Nino berdiri di depan pintu kamar Nada. Sejenak dia meragukan diri, memanggil Nada atau tidak. Pasalnya wajah Nino sedikit terluka sekarang, lantas dia meringis beberapa kali akibat nyeri yang dia rasakan.
"Kak." Nino akhirnya mengetuk kamar Nada lalu membukanya saat terdengar Nada mempersilakannya masuk.
"Astaga Nino, muka lo kenapa gitu?!" Nada langsung berdiri dan mencari kotak p3k lantaran melihat wajah Nino yang terluka.
Nino tertunduk dan duduk di ranjang Nada. "Maafin Nino, Kak."
"Kenapa lagi sih lo?" Nada berusaha mengobati luka Adiknya dengan perlahan walaupun dia sedang marah.
"AW!"
"Belum kena, kedondong!"
Nino menghela napas di sana. Pikirannya benar-benar seperti anak yang kehilangan arah.
"Lo kenapa? Cerita sama gue, dibully, ya?" tanyanya pada Adiknya dan mencoba dengan nada yang lembut.
"Gue bukan anak lemah kali yang bisa dibully."
"Terus kenapa?"
"Adalah," Nino mengingat dengan jelas, tadi dia memang patut dihajar lantaran sikap tidak sopannya.
Nino yang sedang berjalan sendiri tiba-tiba tidak sengaja tersandung dan menyenggol motor milik seseorang hingga motor itu roboh. Pemiliknya tampak marah dan bukannya minta maaf, Nino malah nyolot dan tidak sopan dengan orang tersebut yang terlihat lebih tua.
Terlebih orang itu terlihat seperti preman dan banyak rekannya yang sepertinya mereka adalah anggota geng motor. Bukannya takut, Nino malah semakin menantang dan mengejek orang itu karena wajahnya yang mengerikan dan penuh bekas luka bahkan ada beberapa luka yang masih basah. Siapa yang tidak marah? Untungnya ada Hyunjin yang melihat dan menyelamatkan Nino sebelum anak itu benar-benar babak belur.
Nino terkejut melihat Hyunjin di sana yang ternyata terlihat sangat akrab dengan orang yang menghajarnya itu.
"Nino?!"
"Ya!"
"Malah ngelamun!"
"Oh iya."
Nino lalu menghela napas dan mencoba menjelaskan pada Kakaknya dan tidak lupa dia menyebut Hyunjin sebagai penyelamatnya.
"Gue males denger nama itu."
"Kak, gue juga mau bilang. Yang lo lihat waktu itu bukannya di ngasih rokok, dia cuman ngejelasin ke gue kalau rokok itu bahaya untuk anak di bawah umur kayak gue."
Nada menatap Nino tidak percaya.
"Serius Kak, waktu itu gue mau jelasin, tapi lo lagi emosi-emosinya yaudah gabisa, mana lo nggak ngasih kesempatan gue buat jelasin pula."
Nada langsung terdiam di sana, tidak tahu lagi harus bereaksi apa.
"Bang Hyunjin orang baik, Kak. Walau emang keliatannya ngeri dan temen-temennya preman gitu, tapi mereka baik serius deh." Nino menjelaskan kepada Nada lagi.
"Oh iya, tadi juga gue lihat wajah Bang Hyunjin kayak banyak bekas luka, temen-temennya juga deh, gue jadi khawatir."
Nada benar-benar terdiam hingga Nino keluar dari kamarnya.
"Jangan terlalu benci sama Bang Hyunjin, Kak. Dia orang baik," kata Nino sebelum keluar dari kamar Nada itu.
Nada melemparkan tubuhnya ke ranjang, dia lalu menghela napas panjang dan benar-benar merasa berslaah kepada Hyunjin.
***
Nada membuka layar ponslenya dan langsung menghubungi Sandra di sana.
San, lo jadi nginep lagi kan?
Jadi, dong.
Kapan kesini?
Bentar lagi.
Buruan, gue ada yang mau gue ceritain.
OTW!
Sandra memang sangat gerak cepat jika ada hal seperti ini.
Dan benar saja, hanya membutuhkan waktu lima belas menit untuk Sandra menginjakan lantai rumah Nada.
"Na ...."
"Masuk!"
Sandra masuk dan tidak lupa membawa makanan. Apapun situasinya, makannya jangan lupa, begitu kira-kira motto hidup Sandra.
"Kenapa kenapa kenapa?" tanya Sandra sambil menyusun makanan yang dia bawa di piring yang memang sudah dia ambil di dapur Nada sebelum berjalan ke kamar temannya itu.
"Nih, gue bawa cilor sama enak banget!" Sandra memakan cilor itu dan menatap Nada, menunggu cerita apa yang bakal dikeluarkan Nada.
Nada menyomot cilor itu dengan ganas sebelum menceritakan sesuatu pada Sandra. "Gue salah paham sama Hyunjin," katanya yang membuat Sandra sedikit terbatuk dan tersedak.
"Gimana-gimana?" tanyanya seraya menegak air putih.
Nada menghela napas panjang. "Ternyata dia bukan memberi rokok ke Nino, tapi dia lagi bilangin ke Nino kalau gabaik ngerokok gitu," katanya yang kemudian tertunduk di sana. "Gimana dong, gue udah suudzon sama Hyunjin, jadi nggak enak."
Sandra bangkit dari duduknya. "Nahkan apa kata gue, Hyunjin nggak seburuk yang lo kira, Na."
Nada terdiam dan mulai merasakan perasaan yang amat bersalah. "Ya, maaf."
Sandra kembali duduk dan menghadap sahabatnya itu. "Na, tadi gue nemuin Hyunjin di kampus, terus gue tanya semua ini ke dia, lo tau dia jawab apa?" Sandra menarik napas dalam. "Dia jawab, dia nggak perlu jelasin apa-apa, biar semesta yang menjawab dengan sendirinya."
Nada terdiam.
"Keren banget kan!" Sandra menarik napas dalam lagi. "Katanya, dia merasa gak pantes buat ngebela diri karena dirinya nggak baik-baik amat."
Nada menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Kok jadi gue yang malu, ya?"
"Oh iya, satu lagi. Katanya salam sama lo, jangan terlalu mikirin dia, nanti kangen!" Sandra mengatakan itu dengan senyumnya yang mengejek Nada. "Kayaknya Hyunjin suka beneran deh sama lo!"
Nada merebahkan tubuhnya pada ranjang. "Lo tau kan San, hati gue sebenarnya kemana?" katanya menatap Sandra dengan lekat. Dia tahu, jika Sandra pasti menyadari kemana hatinya telah berlabuh.
"Jaehyun?" Sandra menyahut takut-takut.
Nada tertawa miris. "Tapi gue juga gamau berharap sama dia, nanti ujung-ujungnya gue malah kehilangan dia lagi."
Sandra ikut merebahkan tubuhnya di samping Nada. "Ribet banget, Na. Gue nyerah ah, gamau mikir."
Mereka berdua lalu tertawa lepas, entah apa yang lucu. "Lagian, gue lagi kayak ada di fase nggak percaya sama cowok San, lo pasti ngerti deh kenapa gue begini."
Sandra mendengus. "Yaudah mending kita makan cilor lagi aja! Kasian dia dianggurin nih," ucapnya seraya bangkit dari rebahannya.
Nada ikut bangkit dan keluar kamar, mencoba mencari makanan apa yang ada di dapurnya. Apapun kondisi hatinya, yang penting makan, begitu pikirnya sekarang ini.
Dia menemukan beberapa kue buatan Bu Ning yang masih tersisa lalu membawanya ke kamar.
"Na, tapi jujur deh, masa lo ngak suka sama Hyunjin sih?" Pertanyaan Sandra itu membuat Nada tertawa sekarang.
"San, perasaan nggak bisa dipaksa, kan? Lagian emang dia suka sama gue beneran?"
"Yakin banget gue dia suka sama lo, Na!"
Nada memakan kue dengan gamblang. "Tapi kan dia nggak ngomong."
Sandra menyentuh kedua sisi pipi Nada. "JADI LO NUNGGUIN DIA NGOMONG?!"
Nada terkejut dengan kata-kata Sandra barusan. "ENGGAK!"
Sandra menatap Nada dengan tatapan tidak percayanya. "BENERAN ENGGAK ODOL JEPANG!"
Sandra tertawa di sana. "Awas Na, kalau gini caranya, lo bisa jatuh cinta sama Hyunjin seiring berjalannya waktu."
"LO MAU GUE GAMPAR?"
"GAMPAR PAKE DUIT DUA MILIAR DEH MAU!"
"DIH DASAR!"
Nino membuka kamar Nada. "Ribut banget! Diam nggak! Gue kalah main game gara-gara kaget dneger teriakan kalian! Ah nyebelin!" lalu anak itu keluar kamar Nada tanpa menutup kembali pintunya.
"Nino tutup pintunya!" Nada berteriak.
"Bodo!"
***