9.

1007 Words
Eliza tidak tahu lagi harus berkata apa, dan melakukan apa saat pria yang bernama Derri itu seolah terus berjuang mendekatinya tanpa kenal lelah. Seperti hari ini dan hari-hari sebelumnya, Derri kembali menemui Eliza kapanpun dan di manapun. "Hai," sapa pria tampan itu tersenyum sumringah melihat sosok Eliza yang bersikap datar. "Darimana kamu tau alamat rumahku?" tanya Eliza tanpa basa-basi lagi, bahkan Eliza pun tak mau repot-repot membalas sapaan Derri. "Sangat mudah bagiku untuk mengetahuinya, Eliza." Eliza muak dan jengah, mungkin kalau menemuinya di tempat lain ia tidak akan se-kesal ini. Tapi, hari ini Derri benar-benar membuat kesabarannya habis dengan datang ke rumahnya. Yang itu artinya, Derri mencari semua informasi tentang dirinya. Dan Eliza benci itu. "Aku bukan selebritis, ataupun seseorang yang terkenal. Tetapi, kenapa kamu segitunya sampai mencari semua informasi tentang diriku?" tuding Eliza telak. "Kamu tidak mengizinkanku masuk?" tanya Derri mengalihkan perhatian dari pertanyaan Eliza tadi. "Untuk saat ini tidak, sebab kedua orang tuaku sedang tidak ada di rumah." "Well, itu tidak masalah. Kita bisa mengobrol disini saja—" "Tidak!" sanggah Eliza cepat saat Derri meminta untuk duduk di teras rumah. "Aku lelah," sambung Eliza setengah mati mencari-cari alasan yang tepat. "Ah iya, kamu mau istirahat karena nanti malam mau siaran ya?" "Iya," Eliza mengangguk cepat. "Aku harap kamu tidak...." ucapan Eliza terhenti saat kedua matanya fokus pada sebuah mobil BMW berwarna black sapphire yang berhenti tepat di depan pagar rumahnya. Derri mengikuti arah tatapan mata Eliza dan terkejut saat melihat sosok pria yang kini berjalan bersama seorang wanita cantik sembari bergandengan tangan. "Siapa mereka?" tanya Derri mengalihkan tatapannya kembali pada Eliza yang terlihat sendu. "Pergilah," lirih Eliza dengan suara pelan mengusir Derri. Derri menggeleng, "siapa mereka?" tanyanya lagi. Eliza bungkam saat Evanz dan kakaknya Elinna semakin melangkah mendekat pada mereka. "Eh, ada tamu." sapa Elinna menggoda sang adik. "Siapa dek? Kok gak di suruh masuk sih?" tanyanya pada Eliza sembari menunjuk Derri yang posisinya saat ini tengah memunggunginya dan Evanz. Evanz sendiri mengernyit saat matanya merasa tak asing memperhatikan punggung Derri. "Hei," tanpa sungkan Elinna menepuk pundak Derri yang membuatnya mau tak mau membalikkan badan dan menyapa ramah mereka. Saat itulah Evanz tau bahwa pria tersebut adalah sepupunya, Derri. "Loh, Der. Lo ngapain disini?" tanya Evanz langsung saat tak mampu lagi menyembunyikan keterkejutannya. Dengan jari jempolnya Derri menunjuk ke arah belakang, tepat pada sosok Eliza yang berdiri kaku memperhatikan ketiga orang tersebut. "Maksudnya, kalian berdua...." "Pacaran?" tebak Elinna menyela ucapan Evanz yang detik itu juga merasa kecewa. Kecewa karena ia fikir jika Eliza dan sepupunya itu memang benar menjalin sebuah hubungan. Dalam hatinya, Evanz berdoa semoga saja tidak. Pertanyaan Elinna dan Evanz tidak langsung dijawab keduanya. Baik Eliza maupun Derri sama-sama diam, hanya saja Derri tersenyum yang justru di salah artikan oleh Evanz yang menganggap bahwa senyuman Derri sebagai jawaban iya dari pertanyaan mereka. "Sayang, kamu kenal pria ini?" tanya Elinna saat teringat ucapan Evanz yang seperti mengenali pria yang ia tuduhkan sebagai kekasih adiknya. "Ah iya, Lina. Ini Derri, sepupu aku." kata Evanz memperkenalkan hubungan persaudaraan antara dirinya dan Derri. Fakta mengejutkan itu sungguh membuat kaget Elinna, terutama Eliza yang tersentak dengan wajah tak percaya luar biasa. Derri dan Evanz bersaudara? Mereka sepupuan? batin Eliza berseru tak percaya. "Dan, Derri. Kenalkan ini Elinna, kekasihku sekaligus kakak kandung Eliza." tak lupa Evanz memperkenalkan Elinna pada Derri. Keduanya pun saling berjabat tangan sembari mengucapkan nama mereka masing-masing. "Elinna." "Derri." Ucap keduanya secara bersamaan dan saling melempar senyum ramah masing-masing. "Wahh, dunia ini sangat sempit sekali ya ternyata." ujar Derri. "Aku dekat dengan Eliza, dan sepupuku malah menjalin hubungan dengan Kakak kandung dari wanita yang aku sukai. Hebat!" "Jadi, kamu menyukai adikku?" tanya Elinna berseru senang. "Sebenarnya, iya. Lebih dari suka malah." sahut Derri bangga mengungkapkan fakta tentang isi hatinya pada Eliza yang justru kesal mendengarnya. Karena tak tahan dengan situasi saat ini pun dengan gerakan cepat Eliza melangkah pergi dari sana tanpa pamit. Eliza sungguh bertambah kesal dan juga muak pada sikap Derri. Benar-benar menyebalkan! **** Eliza tak menghiraukan suara ketukan pintu kamarnya beberapa kali yang lama-kelamaan terdengar seperti gedoran cukup kuat. Tak lama disusul suara Elinna yang menjerit memanggil namanya. Tapi Eliza sama sekali tak menggubrisnya dan lebih memilih membaringkan badannya di ranjang. Ia melirik sekilas jam dinding, masih ada beberapa jam lagi untuknya beristirahat sebelum memulai siaran malam. Ketukan pada pintu kamar sudah berhenti, Eliza dapat bernafas lega. Namun ternyata hanya sebentar, karena setelahnya Eliza kembali harus mendengar ketukan pintu yang kali ini disusul suara Derri yang memintanya untuk membuka pintu karena ada sesuatu hal yang ingin dia katakan. Astaga! Eliza tidak mau dan membiarkan saja Derri sampai lelah sendiri. Setelahnya kembali tenang untuk beberapa saat sebelum ketukan pintu kamarnya kembali terdengar. "Eliza!" Deg. Wajah Eliza pias mendengar namanya di panggil oleh orang tersebut. Suara ini....? batinnya yang sangat hafal suara milik Evanz. Ya, kali ini Evanz yang berusaha membujuk Eliza agar membuka pintunya setelah tadi Elinna dan Derri yang gagal membujuknya. Evanz berharap penuh Eliza mau membuka pintu kamarnya. Perlahan Eliza turun dari ranjang dan melangkah mendekati daun pintu. Tangannya sudah terulur menyentuh handle pintu, hanya menyentuh sebab Eliza tak mampu untuk membukanya hingga suara Evanz pun kini tak lagi terdengar. Eliza menyandarkan kepalanya ke daun pintu meratapi nasib asmaranya. Kenapa sampai sekarang hati dan jiwanya tak mampu berpaling dari sosok Evanz. Padahal sudah jelas-jelas jika pria itu milik Elinna, kekasih kakaknya! Eliza terisak karena rasa cintanya pada Evanz yang tak kunjung memudar. Justru semakin kuat seiring pertemuan mereka yang hampir terbilang cukup sering. Eliza menengadahkan kepalanya menatap langit-langit kamarnya. Batinnya bertanya-tanya, kira-kira apa yang harus ia lakukan agar ia bisa melupakan Evanz dan menyingkirkan semua perasaannya pada pria itu. Ia juga berhak bahagia agar tak lagi tersakiti akan cintanya yang semu ini. Cinta yang tak akan pernah tergapai dan tak akan pernah ia miliki. Bukankah, cinta itu tak harus memiliki? Biarlah Eliza mencintai Evanz tanpa harus memiliki pria itu. Haruskah begitu? Ya Tuhan! Eliza mau menangis saja rasanya. Kenapa cinta membuatnya begitu lemah dan se-cengeng ini? Tbc....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD