Bab 2.

1076 Words
Bian menatap bangunan kokoh di hadapannya dengan wajah datar. Dengan helaan nafas berat dia melangkahkan kakinya berjalan mendekati pintu masuk. Bangunan yang di dalamnya penuh dengan maksiat, alkohol, para w*************a, musik Dj, lantai dansa dan bahkan ruangan judi. Semua komplit ada di dalamnya. Ya, bangunan itu adalah salah satu klub mewah. Entah kapan terakhir kali dia menginjakkan kakinya ke tempat laknat tersebut. Sungguh dia sudah lupa. Betapa bangganya dia bahwa selama beberapa tahun terakhir ini dia hidup dengan sangat normal dan sehat. Benarkah begitu? Tidak ada hiburan dengan sekedar bermain- main dengan wanita? Ck! Bian enggan untuk mengakuinya. Dia tetap pria pendosa dan dia tidak bangga akan hal itu. Jadi dia memutuskan untuk tidak menjawab. Langkah kaki Bian terhenti begitu mendengar suara dering ponselnya. Mengeluarkan ponsel dari dalam saku dan melihat siapa yang menghubunginya. Kanaka Givan Atmaja, sudah dia duga. Dengan segera dia menolak panggilan pria k*****t itu. Kanaka sahabat baik yang merangkap musuhnya sekaligus. Sahabat yang tidak bisa di katakan benar- benar sahabat. Bagaimana bisa seorang sahabat tega meracuni kesuciannya. “Selamat malam Tuan Biantara!” Sapa kedua bodyguard yang berjaga. Bian hanya menganggukkan kepalanya sebagai respons dari sapaan ke dua penjaga pintu masuk tersebut. Sudah 4 tahun Bian tidak menginjak kan kakinya ke sana, ternyata tidak membuat para penjaga club tersebut melupakan dirinya. Salah satu dari dua pria berbadan besar itu segera membukakan pintu untuknya. Musik DJ menyambutnya yang membuat telinganya berdengung. Asap rokok ada di mana-mana mengganggu penciumannya. Bian mengibas-ibaskan tangannya, menghilangkan bau asap rokok itu. Kehadirannya yang cukup mencolok membuat para wanita bayaran segera menghampirinya karena hampir semua orang di sana mengenalinya. Bian mengangkat sebelah tangannya sebelum para wanita itu berjalan lebih dekat. Wajah para wanita itu terlihat kecewa begitu mendapat penolakan telak dari pria tampan itu. Bian mengedarkan matanya ke segala penjuru ruangan. Beberapa di antara mereka melambaikan tangan ke arahnya yang di acuhkannya. Dia tidak mengenal semua orang di sana. Mungkin beberapa relasi bisnisnya yang tidak dia ingat kapan mereka menjalin kerja sama. Atau mungkin para karyawannya dan bisa juga rivalnya dan pengagumnya. Untuk yang terakhir dia menolak di kagumi oleh wanita itu menjijikkan. “Haiss!” Bian berdecak kesal begitu melihat Kanaka sedang berdansa dengan salah satu wanita. *** Sedangkan di luar club terjadi aksi tarik menarik antara tiga wanita cantik. Aksi mereka tersebut menjadi pusat perhatian dari beberapa pengunjung. Kyomi dan kedua sahabatnya, Ghea dan Pamela. Kyomi menolak untuk masuk karena sebelumnya dia tidak pernah menginjakkan kaki ke tempat tersebut. Bahkan di usianya yang sudah menginjak angka 24 tahun. Club yang mereka datangi sekarang merupakan satu club termewah yang hanya di datangi para manusia elit alias kaya raya. Mendapat undangan gratis tentu saja Ghea dan Pamela memutuskan untuk hadir. “Kita sudah di sini, tidak mungkin untuk putar balik dan pulang.” Pamela mulai bersuara. “Dan apa yang akan kita katakan pada Bos jika bertanya tentang perihal kita bertiga yang tidak datang?” Tambah Ghea. Kyomi memutar bola matanya malas mendengar omongan kedua sahabatnya itu. “Yang di undang kan bukan kita saja, semua karyawan mendapatkan undangan melalui pengumuman di mikrofon. Kita tidak mendapat undangan khusus, jika kita tidak hadir mereka tidak akan menyadari ke tidak hadiran kita.” Sanggah Kyomi. “Tapi jangan lupa jika tidak hadir dalam pesta akan mendapatkan potongan 30 persen. Dan kita tidak mendapatkan bonus bulanan. Kau yakin tidak akan masuk?” Ghea bersedekap menatap Kyomi menunggu reaksi gadis itu. “Aturan konyol macam apa itu?” Kyomi berdecak kesal. Dia mengentakkan kakinya dan melangkah masuk. Ghea dan Pamela bertos ria sambil melangkah masuk ke dalam club. “Saatnya partyyyy!” Seru keduanya dengan kompak. Dan akhirnya mereka masuk setelah menunjukkan id card tempat mereka bekerja dan pintu langsung di buka. Sudah di katakan tidak sembarangan orang bisa masuk ke dalam. Sekarang mereka sudah berada di tengah hiruk pikuk club malam. Kyomi merinding dan melihat ngeri sekelilingnya. Di sana banyak wanita memakai pakaian kurang bahan. Bahkan tidak sedikit yang berciuman tanpa merasa risi dengan orang di sekitarnya. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Benar-benar gudang dosa. Untuk sesaat Kyomi ragu untuk melanjutkan langkahnya. Tapi Ghea dan Pamela segera menariknya masuk lebih dalam ke tengah hiruk pikuk club tersebut. Beberapa pasang mata menatap pada mereka bertiga. Ada yang menatap kagum dan ada yang menatap dengan tatapan aneh. Tentu saja tatapan kagum di tujukan pada Ghea dan Pamela yang berpenampilan sangat menarik dan cantik. Dan tatapan aneh jelas di layangkan padanya. Celana jeans hitam dan kaos hitam kebesaran itu yang Kyomi gunakan. Kostum yang cukup menarik perhatian tapi dia tidak memedulikannya. Tanpa Kyomi sadari kini mereka sudah berada di lantai 2 yang di buat party Bosnya. Keramaiannya masih sama namun aromanya berbeda. Tidak membuat mual seperti di ruangan yang dia lewati tadi. “Ayo kita ucapkan selamat dan segera pulang.” Ajak Kyomi yang tidak mendapat jawaban dari ke dua sahabatnya. Kyomi menoleh ke belakang dan tidak menemukan kedua sahabatnya lagi. Terang saja keduanya sudah menikmati party tanpa memedulikannya. Teman yang baik bukan? “Apa yang harus aku lakukan sekarang? Di mana Bosku?” Gumam Kyomi. Kyomi mengedarkan pandangannya mencari sosok Kanaka. Sembari mengedarkan pandangannya Kyomi terus berjalan. Tidak Bosnya, tidak kedua sahabatnya dia tidak melihat salah satu dari mereka. Kyomi mendaratkan pantatnya tanpa menoleh ke belakang. “Excuse me!” Suara bariton yang terdengar kesal menoleh ke belakang dan seketika dia terbelalak. “Astaga, apa ini? Aku duduk di atas pangkuan seorang pria?” Jerit Kyomi dalam hati. “Excuse me!” Suara bariton yang terdengar seperti sedang menahan kekesalan itu. Kyomi langsung menoleh ke belakang dan betapa terkejutnya dirinya duduk di pangkuan seorang pria. “Excuse me!” Seru pria itu kembali dengan penuh penekanan. “Y-ya!” Kyomi mengerjapkan mata berulang kali. Pria itu mendengus sembari memalingkan wajah dengan gaya yang menurutnya sangat arogan. Tapi harus dia akui sangat cocok di lakukan oleh pria itu. Kembali tatapan pria itu tertuju padanya dan untuk beberapa saat keduanya saling menatap dalam diam. Hingga kemudian pria itu berdeham dan kembali Kyomi mengedipkan mata berulang kali. “Aku tahu duduk di atas pangkuanku sanggatlah nyaman.” Kata pria arogan. Sayangnya itu tidak membuat Kyomi sadar apa arti di balik kalimat itu. “Menyingkirlah, kau mungkin merasa nyaman duduk di atas pangkuanku. Tapi tidak untukku! Kau sangat berat nona penggoda!” Katanya sarkas. Manik mata Kyomi membola sempurna, bahkan Kyomi merasakan bola matanya hampir saja keluar dari matanya. “Apa kau tuli?” Sinis pria arogan itu dengan menurunkan tatapannya ke p****t Kyomi. “Aaakkkhh!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD