EYang IBU VAN DEN BERG Sakit Rindu 2

1171 Words
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba eyang ibu Van Den Berg menelepon ke rumah Titah setelah sarapan pagi, dan yang mengangkat teleponnya adalah Paijo, abdi dalem Titah dan Afgan. Karena Titah, Afgan, dan anak-anak nya belum pulang. Belanda Di rumah eyang romo Van Den Berg, Di ruang tengah.. "Bismillahirrahmanirrahim mudah-mudahan Titah atau cucuku yang angkat teleponnya", kata eyang ibu Van Den Berg. Indonesia Di rumah Afgan, Di ruang tengah.. "Duh ada telepon lagi, kenapa sih telepon rumah berbunyi ketika saya sudah selesai mengepel didekat telepon rumah, tidak tau capek apa bolak balik ngepel, hem..", keluh Paijo yang sedang mengepel di ruang tengah. "Mas jo", Jumiati memanggil Paijo. "Apa Jum ?", tanya Paijo. "Telepon rumah bunyi, mbok ya diangkat gitu loh, dengar atau tidak sih kalau telepon rumah bunyi ?", tanya Jumiati. "Iya dengar saya Jum, dengar", jawab Paijo. "Ya kalau dengar ya segera diangkat gitu loh mas", kata Jumiati. "Iya Jum, ini baru mau saya angkat telepon rumah nya", sambung Paijo. ** Percakapan eyang ibu Van Den Berg dan Paijo lewat telepon. "Halo, bisa tidak kalau telepon nanti saja, kalau saya sedang tidak sibuk, sekarang saya masih sibuk ?", tanya Paijo. "Joya, hem.., tidak sopan kamu ya, kamu tau tidak sedang berbicara dengan siapa di telepon ha..?", tanya eyang ibu Van Den Berg. "Mana saya tau, memangnya kamu siapa, pakai sebut nama panggilan saya segala kaya kenal saja, saya saja tidak kenal dengan situ, memangnya situ siapa sih ?", tanya Paijo lagi. "Kamu tau sekarang sedang berbicara dengan gusti sepuh kanjeng ibu Van Den Berg", jawab eyang ibu Van Den Berg. ** Masih di ruang tengah.. "Van Den Berg, itu kan nama kanjeng romo, suaminya kanjeng ibu, jangan-jangan yang menelepon saya adalah kanjeng ibu, waduh gawat, saya sungkem dulu", kata Paijo sambil mengingat-ingat. Belanda Di rumah eyang romo Van Den Berg, Masih di ruang tengah.. "Halo jo, jo, Joya..", kata eyang ibu Van Den Berg dengan kesal. Indonesia Di rumah Afgan, Masih di ruang tengah.. "Nuwun suwun, apunten kanjeng ibu, kawula mboten mangertos menawi kanjeng ibu ingkang menelepon", kata Paijo yang sungkem untuk meminta maaf dan kemudian mengangkat teleponnya kembali dan juga berbicara dengan sopan kepada eyang ibu Van Den Berg. ** Percakapan eyang ibu Van Den Berg dan Paijo lewat telepon. "Assalamu'alaikum kanjeng ibu", Paijo memberikan salam pada eyang ibu Van Den Berg. "Wa'alaikumussalam", eyang ibu Van Den Berg menjawab salam dari Paijo. "Wonten ingkang saged kawula bantu kanjeng ibu ?", tanya Paijo. "Kawula karep ngandika wonten wayah kawula atau putri kawula atau menantu kawula, dados jo tolong asih teleponne wonten mereka, saged ?", tanya eyang ibu Van Den Berg juga. "Saged kanjeng ibu, tapi..", jawab Paijo. "Tapi menapa ta jo ?", tanya eyang ibu Van Den Berg lagi. "Tuan mami, tuan papi, den mas Kamil, den mas Zidan, mbak Citra, dan mbak Silvy belum pada pulang, kanjeng ibu", jawab Paijo lagi. "Oh kira-kira mereka kapan ya pulangnya jo ?", tanya eyang ibu Van Den Berg lagi. "Kalo den mas Kamil dan mbak Citra pulangnya kira-kira jam dua kanjeng ibu sampai rumah jam setengah tiga, kalau den mas Zidan dan mbak Silvy kira-kira sebentar lagi kanjeng ibu sampai rumahnya, habis itu mereka mandi, terus siap-siap pergi ngaji, pulang ngaji berangkat lagi les, kalau tuan mami dan tuan papi sampai rumahnya habis maghrib kanjeng ibu, kanjeng ibu kenapa tidak telepon ke hpnya saja", jawab Paijo lagi. "Sudah jo, tetap saja tidak diangkat sama Titah", kata eyang ibu Van Den Berg. "Oh kalau tuan papi, sudah kanjeng ibu ?", tanya