Jun Cheol, Ajeng dan Jin Young yang melihat kedatangan seseorang membuat mereka bertiga mengerutkan dahi mereka bingung, karena ternyata seseorang itu adalah dia Xin Qian yang menghampiri mereka bertiga dengan sikap berontaknya seperti biasa.
Namun melihat hal ini membuat mereka bertiga menatap Xin Qian datar karena rasanya Ajeng, Jun Cheol dan Jin Young sudah sangat lelah menghadapi ketidakjelasan sikap Xin Qian yang selalu membuat orang lain sakit kepala saat melihat segala perbuatan Xin Qian yang begitulah.
Sementara Xin Qian yang tidak terima ditahan seperti ini membuatnya memarahi orang yang terus saja melarangnya untuk tidak mendekati tiga orang yang masih saja menatap dirinya dengan datar dsn tajam, tapi Xin Qian adalah Xin Qian semakin dirinya dilarang maka semakin tak dihiraukan pula larangan yang diberikan padanya.
"Gue bukan orang gila ya! Lu gak usah nahan-nahan gini! Lepas gak! Lepas gue bilang! Apaan sih ngelarang gue kayak gini hah!! Lepasin gue!" murka Xin Qian marah.
"Maaf anda tidak diizinkan memasuki cafe ini, silahkan anda keluar!" ujar Azka tegas.
Mendengar ucapan Azka malah membuat Jin Young dan Ajeng semakin kebingungan tapi tidak dengan Jun Cheol yang terlihat mengerti dengan maksud ucapan Azka tadi, sayangnya Xin Qian masih saja terus memberontak dari tangan Azka.
Hingga tiba-tiba gadis aneh itu ingin menggigit tangan Azka yang sejak tadi menahannya tapi Jun Cheol segera mempertanyakan maksud kedatangan Xin Qian agar gadis aneh itu tidak jadi menggigit Azka yang tidak bersalah apapun disana.
"Apa tujuan anda datang ke sini Xin Qian? Kalau tujuan anda ke sini hanya untuk mencari masalah lebih baik anda pergi sekarang sebelum kesabaran saya habis," ucap Jun Cheol datar.
Xin Qian yang mendengar Jun Cheol mengajaknya ngobrol membuatnya segera menatap Jun Cheol lembut, lalu tak lama Xin Qian menjawab pertanyaan Jun Cheol yang dianggap lain di mata Xin Qian yang begitu menginginkan Jun Cheol untuk merespon dirinya.
"Udah jelas gue pengen ketemu lu Jun Cheol! Ngapain gue temuin Jin Young apalagi cewek gak jelas itu ih gak banget! Gaklah! Siapa juga yang mau cari masalah, ini lepasin dia dong dari gue apa-apaan sih dia!!" omel Xin Qian kesal.
Belum juga Jun Cheol menjawab ucapan Xin Qian, Azka sudah mendahului ucapan Jun Cheol dan tak lama beberapa bodyguard Barra berjalan menghampiri Xin Qian untuk menyeretnya pergi dari sana tapi samar-samar Jun Cheol, Jin Young dan Ajeng mendengar ucapan Xin Qian yang terdengar aneh di telinga mereka bertiga.
"Xin Qian tapi ...," ujar Jun Cheol terhenti.
"Anda dilarang masuk ke dalam cafe nona Xin Qian, mundurlah!" tutur Azka tegas.
"Ih apaan sih gue ditarik-tarik mulu! Kalian butuh gue karena cuma gue yang paham apa yang terjadi sama penyelidikan kalian! Heh lepasin gue! Lepas woy!" teriak Xin Qian marah.
Jun Cheol, Jin Young dan Ajeng yang mendengar ucapan aneh Xin Qian membuat mereka bertiga menatap kepergian Xin Qian dengan bingung, sebenarnya gadis aneh itu ingin mengatakan apa hingga sampai teriak-teriak seperti itu.
Namun di saat mereka bertiga sibuk dengan pikiran mereka masing-masing tak lama terdengar suara ponsel Jun Cheol hingga membuat Jun Cheol menjawab panggilan telepon tersebut dengan perasaan yang bingung dan campur aduk.
"Halo? Ada perlu apa?" tanya Jun Cheol datar.
"Anda masih berani menyelidiki saya? Masih belum cukupkah kiriman kemarin? Sepertinya anda memang bukan orang mudah menyerah ya?" sindir pria paruh baya itu kesal.
Mendengar ucapan pria paruh baya yang ia kenal membuat Jun Cheol terkekeh geli, sedangkan Ajeng dan Jin Young menatapnya bingung hingga perdebatan pun tak terelakkan dari mereka berdua dan membuat suasana seketika menjadi mencekam.
"Ahahahaha ... anda baru menyadarinya? Sebaiknya anda berhati-hati dengan saya ya! Atau anda ingin membunuh diri anda sendiri," ujar Jun Cheol datar.
"Sebaiknya anda yang berhati-hati dengan saya anak muda ... anda tidak tau siapa saya! Lebih baik anda berhenti sekarang sebelum semuanya terlambat," tutur pria paruh baya itu marah.
"Saya tidak perlu takut dengan pembunuh seperti anda! Tangan anda terlalu kotor untuk melukai saya jadi mengapa saya harus takut? Saya jamin anda yang akan menyesal! Mau liat siapa yang menyesal? Saya tidak keberatan kok," ucap Jun Cheol datar.
"Jadi anda menantang saya? Baiklah kita lihat siapa yang menangis kesakitan? Saya jelas tau kelemahan anda tapi anda tidak tau apapun tentang saya," ujar pria paruh baya itu dingin.
"Anggaplah semau anda! Saya harap anda tidak menyesalinya ... anda lupa bukti hasil autopsi yang ada pada saya? Lalu surat ancaman anda?" balas Jun Cheol tak kalah dingin.
Setelah Jun Cheol mengucapkan hal yang mengintimidasi pria paruh baya itu, beberapa menit kemudian panggilan telepon terputus karena dimatikan sepihak oleh orang yang menelpon Jun Cheol hingga membuat Jun Cheol terkekeh sinis melihat musuhnya memendam amarahnya.
Sementara Ajeng dan Jin Young yang tak mendengar percakapan Jun Cheol dengan entah siapa membuat mereka berdua menatap Jun Cheol bingung, Jun Cheol yang sadar ditatap Ajeng dan Jin Young langsung menjelaskan apa yang tadi ia bicarakan karena Jun Cheol paham Jin Young dan Ajeng cukup penasaran dengan isi perdebatan tadi.
"Gue abis berdebat soal kasus gue jadi muka kalian biasa aja bisakan?" ujar Jun cheol datar.
Mendengar ucapan Jun Cheol membuat Ajeng kembali bertanya karena mereka masih belum paham dengan ucapan Jun Cheol yang terdengar terlalu singkat, sedangkan Jin Young yang sudah paham dengan ucapan Jin Young justru mempertanyakan langkah mereka selanjutnya.
"Berdebat soal apa sekop? Lu ngomong apa sih gue gak ngerti?" tanya Ajeng bingung.
"Dia ngancam anda lagi Jun? Terus langkah kita selanjutnya apa Jun? Kita bakal tetep lanjutkan? Gak mungkin kita mundurkan?" tanya Jin Young serius.
Jun Cheol yang mendengar pertanyaan Ajeng dan Jin Young membuat Jun Cheol menghela nafasnya sejenak lalu ia kembali menjelaskan ucapannya tadi hingga mereka bertiga mengobrol santai agar mencairkan suasana yang tadi mencekam.
"Soal kerjaan saya Ajeng ... saya abis berdebat soal pekerjaan saya dengan musuh, benar Jin Young! Dia
menantang saya karena saya belum juga menyerah tapi kita tak akan menyerah apalagi mundur begitu saja! Jelas tidak mungkin," tutur Jun Cheol tegas.
"Lalu langkah kita untuk ke depannya gimana Jun?" tanya Jin Young serius.
"Emang dia nantang apa sekop? Ada masalah apa sih dia sama lu sekop?!" ujar Ajeng bingung.
