Makan Malam Berbisa

1079 Words
Lampu gantung kristal di ruang makan rumah Eyang Gendis berpendar lembut, memantulkan kilau hangat ke peralatan makan perak yang tertata rapi di atas meja panjang bergaya kolonial. Aroma sup krim jagung dan ayam panggang memenuhi udara, seolah mengundang kehangatan yang sayangnya tak benar-benar hadir. Arkha dan Almira baru saja tiba di rumah. Begitu turun dari mobil, Eyang Gendis sudah menyambut dengan senyum lebar, seperti biasa—lembut namun punya otoritas yang membuat siapa pun tak berani menolak. “Pas waktunya, ayo langsung duduk. Makanan masih hangat,” ujar Eyang Gendis sambil menggandeng tangan Almira dengan hangat. Almira menunduk sopan, “Terima kasih, Eyang.” Mereka melangkah ke ruang makan. Di sana telah duduk Bu Dewi Larasati, ibu kandung Arkha, dengan ekspresi tajam yang seolah tak berniat menyembunyikan ketidaksukaan. Di sampingnya duduk Riana, tampak gelisah, menunduk dan sibuk memainkan ujung serbet makanannya. Arkha menarik kursinya dengan tenang, duduk di sisi kiri Eyang Gendis. Sementara Almira, setelah mendapat anggukan kecil dari Eyang, duduk di samping Arkha. Tak lama, makan malam pun dimulai. Sepuluh menit pertama terasa seperti badai yang belum turun. Suara sendok dan garpu terdengar kaku. Tak ada obrolan ringan seperti keluarga biasa. Sampai akhirnya, Bu Dewi membuka suaranya, dingin dan tajam. “Almira… kamu pandai juga ya… mencuri perhatian orang tua di rumah ini.” Arkha meletakkan garpunya. Almira hanya tersenyum kecil, mencoba tetap anggun. “Almira tidak mencuri apa pun, Bu,” jawab Almira pelan namun jelas, “kalau pun saya diperhatikan, mungkin karena saya dianggap keluarga.” Bu Dewi mendengus. “Keluarga? Jangan sebut itu sembarangan. Jangan panggil aku, Bu, aku bukan ibumu. Keluarga kamu... pernah menghancurkan keluarga ini. Suamiku meninggal karena ayahmu, jangan pura-pura tidak tahu.” Ceklik. Suara sendok Eyang Gendis yang dijatuhkan ke meja menggelegar lebih nyaring dari yang seharusnya. “Astaga, Dewi,” ucap Eyang Gendis, tenang namun mengancam, “Kalau mau menuduh orang lain membunuh suamimu, lakukan di luar meja makan. Jangan bawa dendam busukmu ke piring nasi. Yang kamu sebut suamimu itu anak laki-lakiku satu-satunya." Bu Dewi menegang. Wajahnya memerah karena marah dan malu. Riana yang duduk di sampingnya tak berani bersuara, apalagi memandang Arkha. “Kalau kamu nggak suka,” lanjut Eyang sambil menatap menantunya tajam, “silakan berdiri dan pergi. Meja ini untuk yang tahu sopan santun.” Tanpa menunggu lagi, Bu Dewi mendengus keras dan bangkit dari kursi, “Aku tidak sudi makan bersama anak dari pembunuh suamiku.” Langkahnya membelah ruangan menuju tangga dengan suara hak tinggi yang menggema. Riana pun buru-buru menyusul, masih menunduk tanpa sepatah kata pun. Ruangan kembali sunyi. Eyang Gendis mengambil sendok sup, meniupnya pelan seolah tidak terjadi apa-apa. “Nah, sekarang meja sudah lebih tenang. Ayo lanjut makan, cucu-cucuku. Sup ini nggak akan enak kalau dingin.” Arkha menatap eyangnya, lalu melirik Almira yang menahan napas. Almira akhirnya mengangguk, lalu meraih gelas airnya. “Terima kasih, Eyang... atas kehangatannya.” Eyang Gendis tersenyum bijak, penuh makna. Setelah makan malam yang mendidihkan emosi, Almira memutuskan untuk tidak naik ke kamar. Perutnya memang sudah kenyang, tapi hatinya masih lapar—lapar akan kejelasan, akan jawaban. Langkahnya membawanya ke dapur, tempat para pelayan sibuk membereskan piring dan gelas kotor. Suara denting sendok dan percikan air terdengar seperti lagu latar malam itu. "Permisi, boleh saya bantu cuci gelas?" tanya Almira dengan senyum ramah. Beberapa pelayan kaget, buru-buru menolak. "Jangan, Mbak! Nanti Eyang marah. Ini tugas kami." Tapi Almira tetap mengambil celemek dan memakainya. "Kalau Eyang marah, saya bilang ini kemauan saya. Lagi pula, saya tidak bisa tidur kalau tangan saya nganggur.” Begitulah Almira, jika hatinya tak tenang dia selalu mencari kesibukan untuk sejenak melupakan kepenatan. Baru saja ia mengambil piring pertama, sebuah suara sinis terdengar dari arah pintu. "Drama terus, ya, kamu." Almira menoleh. Di sana berdiri Riana, dengan gaun malam berenda warna marun, menatapnya dengan mata mengejek. "Kalau kamu butuh tepuk tangan, tinggal bilang. Nggak perlu sok merakyat di dapur," tambah Riana sambil melangkah masuk. Almira mengangkat satu alisnya, tidak gentar. “Aku nggak butuh tepuk tangan. Tapi kamu mungkin butuh panggung untuk menebus kegagalanmu tadi malam.” Wajah Riana mengeras. Ia berjalan mendekat, kini berdiri hanya sejengkal dari Almira. “Kamu pikir kamu pahlawan? Masuk ke keluarga ini, berpura-pura lugu, padahal hanya cari nama. Kamu nggak tahu apa-apa, Almira.” Almira tetap diam tak menggubris semua ucapan Riana. Hari ini dia terlalu lelah untuk berdebat. "Kamu kira Arkha akan baik sama kamu. Jangan mimpi. Arkha baik sama kamu hanya untuk melancarkan rencana balas dendamnya lewat kamu." Almira tetap diam dan kini dia justru bersenandung tak mau menanggapi ocehan Riana. "Kamu itu hanya gadis kecil. Kenapa kamu tidak kuliah saja. Kenapa kamu cari mati pergi ke sini. Kedatanganmu tidak di harapkan. Dasar anak pembunuh! Kamu tahu apa tentang Arkha." Almira meletakkan piring ke dalam baskom air, lalu berdiri tegak. Dan membalikkan tubuhnya menatap Riana yang berdiri tak jauh darinya. Tatapan Almira tajam dengan senyuman yang mematikan. "Aku tahu cukup banyak. Misalnya... bahwa seseorang menghubungi preman di Belawan dan memberi tahu mereka soal keberadaanku." Riana menegang. Almira menatap lurus ke arah gadis itu. “Dan orang itu bukan siapa-siapa… kecuali kamu.” Riana tertawa pendek, sinis. “Tuduhan tanpa bukti itu murah.” “Tapi sayangnya kecurigaan kadang lebih mahal dari bukti,” balas Almira cepat. Riana melipat tangan di depan d**a. “Dengar, Almira. Aku dibesarkan oleh Bu Dewi. Aku yang tahu selera Arkhana, kebiasaannya, semua tentang dia. Dia harusnya milikku. Bukan kamu, anak dari keluarga pengkhianat.” Almira mendekat, suaranya lebih pelan tapi tajam. “Kamu bisa tahu segalanya tentang dia, Riana. Tapi kamu lupa satu hal… Arkhana bukan barang, bukan trofi, dan bukan boneka untuk ditandai siapa ‘yang duluan punya’. Kalau kamu benar-benar mencintainya, kamu akan menjaganya, bukan menjebaknya dengan teh berisi obat dan menyebar fotonya ke media.” Riana memucat. "Lihat, akibat ulahmu kini aku menjadi tunangan Arkha . Dia mengumumkan ke seluruh dunia bahwa aku tunangannya." Almira melanjutkan, lirih namun menusuk, “Dan satu lagi… kamu bisa jadi tahu selera Arkhana, tapi sayangnya... Arkhana tidak pernah punya selera pada pengkhianat.” Suasana dapur mendadak senyap. Bahkan suara air pun seperti ikut menahan napas. Tanpa menunggu respons, Almira melepas celemek, meletakkannya di meja, dan berbalik keluar dari dapur. Langkahnya mantap, seolah ia baru saja memenangkan peperangan kecil di medan rumah tangga yang lebih besar. Di belakang, Riana terdiam. Mata membara, namun kali ini... ada bayang ketakutan. Karena gadis kecil yang dulu dianggap lugu, ternyata menyimpan keberanian dan ketajaman yang bahkan tak dimiliki wanita yang mengaku "sudah lama di rumah ini".
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD