Nino kembali naik menuju kamar Daffa dengan membawa beberapa camilan yang sudah dia beli. Hyunjin yang tadi tengah konser di kamarnya kini hening, Nino dapat melihat jika cowok itu sedang terkapar dengan mata yang terpejam di atas ranjangnya.
“Kok secepat itu sih, bisa langsung tidur Abang lo,” ujar Nino yang sudah sampai di kamar Daffa.
Daffa mendengus. “Begitulah, memang ajaib dia anaknya mah.”
Nino duduk dan bukannya bersiap main PS, dia malah membuka cemilan yang dia bawa.
“Daf,” ujarnya tiba-tiba yang membuat temannya itu menoleh padanya.
“Lo kalau jadi gue harus gimana?” tanyanya yang membuat Daffa mengeluarkan ekspresi bingungnya.
“Hah? Gimana-gimana? Lo lagi banyak pikiran ya? Apa lagi galau?” tanya Daffa.
Nino menghela napas berat. “Bokap gue sakit, Daf,” katanya lalu tertawa tipis. “Gue nggak tahu dia masih layak atau enggak gue jenguk.”
Kalau sudah begini, Daffa bingung ingin menyahut apa.
“Oh … pantes di sebelah keliatan sepi,” ujarnya akhirnya menjawab karena memang rumah Papa Nino sekarang tepat di sebelah rumahnya.
Nino kembali menghela napas. “Gue masih belum bisa maafin dia, Kakak gue tapi bersikukuh biar gue jengukin dia.”
“Gue tahu kok, lo pikirin aja dulu tapi jangan sampai nanti keputusan lo membuat lo nyesal.”
Nino mengangguk, dia juga sangat bingung dengan dirinya sendiri.
“Kalau lo minta temenin gue, gue selalu siap kok,” kata Daffa seraya mengambil cemilan yang sudah terbuka. “Bilang aja ntar.”
Nino mengangguk lagi. “Ah, gue jadi nggak mood main PS, sorry ya,” ujarnya yang benar-benar merasa tidak enak dengan temannya. Dan sekarang dia memang sangat terlihat tidak bersuasana hati baik sama sekali.
“Santai aja kali, gue ngerti kok,” ujar Daffa yang memang mengerti bagaimana perasaan Nino sekarang walau tidak sepenuhnya.
Nino yang beberapa menit rebahan tadi tiba-tiba terbangun. “Daff,” ujarnya memanggil temannya itu.
“Oi.”
Nino menghela napas berat namun pasti. “Gue mau ke rumah sakit deh,” ujarnya dengan mata yang benar-benar yakin.
“Oke, ayok!” seru Daffa yang benar-benar berniat ingin menemani temannya itu. “Kita bangunin Bang Hyunjin aja deh, minta antar pakai mobil,” katanya lagi.
“Jangan, kasian dia kan baru tidur,” kata Nino yang merasa tidak enak.
“Udah nggak papa, dia pasti mau kok, apalagi kalau di sana ada Kakak lo,” ujar Daffa yang sangat yakin dan seraya berjalan menuju kamar Abangnya itu. “Udah, ikutin gue aja.”
Nino mengikuti Daffa di sana yang kini sudah sampai di hadapan Hyunjin yang sedang tidur sambil menganga.
“Bang ….” Daffa menggoyang-goyangkan tubuh Abangnya. “Bang, bangun.”
“Hah?” Hyunjin membuka matanya dengan ekspresi setengah sadar. “Kenapa ah, ganggu orang tidur aja.”
Daffa menggaruk kepalanya. “Anterin kami ke rumah sakit yok. Nino mau jengukin Papanya.”
Biasanya cowok itu sangat enggan menuruti kemauan adiknya, kali ini dia langsung terkesiap dan bangun dari ranjang. “Yok, otw otw,” katanya padahal wajahnya masih sangat terlihat jika nyawanya belum benar-benar terkumpul.
Daffa dan Nino mengangguk dan bernapas lega.
“Siap-siap aja dulu Bang nggak papa, nyawanya kumpulin dulu,” kata Nino yang kasihan melihat Hyunjin di sana.
Hyunjin menguap. “Yaudah gue mandi dulu, ya!”
“Oke!”
***
Dalam perjalanan mereka hanya diam, dan Hyunjin yang tengah fokus menyetir itu merasa kesepian. “Sepi amat, sih. Gue putar musik kali ya.”
Aku mengerti
Perjalanan hidup yang kini kau lalui
Ku berharap
Meski berat, kau tak merasa sendiri
Kau t'lah berjuang
Menaklukkan hari-harimu yang tak mudah
Biar ku menemanimu
Membasuh lelahmu
Izinkan kulukis senja
Mengukir namamu di sana
Mendengar kamu bercerita
Menangis, tertawa
Biar kulukis malam
Bawa kamu bintang-bintang
'Tuk temanimu yang terluka
Hingga kau bahagia
Aku di sini
Walau letih, coba lagi, jangan berhenti
Ku berharap
Meski berat, kau tak merasa sendiri
Kau t'lah berjuang
Menaklukkan hari-harimu yang tak indah
Biar ku menemanimu
Membasuh lelahmu
Izinkan kulukis senja
Mengukir namamu di sana
Mendengar kamu bercerita
Menangis, tertawa
Biar kulukis malam
Bawa kamu bintang-bintang
'Tuk temanimu yang terluka
Hingga kau bahagia, ha-ha
Ha-ah, ha-ha
Izinkan kulukis senja
Mengukir namamu di sana
Mendengar kamu bercerita
Menangis, tertawa
Biar kulukis malam
Bawa kamu bintang-bintang
'Tuk temanimu yang terluka
Hingga kau bahagia
'Tuk temanimu yang terluka
Hingga kau bahagia
“Lagunya gini amat, Bang? Yang seru dikit napa?” Daffa protes lantaran lagu yang diputar Abangnya itu sangat mellow.
Bukannya menanggapi Adiknya, Hyunjin malah bernyanyi di sana. “IZINKAN KULUKIS SENJA!”
Daffa dan Nino hanya bisa menghela napas pasrah sekarang. Tampaknya Hyunjin sangat menyukai lagu itu sekarang.
***
Mereka bertiga sudah sampai di depan ruangan Dion. Nino menghentikan langkahnya saat bisa melihat smeua apa yang ada di dalam ruangan itu dari bagian pintu yang terdapat kaca transparan.
“Nggak masuk?” tanya Hyunjin yang melihat Nino tampak ragu di sana.
Nino menundukkan kepalanya, yang baru saja dia lihat adalah Nada yang tampak sangat akrab dengan anak kecil di sana. Mereka terlihat sedang bermain masak-masakan dengan perabotan palsu yang mungil.
Entah kenapa seperti ada hantaman di hati Nino. Seperti ada yang membuatnya tidak terima kenapa harus melihat itu.
Nino berbalik, menghadap Hyunjin dan Daffa di sana. “Nggak jadi, deh,” ujarnya yang langsung melangkah pergi dari sana.
“Nin, kemana?!” Daffa langsung mengikuti temannya.
Sementara Hyunjin melanjutkan langkah ke ruangan Dion, dia mengetuk pintu dan masuk ketika Nada sudah melihatnya dari dalam.
Cewek itu membulatkan matanya. “Kok di sini?” tanyanya pada Hyunjin yang tidak ada angin dan hujan tiba-tiba sudah di hadapannya.
Hyunjin menarik napas. “Tadi gue sebenernya nganter Nino,” katanya di sana.
Nada langsung berdiri. “Nino? Dia mau ke sini?” Matanya terlihat berbinar. “Serius?”
Hyunjin mengangguk. “Tadi sudah sampai di depan pintu, tapi nggak jadi masuk dan pergi gatau kemana, lagi disusulin Daffa,” ujar Hyunjin lagi menjelaskan.
Dion yang memang sedang bangun itu merespon begitu mendengar nama Nino. “Nino ke sini?” ujarnya menatap Hyunjin.
Hyunjin menatap Dion di sana, baru sadar jika Papanya Nada itu sedang bangun. “Hai Om, kenalin saya temannya Nada, tetangga sebelah Om juga,” katanya menjelaskan.
Dion mengangguk. “Pantes sering lihat kamu,” katanya. “Nada, bantu Papa bangun,” ujarnya lagi yang ingin duduk itu lantaran kini dia tengah berbaring.
Nada langsung membantu Papanya untuk bangun. “Papa tenang aja, Nino pasti mau nemuin Papa kok,” kata Nada yang memberi semangat Papanya itu.
Dion mengangguk, matanya memerah dan terlihat sedikit berair. “Papa sangat merasa bersalah sama Nino,” katanya dengan suara yang bergetar. “Janji Papa ke dia masih banyak yang belum Papa turutin,” ujarnya lagi dengan mata yang semakin memanas.
Semua terdiam. Tasya masih asyik dengan mainan masak-masakannya.
“Siapa mau beli nasi goreng?!” Akhirnya Tasya memecahkan suasana yang amat sunyi tadi.
Sangat mengerti situasi, Hyunjin langsung menanggapi gadis kecil itu. “Kakak deh mau, nasi gorengnya dua piring, ya,” ujarnya seraya mendekati Tasya.
Nada tersenyum melihat Hyunjin yang benar-benar sangat bisa menarik perhatian anak kecil.
“Nama Kakak siapa?” Tasya bertanya dengan wajah polosnya.
Hyunjin terlihat berpikir. “Em … nama Kakak, Nata, salam kenal ya, kamu siapa?”
“Aku Tasya. Nama Kakak mirip sama Kak Nada,” ujar Tasya yang terlihat sangat senang.
Hyunjin hanya tertawa melihat tingkah lucu Tasya di sana.
***
Daffa mendapati Nino yang tengah duduk di sebuah kursi, masih di area rumah sakit di antara lorong-lorong ruang rawat. Daffa langsung duduk di samping temannya itu, tanpa bertanya apa-apa karena dia sangat paham, dalam keadaan seperti ini biasanya orang tidak mau ditanya dulu.
“Gue nggak cemburu, cuman hati gue masih belum nerima ada anak kecil yang juga anak Papa gue. Apalagi dia akrab banget sama Kakak gue tadi,” ujar Nino yang langsung menjelaskan kepada temannya tanpa ditanya.
“Rasanya kayak gue juga bingung ini kenapa, yang pasti hati gue sakit, Daff.” Nino menatap Daffa. “Gue harus gimana dong? Kekanakan banget ya.”
Daffa menepuk pundak temannya itu. “Terserah lo Nin, lo berhak nenangin diri dulu.”
Nino mencoba mengatur napasnya. “Sepuluh menit lagi deh,” ujarnya yang meminta waktu sepuluh menit untuk dia memutuskan harus menemui Papanyan atau tidak.
Daffa mengangguk. “Oke.”
“Thank you ya, Daff, lo sudah mau nenemin gue,” ujarnya menatap temannya itu.
“Santai aja.”
“Tapi lo masih normal kan?” tanya Nino yang membuat Daffa bingung.
“Hah? Maksudnya?”
Nino mengeluarkan senyum jahilnya. “Lo nggak suka sama gue, kan?” tanyanya yang ternyata masih sempat bercanda pada keadaan speerti ini.
“NAJIS!”
***