"Untuk sekarang kita fokus ke wallpaper aneh itu sama nyari bukti yang lain dulu Jin Young! Orang itu ngancam saya untuk berhenti dari apa yang sedang saya selidiki ... masalahnya dia telah terlibat dalam kasus yang menghilangkan nyawa orang lain," tutur Jun Cheol menjelaskan.
"Baiklah Jun, mau ngebuka lapisan wallpaper itu kapan Jun?" tanya Jin Young bingung.
"Dih kok dia gitu sih! Lu gak boleh berhenti dong sekop! Orang salah harus dapet balasannya bukan malah ngancam orang lain gitu!" ucap Ajeng kesal.
"Habis selesai ini kita cari wallpaper yang sama terus baru kita buka lapisan wallpaper yang ada di dinding itu! Tenang saja karena saya tidak semudah itu untuk berhenti dari pekerjaan yang telah diberikan pada saya ... manusia dengan segala ketidakpuasannya lah yang membuat dirinya begitu hingga ia lupa bahwa
akan ada akhir yang akan ia pikul," ucap Jun Cheol dingin.
Ajeng dan Jin Young setuju dengan ucapan Jun Cheol hingga mereka berdua mengangguk-anggukkan kepala mereka, lalu tak lama Jun Cheol dan Jin Young bergegas mencari wallpaper yang sama sesuai seperti rencana yang Jun Cheol katakan.
Namun sebelum Jin Young dan Jun Cheol benar-benar pergi dari sana, Jun Cheol yang merasa perasaannya tidak begitu tenang membuat Jun Cheol memilih mencari wallpaper itu sendirian sedangkan Jin Young menemani Ajeng karena Jun Cheol khawatir ada hal yang akan terjadi jika Ajeng sendirian di cafe seperti tadi pagi.
"Jin Young! Anda disini saja biar saya yang pergi mencari wallpapernya sendirian karena entah mengapa rasanya saya merasa akan ada hal yang terjadi jika kita pergi berdua lalu membiarkan Ajeng sendirian, anda paham maksud saya bukan?" ucap Jun Cheol serius.
Sementara Jin Young yang mendengar ucapan serius dari Jun Cheol membuatnya mengangguk-anggukkan kepalannya mengerti, lalu disaat Jun Cheol hendak berjalan meninggalkan cafe tak lama Jun Cheol mendengar pertanyaan Ajeng yang membuatnya menghentikan langkahnya.
"Sekop tunggu! Kalo lu pergi sendirian emang aman? Bukannya musuh lu semakin gampang buat nyakitin lu sekop?" tanya Ajeng khawatir.
Mendengar pertanyaan Ajeng membuat Jun Cheol membalikkan tubuhnya dan menatap Ajeng lembut agar Jun Cheol menenangkan perasaan khawatir Ajeng yang jelas terlihat oleh Jun Cheol, sebenarnya ucapan Ajeng memang bisa saja terjadi tapi Jun Cheol bisa melindungi dirinya sendiri meskipun ia sendirian sedangkan Ajeng bisa saja dijadikan sandera oleh musuh.
"Saya gak jamin bakal aman tapi saya biss melindungi diri saya sendiri sedangkan anda perlu Jin Young untuk mengulur waktu hingga saya datang jika sesuatu yang buruk terjadi, tenang saja saya cukup ahli dalam taekwondo jadi saya akan baik-baik saja!" ujar Jun Cheol lembut.
Jin Young dan Ajeng yang mendengar ucapan Jun Cheol menatapnya dengan pandangan yang berbeda, Ajeng menyunggingkan senyumannya saat mendengar Jun Cheol yang menenangkan dirinya sedangkan Jin Young merasa lega saat mendengar Jun Cheol kembali lembut meski ia tau Jun Cheol masih berusaha keras memulihkan dirinya sendiri.
Melihat senyum Ajeng dan wajah tenang Jin Young membuat Jun Cheol kembali melanjutkan langkahnya dan perlahan-lahan sosoknya hilang bersama pintu cafe yang tertutup, setelah Jun Cheol tak lagi terlihat dimata Ajeng entah mengapa ada rasa khawatir dan rasa ketakutan yang dirinya sendiri pun tak mengerti alasannya.
