Mobil silver di depan membuat Nadin lekas berlari menghampiri. Kaca mobil terbuka dan tangan terulur dari dalam mengelus surai lembut Nadin. Wanita itu tersenyum kemudian memutari mobil dan duduk disebelah kemudi.
"Pagi sayang," sapa Edward sembari mencondongkan tubuh mencium dahi Nadin romantis.
"Pagi," balas Nadin tak lupa mengecup pipi kekasihnya. "Kita ga sempat sarapan di cafe biasa, aku udah lumayan telat," ujar Nadin melirik jam tangannya.
Edward mengangguk paham, menjalankan mobilnya menembus kepadatan lalu lintas di pagi hari yang sudah dipenuhi oleh mobil danmotor. Sebagian badan jalan dimakan oleh pejalan kaki dan penjual asongan. Saat di lampu merah seorang anak kecil mengetuk kaca mobil, Edward dengan wajah tak suka membuka kaca kemudian melemparkan uang sepuluh ribuan kepada anak kecil itu.
"Edward jangan dilempar, gak sopan," tegur Nadin melihat sikap tak peduli Edward membuatnya sedikit tak enak hati kepada anak kecil itu.
"Biarin aja sayang, mereka dapat uang gratis kok kenapa harus repot ngurus soal adab ini itu," sahut Edward tak peduli, ia malah mengelus rambut Nadin seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Nadin hanya melirik sekilas lalu kembali menatap kaca mobil, ini adalah sifat buruk seorang Edward yang sangat tidak disukai oleh Nadin. Pria ini sudah terbiasa hidup mewah dan berkecukupan, meski begitu Edward sangat baik kepadanya sehingga Nadin tidak dapat berbuat banyak selain tersenyum canggung karena sikap Edward.
Mobil silver Edward memasuki pelataran kantor, Nadin melepas seatbelt disusul pelukan hangat oleh Edward dan kecupan di puncak kepalanya. Nadin keluar.
"Aku pergi dulu," pamit Edward membuka kaca mobil menatap kekasihnya.
"Hati-hati," pesannya kemudian berbalik masuk.
Setelah memastikan Nadin masuk, barulah Edward melajukan mobilnya menjauh dari kantor. Sedangkan tak jauh dari tempat mobil Edward parkir tadi, ada sepasang mata yang menatap sinis keduanya.
"Cih, sok romantis."
***
"Sangat berbeda dengan tempat lamaku," keluh Nadin menatap tempatnya bekerja sekarang, karena dia sudah berubah profesi menjadi asisten pribadi Iyan, ruang kerjanya juga pindah ke ruang kerja Iyan. "Huft, padahal aku sudah nyaman di sana," lanjutnya lesu.
'Ceklek!'
Pintu terbuka menampakkan sosok Iyan berjalan angkuh mendekati Nadin. Pria itu menatap sinis wanita di depannya, entah kenapa suasana hati Iyan mendadak berubah. Dia kurang suka dengan Nadin atau karena kejadian sepuluh menit lalu?
Iyan mencondongkan tubuh menatap Nadin lekat, "Mulai sekarang kalau mau berangkat kerja Tante pake taksi aja." Nadanya terdengar aneh.
Dahi Nadin berkerut, "Aneh sekali Bapak ini."
"Saya serius Tante Nadin," tekan Iyan memegang kedua bahu Nadin, matanya masih menghunus tajam.
Nadin menepis kedua tangan Iyan dari bahunya, memasang sikap berkecak pinggang sambil mengibaskan rambutnya yang panjang, Nadin balas menatap tajam.
"Anak kecil seperti kamu sepertinya cukup labil, yakin ingin memimpin perusahaan?" Nadin bertanya meremehkan. "Saya dengar dari Pak Anto, yang kamu lakukan hanya bermain game setiap hari, kuliah saja baru semester lima, ck," decak Nadin disusul gelengan kecil.
'Bruk!'
"Awhhh!"
Nadin mendelik kesal karena Iyan yang mendorongnya ke dinding dan mengunci pergerakannya. Nadin tahu dia baru saja membangkitkan amarah bocil, baiklah Nadin kamu hanya perlu membujuknya dengan es krim atau apa pun itu. Iya, coba saja kalau Iyan mau.
"Sepertinya kamu meremehkan daya kerja saya," desis Iyan berbicara tepat di depan wajah Nadin, cukup maju sedikit lagi maka hal romantis lain akan terjadi dan Iyan melakukan itu. Dia memajukan wajahnya kemudian ....
'Plak!'
"Aduhh!"
Yaps, romantis sekali tamparan Nadin. Wanita cantik dengan rambut digerai bebas itu melipat tangan menatap Iyan kesal. Anak kecil ingin bermain dengan Nadin yang sudah senior, benar-benar lelucon.
"Jangan bermain lagi anak kecil, lebih baik kamu belajar mengelola perusahaan sebelum Pak Anto benar-benar pensiun. Jika kamu gagal belajar dengan baik perusahaan dan ribuan pekerja di dalamnya akan hancur, angka pengangguran melonjak naik itu karenamu." Nadin menarik kerah belakang Iyan, memaksa pria yang lebih muda 3 tahun darinya itu untuk duduk di kursi yang telah disediakan. Nadin mengelus bahu Iyan dan berbisik lembut, "Tante cantikmu ini mengawasi dari sini."
Belum sempat protes Iyan sudah dihadapkan dengan kurva keuangan dan hal-hal membosankan lainnya. Banyak sekali yang harus ia pelajari, Iyan bahkan tak sempat meregangkan jari, file dan pekerjaan lain datang lagi dan lagi. Sepertinya asisten pribadinya ini terniat sekali menyiksanya.
"Tante Cantik," panggil Iyan, "Bisa bantu saya?"
"Kenapa?"
"Jelaskan ini."
Nadin dengan lembut menjelaskan, mengajari Iyan perlahan cara mengelola perusahaan seperti yang diinginkan Anto. Nadin menjelaskan sebaik mungkin, sebaliknya Iyan malah asyik menatap wajah Nadin dari dekat.
Hidung bangir, mata agak sipit, bibir indah, pipi yang tidak bisa dibilang tembem atau tirus, perpaduan yang sempurna untuk menyebutnya cantik. Iyan menyangga kepala dengan satu tangan, mengamati Nadin dari dekat cukup membuat dadanya sedikit berdegup.
"Paham?" Nadin menoleh, mendorong dahi Iyan agar pria itu sadar.
"Iya paham," sahut Iyan mengusap dahinya kesal.
Nadin melirik arloji di pergelangan tangannya, sudah waktunya makan siang. Nadin kembali ke mejanya, membenahi semua dan siap pergi tetapi suara Iyan menghentikannya.
"Ke mana?"
"Makan."
Iyan ikut-ikutan melirik jam tangan, bibirnya membentuk huruf O, "Ikut, Tan."
Nadin menghela napas kesal, "Ya sudah, ayo."
Mereka berjalan beriringan, Iyan terus bertanya tempat yang ia lihat dan Nadin dengan sabar menjelaskan. Sebenarnya Iyan sudah tahu, dia hanya ingin Nadin terus bicara.
"Mau makan apa?" Nadin menekan lantai 1 dan lift mulai bergerak turun.
"Steak," sahut Iyan tak banyak berpikir.
Mereka keluar dari lift beriringan membuat beberapa pasang mata menatap curiga keduanya. Nadin menanggapi tatapan mereka dengan kerlingan nakal khasnya membuat beberapa dari karyawan mendengkus kesal.
"Jangan hiraukan, mereka memang gitu." Nadin menjawab sebelum Iyan bertanya, "Anak kecil, kamu bawa mobil?"
Iyan mengangguk, "Gak mungkin saya bawa sepeda ke sini meski mau." Pria itu mendengkus kesal karena tatapan jenaka Nadin. "Berhenti menatap begitu Tante, ngeri," tukasnya mendapat pukulan pelan dari Nadin.
"Hooo, anak kecil ini nyebelin banget." Nadin mengikuti langkah Iyan dari belakang, mobil Ferrari merah terparkir anteng di tempatnya.
Iyan membukakan pintu, Nadin segera masuk disusul Iyan ikut masuk dan duduk di belakang kemudi. Setelah dijelaskan ke mana mereka akan pergi barulah menjalankan mobilnya.
Mereka sampai.
"Steak di sini katanya enak loh."
"Oh ya? Kalau ga enak Tante mau bayar semuanya?"
Nadin menatap horor sembari mengangkat tangannya, "Anak ini."
Iyan menghindar cepat, ia tersenyum kecil mengikuti Nadin dari belakang. Mau bagaimana juga tetap Iyan yang akan membayar nantinya.
Iyan dan Nadin duduk berhadapan, Nadin membolak-balikan buku menu sedangkan Iyan membuka aplikasi game online di HP-nya. Suara denting pedang dari game itu membuat Nadin mengalihkan pandangan.
"Pelanin suaranya kita lagi di tempat rame," tegur Nadin dan ajaibnya Iyan langsung menurut.
Dua porsi steak datang, ditambah lobster dan salad. Wah Nadin memang berencana menguras dompet Iyan. Pria itu menatap Nadin horor, bukan karena uangnya akan ludes tapi makannya Nadin ini banyak sekali.
"Tan, yakin mau dimakan semua? Kembung baru tahu rasa." Iyan mengambil pisau dan garpu, mulai memotong steak-nya. Sedari tadi matanya menatap meja di belakang Nadin.
"Anak kecil jangan banyak omong, lebih baik cepat makan." Nadin bermain HP, sebelah tangannya memotong steak susah payah. Dia tengah melihat gosip grup tengah membicarakan hubungan khusus antara dia dan bos baru mereka.
Diam-diam Iyan menukar piringnya dengan piring Nadin. Dia tersenyum canggung, belum pernah melakukan hal konyol seperti sekarang ini. Berinisiatif memotongkan steak untuk seorang wanita.
Nadin menatap steaknya yang sudah dipotong-potong kecil, melirik Iyan, pria itu santai saja menyuap steak pura-pura tak sadar sedang diperhatikan. Nadin tak banyak berpikir, mungkin ini bentuk terima kasih Iyan karena sudah membantunya, iya, Nadin tak mau berpikir lebih.
"Tan."
"Hmmm?"
"Seret."
Nadin terkikik geli, mengangkat tangan memanggil pelayan.
"Mas, minumnya kok lama banget?"
"Sebentar Mbak sedang dibuatkan."
Nadin tersenyum memaklumi.
"Sebentar lagi datang katanya."
"Iya saya juga denger Tan." Nadin merengut.
Percakapan di belakang dan suara seseorang terdengar tak asing di telinga Nadin. Wanita itu ingin berbalik melihat siapa yang duduk di belakang tetapi sebuah tangan tiba-tiba menangkup pipinya.
"Jangan lihat." Iyan melarang, "Jangan lihat sesuatu yang menyakitkan, Tan. Jangan." Iyan menatap nyalang pria yang duduk di meja belakang asistennya, iya, pria yang mengantar dan mencium Nadin dengan mesra tadi pagi.