LOVE ME, SINGLE DADDY! -- 3

1147 Words
*** Menjadi seorang tenaga pengajar sungguh bukan sesuatu yang mudah. Terlebih yang diajar adalah balita-balita yang masih berumur Empat sampai Lima tahun. Para guru harus memiliki kesabaran ekstra dan ketulusan yang tidak dibuat-buat, sebab anak kecil cenderung sensitive terhadap perlakuan kasar. Nayanika Candramawa juga demikian. Sudah seminggu sejak penerimaan murid baru selesai. Ia mencoba yang terbaik untuk menjadi seorang tenaga pengajar yang berkualitas. Tak hanya fokus pada materi, tetapi juga pada pedidikan moral karena ia tahu betul pendidikan moral penting untuk anak usia dini. Naya harus hati-hati dalam memberi mereka pengertian agar dewasa nanti mereka bisa menjaga diri dan menjaga orang lain dengan sikap sopan serta satun yang mereka miliki. Memang, terkadang murid-muridnya menguji kesabaran, tetapi seperti janjinya, Naya akan selalu sabar menghadapi mereka. Seperti saat ini contohnya, ada salah satu murid yang tidak ingin mengikuti pembelajaran. Murid lelaki tersebut tampak hanya diam dan memandang malas ke arah papan tulid di depan. Naya tersenyum lembut. Ia mendekati murid tersebut tanpa merasa dongkol sama sekali. “Biru Lazuardi Abimanyu,” Naya menyebut nama lengkap murid lelaki tersebut. “Kenapa dari tadi nggak mengikuti pelajaran Bunda Nay, Sayang?” tanyanya dengan lembut. Murid bernama Biru tersebut mendapat perhatian dari teman-teman kelasnya. Hal itu semakin membuat wajah tampannya kesal. Seperti tak mendapat didikan yang layak di rumah, Biru mendengus sebal di depan Naya. Namun, Nay tidak marah. Senyumnya masih selembut sutra. Hatinya masih memiliki kesabaran yang luar biasa. Ia ingat Biru adalah murid pindahan. Baru kemarin pula anak laki-laki itu bergabung dengan kelasnya. “Pelajaran Bunda nggak seru ya?” tanya Naya sekali lagi. Biru masih sama. Ia diam. Menolak untuk menjawab pertanyaan Naya. Di luar Naya melihat suster yang menemani Biru tampak gelisah. Seperti khawatir pada majikan kecilnya. Naya masih tersenyum. Ia menghampiri pengasuh Biru tersebut. “Ada apa dengan Biru, Mbak?” tanyanya tanpa menghilangkan jejak keramahan sedikit pun. “Den Biru kayaknya masih kesal gara-gara kejadian pagi tadi, Bunda Naya. Den Biru maunya diantar sama mamanya sekolah, tapi mamanya nggak bisa datang buat anterin den Biru,” jelas pengasuh Biru. “Apa di sekolah lamanya Biru sering diantar mamanya, Mbak?” tanya Naya. Suster menggeleng sedih. “Den Biru sekarang hanya tinggal berdua saja sama papanya. Orang tuanya sudah bercerai, Bun,” terangnya. Naya mengerti. Kini ia tahu Biru juga membutuhkan banyak kasih sayang. “Ya udah, hari ini kita biarin aja dulu Biru seperti ini. Saya nggak mau maksa dia dan akhirnya bikin dia benci sama saya,” ucapnya. Setelah itu, Naya pun kembali ke depan kelas. Ia melanjutkan pelajaran tanpa terganggu oleh sikap Biru. Naya yakin ke depannya ia pasti bisa meluluhkan hati murid lelakinya itu. Waktu berlalu, akhirnya jam menunjukkan waktu istirahat. Murid-murid berlarian keluar. Bermain bersama teman. Biru juga sudah bersama susternya. Namun, tidak dengan gadis kecil yang sejak awal sudah menyita perhatian Naya itu. Akira Lintang Kanagara namanya. Balita cantik yang pendiam. Naya mendekatinya, menawarkan percakapan singkat padanya. “Kamu kenapa nggak ikut lari seperti yang lain, Kira?” tanya Nay dengan hati-hati. Berapa kali pun ia menghadapi muridnya, ia tak pernah lelah untuk menunjukkan senyumnya. Akira menggeleng lemah. Matanya sendu seperti memiliki banyak beban. “Non Kira nggak bisa terlalu lelah, Bunda Nay,” Tiba-tiba saja seseorang menjawab pertanyaan Naya. Hal itu membuat Naya menolehkan kepalanya, menatap si pemilik suara. Ternyata itu adalah suster Selia. “Kenapa?” Naya bertanya pada Selia. Rasa penasaran menyerbunya melihat Akira tampak semakin sedih. Selia mendekati Nona mudanya yang pendiam. “Non Kira punya riwayat penyakit yang serius,” jawabnya sembari mendekap Akira. Mendengar itu, membuat Naya ikut perihatin. Pantas saja Akira jarang bermain bersama teman-temannya. Sudah seminggu mereka belajar bersama, tetapi Akira hanya diam sendirian. Jika tidak keluar bersama suster, maka ia akan duduk di dalam kelas seperti saat ini. “Kamu pasti kesepian,” bisik Naya. “Gimana kalau setiap harinya Kira Bunda Nay yang temenin? Kita mainnya di sini aja!” Naya menawarkan diri untuk menghibur Akira yang kesepian. Tidak ada yang lebih mengejutkan bagi Akira selain mendengar Bunda Nay menawarkan diri untuk bermain bersamanya. Akira yang tadi murung pun perlahan menarik sudut bibirnya. Akira mengangguk malu menerima tawaran itu. “Tapi Bunda Nay ada syarat nih!” ujar Naya. Kerutan kecil muncul di atas kening Akira. Ia tidak bertanya seperti kebanyakan anak yang merasa penasaran lainnya. Namun, Naya tahu Akira ingin mendengar penjelasannya. “Gampang kok, Kira hanya perlu tersenyum dan semangat setiap harinya. Nggak boleh murung kayak sekarang! Cantiknya nanti hilang kalau murung terus,” Akira menatap Naya dengan tatapan dalamnya. Ia menoleh pada suster yang selama ini selalu menemaninya ke manapun ia pergi itu. Suster Selia mengangguk sembari ikut tersenyum. Membuat Akira kembali mengalihkan perhatian pada Naya. Kepalanya pun ikut mengangguk. “Janji?” Naya menunjukan jari kelingkingnya ke depan Akira. Meski masih malu-malu, Akira pun ikut menautkan jari kelingkingnya yang kecil. “Nah sekarang kita makan ndulu ya, Kira. Kamu mau makan bersama Bunda?” Sekali lagi Akira menoleh pada Selia. Ia tersenyum lembut ketika Selia menganggukkan kepala, memberi izin untuk makan bersama Bunda Naya. “Anak pintar. Bunda suapin ya?” Namun, kali ini Akira menggelengkan kepalanya. “Kira bisa sendiri, Bunda,” ucapnya dengan suara lucunya. Mendengar itu, membuat Naya ingin mencubit pipinya. Akira yang pendiam akhirnya mengeluarkan suaranya juga. Hari itu adalah hari di mana Naya dan Akira memulai kedekatan mereka yang sesungguhnya. Naya tidak bermaksud membedakan Akira dengan muridnya yang lain, tetapi hati kecilnya tak bisa menolak ketika ia mengakui kasih sayangnya lebih besar untuk Akira dibanding muridnya yang lain. Mungkin karena Naya merasa Akira kurang beruntung, sebab memiliki penyakit yang berbahaya. Dapat mengancam nyawa gadis kecil itu kapan saja. Naya takut terjadi sesuatu pada Akira sehingga ia selalu ingin mendampinginya. Terlebih, Naya tahu dari Selia bahwa Akira sudah tidak memiliki Ibu. Akira hanya memiliki Papa sebagai orang tua tunggalnya. Kenyataan tentang Ibu kandung Akira sudah lama meninggal dunia, membuat Naya benar-benar peduli padanya. Akira sendiri perlahan semakin bahagia. Akira semangat kala datang ke sekolahnya. Akan sedih ketika pulang sekolah karena akan berpisah dari Bunda Naya. Hal itu yang membuat keduanya semakin dekat dari hari ke hari. Selia, sebagai suster Akira pun ikut senang melihat perubahan majikan kecilnya. Akira yang pemurung dan pendiam kini berubah menjadi gadis cantik yang murah senyum dan sudi diajak bicara sejak mengenal Bunda Naya. Hal ini Selia sampaikan pada Lintang, selaku orang tua Akira satu-satunya. Namun, seperti biasa, respon Lintang tidak begitu antusias. Lelaki itu hanya menitip ucapan terima kasih kepada Selia untuk Naya. Lintang juga meminta Selia untuk memberi Naya hadiah. Terserah entah apa. Selia menuruti. Hadiah itu sampai ke tangan Naya meski awalnya Naya menolak mentah-mentah karena ia bersikap baik pada Akira bukan karena mengharapkan sesuatu. Melainkan, karena Naya merasa sudah menjadi kewajibannya untuk menjaga murid-muridnya. Terlebih murid seperti Akira yang di matanya terlihat jelas banyak kekurangan kasih sayang dan perhatian. Namun, pada akhirnya hadiah itu ia terima karena Akira yang memintanya. . . To be continued. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD