia rindukan. Bukankah segalanya menjadi utuh kembali? Tapi kenapa... Kenapa ia masih merasa ada sesuatu yang hilang? Seolah ada sesuatu yang salah? Mungkin ini bukan sesuatu yang berkaitan dengan Ben atau dengan mereka berdua. Mungkin ini tentang sesuatu yang lain. Atau orang lain? Yoon tidak tahu. Ia tidak mengerti. Kenapa firasatnya sering memburuk akhir-akhir ini? Akhir-akhir ini? Benarkah hanya akhir-akhir ini? Tanya sebuah suara dalam benaknya. Entahlah. Ia tidak tahu. Ben melepas pelukannya dan menangkap wajah Yoon. Ia tersenyum sebelum akhirnya mencium Yoon dengan kasar. Yoon tidak mengerti, tapi ia diam saja. Ben berhenti dan memandang ke dalam mata Yoon. Alisnya bertaut, seakan bertanya kenapa Yoon tidak membalas ciumannya? Yoon tersenyum kecil. "Aku lapar tahu," ia melepaskan diri dari cengkeraman Ben dan melanjutkan mencari ponsel. Berusaha keras memusatkan perhatian untuk mencari benda itu dan menghentikan pikirannya agar tetap pada tempatnya. Ben mendesah kesal dan mengacak rambutnya lagi dengan kasar. Yoon baru menemukan benda itu saat Ben selesai mengeringkan rambut dan melemparkan handuknya sembarangan pada kursi. Alih-alih membiarkan Yoon memesan makanan. Ia menarik Yoon ke dalam pelukannya dan mencium gadis itu lagi. Tidak membiarkan Yoon pergi kali ini. Lagi-lagi Yoon dikuasai oleh perasaan semacam ketidaktahuaan. Ia tidak mengerti. Hanya saja, ia merasa takut tanpa alasan sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD