BAB 30

1030 Words
Akhirnya Nada dan Sandra sudah berdiri tepat di depan kamar dahlia, rumah sakit utomo. Cewek itu menarik napasnya panjang-panjang sebelum mengetuk pintu dan masuk ke ruangan itu. Istri baru Papanya itu menjelaskan lagi lewat pesan w******p yang mana dia salah menyebut tentang penyakit Dion. Yang benar adalah gagal ginjal kronis yang artinya kondisinya lebih serius dibanding gagal ginjal akut. Dan jika tidak ada perkembangan baik gagal ginjal kronis ini akan berubah menjadi gagal ginjal permanen dan sangat berbahaya. Nada mengetuk pintu lalu membukanya. Dia dapat melihat wajah senang dari istri baru baru Papanya itu dan Tasya yang terlihat senang melihat kehadiran Nada. Namun sayangnya, Dion sedang tertidur setelah meminum obat dan disuntik tadi. Nada tidak ingin berlama-lama di sana dan setelah beberapa menit dia berpamitan untuk pulang, yang penting dia telah melihat wajah Papanya. Hati Nada sangat sakit melihat cinta pertamanya itu terbaring amat lemah di ranjang rumah sakit. "Terima kasih sudah datang, Nada. Kalau bisa besok ke sini lagi, Ya. Papa kamu nungguin kamu," ujar wanita itu seraya tersenyum pada anak tirinya. Nada hanya mengangguk singkat dan pamit meninggalkan ruangan itu. Begitupun Sandra dia mengangguk dan tersenyum pada wanita itu sebelum meninggalkan ruangan. "Gue nggak kuat lama-lama di sana, San. Hati gue maish belum ikhlas sepenuhnya dengan apa yang sudah Papa lakukan." Nada menatap Sandra dengan matanya yang memanas. Sandra tersenyum. "Nggak papa, Na. Yang penting hari ini kamu sudah hebat banget," ujarnya yang menepuk pundak sahabatnya itu. "Gue bakal selalu ada kalau lo butuh tempat sambat." Nada tersenyum, untung saja dia mengajak Sandra ke sini, jika saja dia sendiri, mungkin sekarang dia tidak sekuat ini. *** Mereka berdua keluar dari rumah sakit dan dikejutkan oleh Hyunjin yang terlihat penuh luka dan perban di beberapa bagian tubuhnya yang sedang berdiri dengan beberapa orang di depan rumah sakit. Sandra dan Nada tidak mungkin salah lihat jika yang mereka lihat adalah Hyunjin. "Itu beneran Hyunjin kan, Na?" tanya Sandra yang masih sedikit ragu namun sangat yakin. Cowok itu terlihat dibantu oleh beberapa temannya yang juga sama lukanya namun Hyunjin terlihat yang paling parah. Sebelum Nada mendekat, salah satu teman Hyunjin yang bernama Tirta lah yang terkejut terlebih dahulu karena dia melihat Nada di sana. Dia lalu menyenggol lengan Hyunjin, memberi kode bahwa Nada ada di belakangnya. Tirta memang mengenal Nada dari cerita-cerita Hyunjin setiap hari. Hyunjin tampak terkejut melihat dua cewek itu yang memasang wajah khawatir. "Nada ...." "Gue juga ada," sahut Sandra yang sepertinya tidak terlihat oleh Hyunjin saat ini. "Oh iya, Sandra," ujar Hyunjin lagi yang sedikit terkekeh. Nada meringis, ikut merasa ngilu melihat luka Hyunjin, bahkan lututnya sepertinya juga terluka. "Jatuh dari motor," ujar Hyunjin menjelaskan terlebih dahulu sebelum Nada dan Sandra bertanya. "Sebelumnya berantem tapi," sambungnya apa adanya. Nada mengangguk. "Tapi nggak papa kan? Maksudnya nggak ada yang parah?" tanyanya pada Hyunjin dengan wajah yang benar-benar khawatir. "Ada," jawab Hyunjin dengan wajah seriusnya. "Jantung gue berdebar kencang banget sekarang, ada yang nggak beres nih." "ASTAGA!" pekik Sandra yang sadar jika Hyunjin ingin menggoda Nada. "Yeee ... Bambang. Huuu ... yaudah kalau gitu kami duluan aja ya!" seru Tirta yang langsung mengerti keadaan. "Bisa pulang sendiri kan lo nanti?" tanyanya pada Hyunjin. Hyunjin terkekeh lalu menjawab. "Bisa bisa." "Yaudah kami duluan. Nada duluan, ya! Temennya juga duluan ya!" seru Budi yang berpamitan di sana. Mereka lantas meninggalkan Hyunjin seorang diri yang tinggal mereka berdua dengan Nada. "Lo sendiri ngapain di sini, Na? Kalian maksudnya," tanya Hyunjin yang sedari tadi ingin sekali dia tanyakan. Nada terlihat tidak ingin menjawab. Lantas Sandra yang melihat Nada tidak menjawab juga tidak menjawabkan karena dia tahu Nada berhak ingin berbagi kisah atau tidak kepada orang lain. "Kenapa sih, hobi banget berantem?" tanya Nada tiba-tiba, mengalihkan pembicaraan. "Iya, kayaknya lo kalau mode normal aja udah perfect Jin!" seru Sandra yang tidak jelas ingin memuji atau menghina. Hyunjin terkekeh di sana. "Bukan hobi, Guys. Tapi kewajiban," jawabnya. Nada tidak habis pikir. Bagaimana bisa berkelahi dikatakan kewajiban oleh Hyunjin. "Kewajiban itu sholat, bukan berkelahi." Sandra berceletuk dengan kata-kata yang menusuk. "Ya bagi gue berantem juga," jawab Hyunjin lagi sambil tertawa. Entah, rasanya dia bahagia melihat Nada yang memasang wajah khawatir. Naha mendengus. "Terserah lo deh, yaudah cepet sana pulang," usirnya dengan kesal. "Lo juga mau pulang?" tanya Hyunjin pada Nada. "Pake apa? Yaudah bareng gue aja, gue antar." Nada menatap Sandra yang sudah memasang wajah kesal di sana.  "Oh iya lupa, ada Sandra!" pekik Hyunjin lagi kini diiringi tawa yang benar-benar pecah karena wajah Sandra benar-benar lucu sekarang. "Yaudah, gue pulang duluan ya, pengen istirahat," ujar Hyunjin lalu melanjutkan langkah menuju motornya terparkir walau kaki yang sedikit terpincang. Hyunjin melajukan motornya dan meninggalkan rumah sakit. "Hmm, gimana menurut lo, San?" tanya Nada pada Sandra. "Apanya?" "Hyunjin," ujar Nada memperjelas. Sandra menghela napas. "Bingung deh, tapi kita nggak mungkin nyuruh dia berhenti bergaul dengan gengnya kan, kalau itu memang kebahagian dia, berarti sama aja kita merenggut kebahagiaan dia." "Bener," kata Nada sambil mengangguk. Walau Hyunjin yang dia temui hari ini terlihat babak belur, namun rasanya beda saat dia melihat Hyunjin berkelahi. Saat itu dia belum terlalu tahu bagaimana aslinya Hyunjin dan tentu saja sangat tidak menyukai hal tersebut. Sekarang, dia sudah mengenal Hyunjin lebih jauh jadi dia sangat tahu dan hal yang dilakukan Hyunjin tidak semata-mata benar-benar buruk. Dari sini kita belajar, kita memang tidak bisa bahkan tidak berhak benar-benar menilai seseorang jika belum mengenal orang tersebut lebih dalam. Jangan terlalu cepat mengambil keputusan sebelum tahu apa yang benar-benar terjadi. Pun sama halnya dengan menilai sesuatu hanya dari satu pihak. Kita tidak tahu kebenaran sesungguhnya jika tidak melibatkan semua pihak, karena jika hanya satu pihak itu tandanya kita hanya tahu kurang dari setengah cerita yang ada, ibaratnya dalam makanan bikin mie kuah tapi tidak ada kuahnya, tidak sinkron. "Positif thinking aja, Na. Gue yakin Hyunjin orang yang sangat baik buat lo," kata Sandra yang membuat Nada membulatkan matanya. "Buat gue? Kan gue nggak ada apa-apa, San!" Sandra menghela napas kesal. "Udah deh, tanpa mengaku juga gue tahu, Na kalau lo mulai perlahan membuka hati untuk Babang Hyunjin. a***y!" Sandra tidak mendapat respon di sana dan Nada malah langsung berjalan meninggalkan sahabatnya itu menuju motor mereka diparkir. "NA TUNGGU!" teriak Sandra yang sadar jika Nada meninggalkannya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD