Malamnya, Rian mengantarku pulang ke rumah. Seperti dugaan, mama langsung menyambut Rian bak anak laki-laki yang sudah tidak lama pulang. Aku mencebik melihat kedekatan mereka. Aku yang anaknya saja boro-boro disambut. Baru pulang, langsung disuruh ini-itu. Soal Kahfi, memang sudah kukatakan pada ayah dan mama bahwa aku menolak lamaran tersebut. Aku hanya mengaku belum siap berumah tangga. Dari awal, ayah maklum dengan keputusanku, tapi mama memang harus drama dulu. Sehingga, baru tadi pagi Mama mau bicara padaku lagi. Entah jurus apa yang ayah berikan sampai mama langsung berubah seperti itu. "Assalamualaikum." Begitu mendengar suara salam, kuletakkan kembali pisau, lantas beranjak ke ruang tamu untuk menemui Adin yang kusuruh mampir dan membawakan buku yang ingin kupinjam. "Masuk, D

