Sarah bersama keluarganya duduk bersama di ruang tengah, Bibi pun turut duduk disana untuk mendengar penjelasan Wisnu tentang apa yang baru saja terjadi pada Sarah. Tubuh Sarah masih sangat lemas bahkan untuk duduk pun ia memerlukan penyangga berupa bantal, terkadang matanya menutup untuk mengumpulkan semua energinya namun kenyataannya semua yang dilakukan Sarah sepertinya sia-sia. Wajah Sarah pun pucat pasi dan keringat dingin terus membasahi pelipisnya. “Sar, kamu yakin gak mau di kamar saja?” tanya Ibu yang khawatir melihat kondisi anaknya. “Gak apa-apa, Bu. Sarah merasa lebih aman jika ramai seperti ini,” jawabnya. Wisnu menyesap teh hangat yang sudah disiapkan oleh Bibi. Ia menatap wajah Sarah dengan tatapan serius dan seolah berpikir harus darimana ia memulai bercerita. “Oh ya

