Salah satu tujuan mata diciptakan adalah agar tidak asal menilai orang melalui telinga.
-Undefinable-
Fabian menatap kedua cewek di hadapannya dengan kening berkerut. Aneh rasanya bila Shafa datang dengan menarik pergelangan cewek yang terkenal dengan sifat ansos dikelasnya itu. "Kenapa, Fa?" tanya Fabian pada Shafa.
"Lo duluan aja, Bian. Gue mau ada yang dibicarain bentar sama Ghea," sahut Shafa.
Fabian menggeleng, "Bicara aja, gue tungguin sampe selesai."
"Ck! Terserah lo deh," pasrah Shafa, ia kembali menyeret lengan Ghea untuk menurutinya duduk di bangku panjang ada di dekat halte sekolah.
Fabian menghendikkan bahunya, ia melepas helm fullface-nya, lalu merapikan rambutnya dengan jari tangan sambil bercermin di kaca spion. Tidak ingin kepo dengan pembicaraan Shafa dengan Ghea, karena nanti Shafa bisa saja bercerita padanya tanpa Fabian minta.
"Lo ada masalah apa sama Olin?" tanya Shafa.
Ghea terdiam sebentar sambil menatap Shafa dengan tatapan tak terbaca, "Gue salah kasih obat," balasnya.
Shafa menghela nafas berat, "Harusnya lo lebih hati-hati, jangan ceroboh, Ghe. Adeknya Olin punya penyakit lemah jantung, nggak sembarang obat bisa dia minum."
"Iya, Fa. Gue tau gue salah. Gue nyesel karena udah bersikap ceroboh." Ghea menunduk lesu.
"Jangan diulangin lagi," ujar Shafa. "Maaf gue udah ikut campur, padahal gue nggak ada urusan lagi sama organisasi PMR."
"Nggak papa kok." Ghea mencoba tersenyum, walau terasa kikuk. "Gue seneng ada orang yang mau ngulurin tangannya buat gue disaat gue jatuh kayak tadi."
"Itu gunanya temen, Ghe." Shafa menunjukkan senyuman ramahnya.
Ghea menunduk, "Lo ... nganggep gue temen?"
"Ya iyalah. Gue nggak percaya sama rumor yang bilang kalo lo itu ansos. Lo itu cuma kelewatan pendiam aja, makanya agak susah ditemenin. Tapi gue nganggep lo temen kok." Shafa berdiri, "Gue pulang duluan ya, kasian Bian udah lama nungguin."
Ghea menatap punggung Shafa yang perlahan menjauh darinya. Shafa yang ceria, mudah baginya untuk menemukan teman. Berbeda dengan Ghea. Dalam diamnya, Ghea memikirkan kalimat demi kalimat yang diucapkan Shafa kepadanya tadi, lantas tersenyum sinis, batinnya berucap—
Lo anggep gue teman? Lantas, pertemanan seperti apa yang lo maksud itu, Fa?
***
Keheningan menyapa ketika Fabian memasuki rumahnya. Di rumah sebesar dan semewah ini, Fabian tinggal sendirian. Ia memilih tinggal terpisah dengan kedua orang tuanya. Bukan apa, hanya saja Fabian merasa nyaman tinggal di tempat ini, walaupun sunyi.
Seandainya Fabian tinggal dengan kedua orang tuanya pun, Fabian pasti juga akan merasakan keheningan. Kedua orang tua Fabian gila bekerja, hingga hampir tidak ada waktu untuk berkumpul di rumah.
Fabian menghempaskan tubuhnya di atas kasur berukuran king size itu. Fabian merasa lelah. Hal selanjutnya yang ingin Fabian lakukan adalah istirahat lalu tidur siang. Baru beberapa menit matanya terpejam, suara cempreng berhasil membuyarkan harapan Fabian untuk istirahat.
"FABIAAAN GUE PENGEN BAKSO!"
Gadis dengan sweater putih polos dipadukan dengan celana jeans selutut berdiri di ambang pintu kamar Fabian. Fabian masih dengan posisi berbaringnya, malas untuk bangun.
Shafa mendekat, melihat wajah kusut Fabian, "Kusut banget muka lo, setrika dulu sana!"
Fabian menyentil dahi Shafa, "Setrikain dong, Fa. Biar muka gue nggak kusut lagi,"
Shafa berdecak, "Lo kenapa, Bian? Sakit?"
"Iya, mata gue sakit gara-gara liat lo mulu, sama telinga gue juga sakit gara-gara denger suara lo yang kayak toa mesjid itu,"
Shafa mendengus sebal, "Keluar yuk, gue pengen makan bakso."
Fabian mengganti posisinya menjadi duduk, "Tunggu di bawah, gue ganti baju bentar."
"Siap bos!"
Shafa keluar dari kamar Fabian. Fabian mengambil pakaiannya dari dalam lemari, setelah itu masuk ke dalam kamar mandi. Tak berselang waktu lama, Fabian keluar dengan mengenakan baju kaos berwarna putih.
Fabian mengambil dompet serta kunci motornya dari atas nakas, lalu turun menyusul Shafa. Mulut Fabian terbuka lebar ketika tiba di ruang tengah, pemandangan yang ada di hadapannya kali ini sungguh langka, "Astaghfirullah. Shafa, lo ngapain kayak gitu?!"
Shafa berbaring di lantai dengan posisi kepala berada di kolong meja tamu, sementara kakinya naik ke atas sofa. "Perut gue sakit banget," sahut Shafa dari bawah sana.
Fabian menggelengkan kepalanya, "Sakit ya sakit, tapi harus banget ya posisi lo kayak gitu?"
"Sakit banget, Bian," ucap Shafa sambil meringis. Maklum saja, setiap tamu bulanan datang Shafa selalu merasakan kram di perutnya. Tadi Shafa mencoba berbaring di kasur, namun perutnya tetap sakit. Berbagai posisi berbaring sudah dilakukan Shafa, kram diperutnya belum juga hilang. Shafa merasa serba salah. Alhasil, ia memilih berbaring dilantai dengan kedua kaki naik ke atas sofa.
Fabian mendekat lalu mengangkat tubuh Shafa ala bridal style. Jarak keduanya cukup dekat. Shafa bahkan dapat merasakan hembusan nafas Fabian menerpa kulitnya. Entah kenapa Shafa baru menyadari jika dilihat dari dekat seperti ini, Fabian terlihat tampan. Shafa menyesali kenapa selama ini dirinya selalu menilai sebelah mata dengan mengatakan Fabian itu jelek. Shafa mengerjapkan matanya beberapa kali. Gue mikir apa sih?!
Fabian membaringkan Shafa di sofa dengan benar. "Jamu nya udah lo minum nggak?"
Shafa menggeleng, "Kelupaan."
"Pantes." Fabian menghela nafas berat, "Lo lagi sakit gini, Fa. Kita keluarnya nanti aja ya?"
Dengan sigap, Shafa berdiri dengan tangan memegangi perutnya, "Gak boleh nanti. Gue pengen makan bakso sekarang!"
"Serius? Bukannya tadi lo sakit?"
Shafa menggeleng cepat, "Udah sembuh!"
"Yaudah, ayo." Fabian berjalan lebih dulu keluar rumah diiringi Shafa.
Fabian mengeluarkan mobilnya dari garasi. Rasanya tidak mungkin jika ia membawa Shafa keluar ketika cuaca sedang panas seperti ini menggunakan motor. Fabian membukakan pintu di samping kemudi untuk Shafa.
Bukannya berterima kasih, Shafa malah mengoceh, "Gue bisa sendiri, nggak usah repot-repot deh lo!”
"Syukur-syukur gue bukain, Fa!" gerutu Fabian lalu turut masuk ke dalam mobil. Beberapa menit kemudian, mobil sedan berwarna putih itu sudah meninggalkan kawasan perumahan.
Di perjalanan, Fabian bertanya pada Shafa, "Mau makan bakso di daerah mana, Fa?"
"Terserah."
"Di perempatan dekat lampu merah, mau?" tanya Fabian baik-baik.
"Males. Tempatnya panas."
"Yaudah, kalo gitu di tempat biasa aja."
Shafa menggeleng, "Gak mau. Bosen di tempat itu-itu aja."
Fabian mengelus d**a bidangnya. Sambil membatin, sabar Bian, orang sabar gantengnya nambah. "Terus lo maunya dimana, Fa?"
"Terserah lo aja,"
"Di taman kota juga ada yang jualan bakso, lo mau kesana?" tanya Fabian.
"Ogah ah. Penjualnya punya kumis tebel banget, gue gak berani."
Fabian mulai emosi, ia menepikan mobilnya di tepi jalan. "Gue ngomong baik-baik. Lo mau makan bakso dimana, Fa? Kalo lo jawab terserah, gue tendang." ancam Fabian.
"Yang deket rumah kita aja, Bian. Baksonya Bang Anan."
Fabian melongo, "Kita udah jalan sejauh ini dan lo mau makan di tempatnya Bang Anan yang jaraknya cuma sepuluh langkah dari rumah lo?!"
Shafa mengangguk manis. Fabian mengacak rambutnya gusar. Kenapa cewek kalo lagi PMS se-menyebalkan itu?
"KENAPA NGGAK BILANG DARITADI SHAFAAAA?!"