Berbeda dengan Ajeng yang tak memahami apa yang terjadi padanya, Jun Cheol memilih untuk memfokuskan dirinya pada apa yang perlu ia kerjakan daripada tenggelam dalam perasaan yang dirinya tau bahwa suatu saat hal yang ingin ia perjuangkan bisa hilang dan meninggalkan bekas luka yang menyakitkan lagi.
Untuk itulah Jun Cheol tak ingin mencari tau perihal keinginan hatinya yang ia sudah jelas tau bahwa ketika ia tau perasaannya maka hanya rasa sakit dan goresan yang tertinggal dihatinya, Jun Cheol tak ingin merasakan hal menyakitkan itu sekali lagi.
Tidak untuk sekarang, tidak untuk selamanya! Jun Cheol tak ingin kembali menelan pil pahit yang benar-benar menyiksa dirinya sampai detik ini. Lalu sesampainya di sebuah toko dekorasi Jun Cheol segera melihat-lihat berbagai wallpaper yang memang di pamerkan untuk dipilih tapi saat Jun Cheol sedang fokus dengan apa yang ada dihadapannya, samar-samar ia mendengar hal yang cukup membingungkan menurutnya.
"Kenapa ya orang mudah sekali menutupi kesalahannya lalu ia kembali memulai kesalahan yang sama dan tak lama ia malah menyalahkan takdir yang tidak adil menurutnya! Terlalu rumitkah hidup atau pola pikir mereka yang merepotkan diri sendiri," tutur salah satu pegawai di toko itu.
Mendengar ucapan aneh itu membuat Jun Cheol menghampiri salah satu pegawai toko dan Jun Cheol berusaha mencari tau alasan orang itu mengatakan hal yang tak biasa seperti ini, karena siapa tau di sini Jun Cheol bisa menemukan salah satu petunjuk mengenai kasus yang sedang ia tangani tapi sayangnya apa yang dipikirkan dirinya tak sesuai dengan yang terjadi.
"Permisi mas! Hm, boleh saya tau kenapa anda mengatakan hal seperti itu? Ada sesuatu yang telah terjadikah? Atau yang lainnya?" tanya Jun Cheol serius.
"Oh itu hanya ungkapan untuk papan yang akan di pajang sebagai dekorasi aja mas, emangnya kenapa ya mas? Gak bagus ya?" ucap salah satu pegawai toko itu bingung.
"Begitu ya ... bukan apa-apa kok mas! Saya permisi ya mas mau liat-liat wallpaper untuk cafe teman saya soalnya," tutur Jun Cheol lembut.
Namun disaat Jun Cheol ingin melanjutkan langkahnya untuk melihat-lihat wallpaper, tak lama salah satu pegawai tadi merekomendasikan wallpaper yang sejak tadi Jun Cheol cari lalu melihat hal ini membuat Jun Cheol terkejut dengan apa yang terjadi saat ini.
"Oh mas lagi nyari wallpaper buat cafe ya? Wallpaper ini bagus mas! Saya rekomendasikan mas dengan wallpaper ini bagaimana? Mas suka?" tutur salah satu pegawai itu sopan.
"Loh inikan wallpaper yang sedang saya ...," ucap Jun Cheol terhenti.
Melihat wajah terkejut dan shock Jun Cheol membuat salah satu pegawai itu kebingungan dan tak lama Jun Cheol ingin bertanya perihal wallpaper yang kini ada dihadapannya tapi salah satu pegawai itu kedatangan pembeli yang biasa membeli wallpaper di toko ini hingga membuat Jun Cheol terpaksa menunggu mereka selesai berbicara.
"Jadi gimana mas? Wallpaper ini baguskan? Loh muka mas kenapa kaget terus shock gitu mas? Ada yang
salahkah?" tanya salah satu pegawai itu bingung.
"Iya bagus mas tapi saya mau bertanya perihal wallpaper ini gimana bisa ...," tanya Jun Cheol terhenti.
"Tunggu sebentar ya mas! Itu ada pembeli yang biasa membeli wallpaper disini jadi saya perlu melayaninya terlebih dulu mas ... permisi," ucap salah satu pegawai itu sopan.
|Bersambung|