Wahai kehidupan, aku berharap setelah ini tak akan ada hal buruk yang menimpaku. - Sarah - * * * * * Adi masih tak bergeming. Ia menatap ke Sarah, berharap ada sedikit kata memaafkan untuknya. “Setelah kepergian anakmu, baru kamu sadar yang kamu lakukan berbahaya, kan?” Adi menundukan kepalanya. Isakan tangis pun terdengar dari Adi dan bahunya nampak bergetar. “Maaf,” ucapnya. “Sudah terlambat, Adi. Kami semua sudah kamu sakiti dan kamu lukai, entah apa yang membuatmu dan keluargamu tega seperti ini. Sebaiknya kamu datang ke sidang perceraian kita lusa. Aku ingin selesaikan ini, dan jika memang kamu mencintai aku dan anakmu, sebaiknya kamu cepat-cepat enyah dari hidupku.” Sarah pun masuk ke dalam rumah dan membanting pintu rumahnya. Ia sudah mengatakan semuanya. Sudah terlamb

