Larry hanya diam, ia tak menanggapi apapun dari sikap Cecille. Ia mengambil map yang terjatuh ke lantai. Di dalam map itu sudah ada pena, ia membuka pena itu dan menandatangani surat perceraian. “Sudah.” Larry memberikan surat itu pada Cecille. Raut wajah Cecille seolah menjadi sangat cerah dan bahagia. Cecille menatap Larry licik. “Seharusnya sejak dulu kau menandatangi ini, Larry,” ujar Cecille dalam hati, memperlihatkan seringai licik dalam senyumannya. “Aku baru tahu jika kau mempunyai sahabat tentara bernama Justin,” ujar Larry. Raut wajah Cecille langsung berubah menjadi panik. Ia menatap Larry, “Dari mana kau tahu dia? Kau mengenalnya?” “Iya, dia yang mengatakan bahwa aku memanfaatkanmu hanya karena aku menginginkan jabatan dari Ayahmu.” “Abaikan saja dia.” Larry hanya meng