Paijo lagi. "Saya ada perlunya dengan Titah bukan dengan Afgan, Joya, tapi boleh deh nanti saya telepon Afgan deh, kalau masih tidak diangkat juga nanti saya telepon lagi ke rumah ya jo, setelah kalian makan malam", jawab eyang ibu Van Den Berg. "Oh ya kanjeng ibu, nanti saya kasih tau tuan papi atau tuan mami kalau kanjeng ibu mau telepon lagi", kata Paijo. "Iya Joya", sambung eyang ibu Van Den Berg. "Assalamu'alaikum", eyang ibu Van Den Berg memberikan salam pada Paijo. "Wa'alaikumussalam", Paijo menjawab salam dari eyang ibu Van Den Berg. ** Belanda Di rumah eyang romo Van Den Berg, Masih di ruang tengah.. "How is Darling, have it been appointed by our daughter calls from you ?", tanya eyang romo Van Den Berg. "Has been appointed Darling, but not our daughter or our son-in-law who picked up the phone Darling", jawab eyang ibu Van Den Berg dengan kecewa. "Be patient, later we can try Darling again to call our daughter", kata eyang romo Van Den Berg. "Okay darling", kata eyang ibu Van Den Berg masih dengan kecewa. Indonesia ASR production (kantor Afgan) Di lobby kantor.. "Sudah waktunya pulang saya jemput Titah ku sayang", kata Afgan. "Permisi pak Afgan", sambung Laras. "Iya, Laras tunggu, tunggu", kata Afgan lagi. "Iya pak Afgan, ada apa ?", tanya Laras. "Tolong kamu cek jadwal meeting untuk lusa ya, terus juga jangan lupa besok berkas di fotocopy ya", jawab Afgan. "Baik pak Afgan, maaf sebelumnya apakah ada lagi yang bisa saya bantu pak Afgan ?", tanya Laras lagi. "Tidak ada, oh ya saya lupa untuk jadwal meeting saya tunggu hari ini ya", jawab Afgan lagi. "Baik pak Afgan", kata Laras. "Ya sudah begitu saja", sambung Afgan. "Permisi pak Afgan", kata Laras lagi. "Iya", sambung Afgan lagi. Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Di anjungan Jawa Tengah.. "Baik anak-anak kalian sudah boleh istirahat, yang lainnya yuk kita latihan tari", kata Titah yang sedang mengajar muridnya. "Assalamu'alaikum", Afgan memberikan salam pada Titah. "Wa'alaikumussalam", Titah menjawab salam dari Afgan. "Saya tidak telat kan sayang ?", tanya Afgan. "Tidak kok mas Afgan", jawab Titah. "Kamu masih lanjut ngajar ya sayang ?", tanya Afgan lagi. "Iya masih lanjut ngajar mas Afgan sayang, kenapa ?", tanya Titah juga. "Ada yang ingin saya bahas dengan kamu", jawab Afgan. "Soal apa itu mas Afgan ?", tanya Titah lagi. "Soal kanjeng ibu, Titah ku sayang", jawab Afgan lagi. "Ha.., kanjeng ibu kenapa mas Afgan ?", tanya Titah lagi. "Papi di telepon terus dengan kanjeng ibu", jawab Afgan lagi. "Coba Titah lihat HP juga deh, Titah juga di telepon terus oleh kanjeng ibu, ada apa ya mas, duh batin Titah kok jadi tidak enak seperti ini ya", kata Titah yang panik. "Kalau urangrumah denai alah berbicara sarupojo tu tandanya memang ado apo-apo jo mande mertua denai, denai harus telepon Laras untuk menunda meeting jo klien dambisuak jo segera terbang ke belanda dambisuak", kata Afgan dalam hati yang panik juga. "Mas, mas, mas Afgan, ih kok tidak di respon sih Titah panggil, uda Afgan", kata Titah dengan kesal. "Iyo sayang ado a ?", tanya Afgan. "Kanapa bengong sarupojo tu ayo sedang mikir a atau ado yang uda Afgan rahasiakan dari Titah ya ?", tanya Titah juga. "Indak ado yang suami waang rahasiakan pado waang, urangrumah denai", jawab Afgan. "Oh begitu", seru Titah. "Sayang besok kamu terakhir mengajar tari dan saya juga terakhir kerja", kata Afgan. "Loh kok gitu, kenapa mas Afgan ?", tanya Titah lagi. "Lusa kita terbang ke Belanda ya, sudah lama rasanya tidak menjenguk kanjeng ibu dan kanjeng romo", jawab Afgan lagi. "Iya mas Afgan", kat Titah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD