permainan 5

995 Words
Devina membalas lumatan bibir Sean dengan tak kalah beringasnya dari Sean. Tidak hanya bibir Sean yang menikmati tubuh indah Devina, tapi tangan Sean juga tidak kalah aktifnya untuk menyentuh dan memainkan gunung gembar Devina, bahkan Sean sampai tidak sadar ia menggerakkan pusakanya pada bagian intim Devina yang masih memakai kain lengkap, hingga Devina dan Sean sama-sama mendesah. Saat Sean ingin membuka kain segitiga Devina, tangan Devina menahan tangan Sean, hingga Sean menghentikan permainan bibirnya dan menatap Devina dengan nafas yang masih ngos-ngosan. "Kenapa, Tante? Apa Tante tidak menginginkan hal yang lebih, dan hanya sebatas pancingan saja? "tanya Sean dengan wajah yang terlihat sangat merah karena menahan gairahnya. "Bukan waktu yang tepat, Sayang. Kita atur waktu yang tepat dulu. Sabar ya. "Jawab Devina seraya membenarkan pakaiannya, dan mengelus pelan pusaka Sean yang terlihat semakin membesar di balik kain yang menutupinya. Devina keluar dari ruangan Sean, dan membiarkan Sean tersiksa dengan hasrat yang tidak bisa tersalurkan. Baru saja Devina pergi, pintu ruangan Sean kembali terbuka dan Shela masuk, membuat Sean terkejut. "Kak Sean kenapa? "tanya Shela heran saat melihat wajah Sean yang terlihat merah padam. Mendengar pertanyaan Shela, dengan cepat Sean merubah ekspresinya, dan membenarkan pakainya, lalu mendekati Shela. "Tidak apa-apa. Aku cuma capek aja banyak kerjaan. Kayak butuh kamu. "Ujar Sean seraya memeluk Shela, dan mencium leher Shela, membuat Shela tersenyum dan membalas setiap sentuhan Sean. Namun tidak berselang lama, Shela mendorong pelan d**a Sean, hingga Sean sedikit menjauh dari tubuhnya, dan Sean semakin frustasi karena hasratnya tidak bisa tersalurkan. "Tunggu sampai kita menikah ya. "Kata Shela yang membuat Sean terpaksa memperlihatkan senyumnya, meski Sean begitu sangat kecewa, karena gairahnya sudah di ubun-ubun, ia tetap memaksakan diri untuk menunjukkan sikap santainya, dan senyumnya. "Ya sudah, ayo aku antar pulang, sudah malam. "Ujar Sean mengajak Shela pulang, karena waktunya juga sudah malam. "Makan malam dulu ya, "kata Shela yang hanya di balas anggukan kepala oleh Sean, setelah itu Sean pun menggandeng tangan Shela dan keluar dari gedung perusahaannya. Karena waktunya juga sudah hampir habis jam makan malam, jadi mereka berdua memutuskan untuk makan di luar, baru setelah itu mereka langsung pulang karena sudah malam. Sesampainya di rumah Shela, Sean memilih mengantar Shela hanya sampai di depan pintu rumah saja, tidak berniat untuk masuk, karena Sean berniat ia akan langsung pulang yang penting sudah mengantar Shela sampai rumah dengan selamat. "Tidak makan malam dulu? "tanya Devina yang langsung keluar dari rumah saat melihat Sean membalikkan badannya untuk kembali ke mobilnya. "Kamu sudah makan malam tadi di luar, Tante, "jawab Sean dengan penuh keramahan seperti tidak pernah terjadi sesuatu sebelumnya dengan Devina. Devina yang mendengar jawaban Sean langsung mengedipkan sebelah matanya pada Sean, dan tentunya itu tanpa sepengetahuan Shela, membuat wajah Sean kembali merah karena otaknya langsung traveling pada gunung kembar Devina saat ia nikmati tadi di kantor. Dengan langkah terburu-buru, Sean langsung masuk ke dalam mobilnya, dan Devina juga masuk ke dalam rumahnya. Keesokan paginya, Shela buru-buru berangkat ke kampus sampai tidak sempat sarapan, hingga di tegur oleh Devina karena tidak sarapan. Tapi karena Shela buru-buru, ia tetap tidak sarapan dan langsung berangkat ke kampus. Tidak berselang lama dari kepergian Shela, mobil Sean memasuki halaman rumah Devina, membuat Devina yang melihatnya langsung mengerutkan keningnya karena Sean datang tanpa ia ketahui sebelumnya. Sean turun dari mobilnya dan langsung mendekati Devina. "Shela baru pergi, apa tidak bertemu tadi di jalan? "tanya Devina dengan wajah seriusnya, karena Devina memang tidak tau apa maksud kedatangan Sean ke rumahnya selain untuk bertemu dengan tunangannya, yaitu Shela. "Aku tidak sedang mencari tunanganku, "kata Sean "Lalu? "tanya Devina yang masih belum mengerti. Sean langsung sedikit mendorong tubuh Devina masuk ke dalam rumahnya, dan hanya dengan sekali tendangan saja, pintu rumah langsung tertutup. "Aku memang mencari Tante. Aku belum sarapan, dan sarapan berbeda untuk kali ini merupakan paksaan dari aku. "Ujar Sean yang langsung memainkan gunung kembar Devina, dan bahkan menyesap gunung kembar Devina dengan penuh nafsu, hingga menciptakan hawa panas di pagi hari untuk keduanya. "Ahhh...Sean... emmhhh.. Devina yang memang mudah terpancing hasratnya, langsung kenikmatan saat Sean memainkan gunung kembarnya, bahkan saat tangan Sean mulai bermain di bagian bawah, Devina sampai kehilangan akalnya. Saat Devina ingin membuka celana Sean, dengan cepat Sean langsung tersadar, dan menjauhkan tubuhnya dari Devina. "Kenapa? "tanya Devina "Ini tidak bisa diteruskan. Tante seharusnya tidak seperti ini, "kata Sean seraya membenarkan pakaiannya, karena Sean sadar kalau Devina adalah calon mama mertuanya. "Tenanglah. Ada apa? "tanya Devina "Tante sadar, aku ini calon menantu Tante, dan kita tidak bisa melakukan hal ini, karena aku tidak mau menyakiti Shela, wanita yang begitu sangat mencintai aku, "ujar Sean yang membuat Devina tersenyum. "Dia mencintaimu, dan aku juga mencintaimu, Sean, "kata Devina tegas "Tapi tunangan aku itu Shela Tante, "kata Sean yang masih berusaha menyadarkan Devina. Entah kenapa, Sean jadi merasa frustasi kala dirinya dicintai dua wanita sekaligus, dimana dua wanita itu antara anak dan ibunya. "Aku tau kamu memilih Shela menjadi tunangan mu, dan aku akan menjadikan diriku sebagai istrimu, karena aku juga mencintaimu! "dengan penuh ketegasan Devina tanpa ragu akan menggeser posisi Shela bagi Sean, membuat Sean tidak percaya. "Tante jangan gila! "ujar Sean tidak percaya dengan ucapan penuh kesungguhan dari Devina. "Aku gila, dan itu karena aku mencintaimu, "Devina mengakui kalau dirinya gila, dan Devina tidak perduli dengan apa yang dikatakan Sean, karena yang diinginkan Devina hanya ingin memiliki Sean. "Aku mau kita saling menyadari, Tante. Dan aku harap, ini menjadi trakhir untuk kekhilafan kita. "Ujar Sean tegas "Tidak akan ada kata terakhir, karena aku ingin memilikimu. Tidak perduli meski kamu masih ingin mempertahankan Shela sebagai tunanganmu, aku tetap tidak akan menyerah. "Ujar Devina yang tidak ingin menyerah. "Tapi Shela itu anak Tante, masa Tante tega nyakitin anak sendiri, "ujar Sean yang masih merasa tidak percaya dengan apa yang menjadi keinginan calon mama mertuanya tersebut. "Dia bukan anak kandungku. Dia anak dari saudara perempuanku. Jadi tidak ada alasan kan untuk kita bersama. "Ujar Devina yang membuat kedua bola mata Sean membola sempurna saat mendengar pengakuan Devina, yang ternyata Shela bukan anak kandung Devina.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD