"Woy.... Bukain pintunya..." teriak seorang perempuan dari dalam bilik toilet. Sementara itu 4 orang perempuan yang berada di depan pintu masih sibuk mengunci pintu tersebut.
"Kakak yakin, kita gak akan ketahuan? " tanya perempuan dengan pita merah itu. Perempuan yang di panggil kakak itu melirik sinis kearah perempuan berpita itu.
"Lo ngeraguin gue? " kata perempuan itu dengan nada tidak sukanya. Perempuan berpita itu menunduk, menutupi wajahnya dengan rambut panjang yang tergerai.
"Sekarang lo cepet ke aula. Ingat jangan bilang siapa-siapa, lo mau kan lomba kali ini lo sama Benua.." ucap perempuan itu, perempuan berpita itu mengangguk lalu pergi dari toilet tersebut.
"Woy, buka pintunya," teriak perempuan itu lagi sembari menggedor-gedor pintu toilet.
Setelah menempelkan sebuah kertas yang bertuliskan 'toilet rusak'. Perempuan itu tersenyum. "Kuy cabut... " ucap perempuan itu membuat kedua teman nya pergi dari tempat tersebut.
"Sialan siapa yang kunciin gue di sini. " umpat perempuan itu menendang pintu toilet. Nafasnya memburu, toilet ini begitu pengap, di tambah dengan insentitas cahaya yang kurang serta, pasokan udara yang hanya sedikit. Membuat perempuan itu mengkibas-kibaskan seragam SMA nya.
***
Sementara itu, perempuan berpita merah itu berjalan kearah Benua. "Meysha? Kamu dari mana? " tanya Benua.
"Meysha, da...dari toilet... " jawab Meysha sedikit gugup.
"Kamu dari toilet? Lihat Gemi? " tanya Benua lagi.
"Eng...... Enggak Meysha gak lihat kak Gemi.. " ujar Meysha masih dengan nada gugupnya.
"Ya ampun Gemi, kamu kemana. Sebentar lagi kita lomba... " ucap Benua sedikit frustasi.
"Benua, lomba akan segera di mulai. Ayo kita ke sana... " kata Bu Ririn yang beru saja datang. Benua mengalihkan pandangannya kearah Bu Ririn.
"Loh, Gemintang mana? " tanya Bu Ririn.
Benua menggelengkan kepalanya. "Bu, saya izin buat cari Gemi... " ucap Benua hendak melangkahkan kakinya.
"Eh Benua jangan. Sebentar lagi, lomba akan di mulai... " ujar bu Ririn melarang Benua.
"Tapi bu Gem- "
"Masih ada Meysha. Ayo! " potong Bu Ririn, mau tidak mau Benua harus ikut dengan Bu Ririn. Sementara Meysha, perempuan itu tersenyum senang.
****
"Buka pintunya..." lirih Gemi dengan gedoran kecil. Gemi sudah lelah, nafasnya tersengal-sengal pasokan udara benar-benar sempit. Perempuan itu terduduk di balik pintu.
"Buka pintunya... " rintih Gemi lagi.
Sementara itu, lelaki dengan seragam acak-acakan melintasi sebuah koridor sekolah. Kedua tangannya masuk kedalam saku celana. Langkahnya terhenti, ketika sampai di depan toilet perempuan.
"Buka pintunya... " lelaki itu mendengar sebuah rintihan dari seorang perempuan.
Bumi menatap pintu toilet, lelaki itu melihat sebuah tulisan 'toilet rusak' yang mana artinya, tidak mungkin ada orang di dalam. Namun rintihan itu kembali terdengar di telinganya.
Lelaki itu mengusap lehernya, apa benar rumor tentang toilet perempuan yang berpenghuni? Bumi ingin membuktikannya.
Ia maju selangkah, dan mencoba membuka pintu tersebut. Ada sebuah balok kayu yang mengganjal pintu tersebut. Sedikit berusaha, Bumi dapat membuka balok kayu itu.
Gemi yang mendengar kebisingan daru luar pun segera bangkit, perempuan itu sedikit mundur dan.
Brakkk...
Pintu terbuka, Gemi yang menangis pun sedikit berlari dan memeluk orang yang telah menyelamatkannya, yang di yakini Gemi sebagai Benua.
Gemi menangis di d**a Bumi, menumpahkan semua air matanya. Sementara Bumi, lelaki itu hanya diam bak patung.
"Hiks...hiks..." Gemi masih menangis, dan tangannya juga masih melingkar di pinggang Bumi.
Bumi masih belum bereaksi, lelaki itu masih diam. Tak berapa lama, Gemi melepas pelukannya pada Bumi. Perempuan itu mendongak, dan melihat Bumi di depannya. Jarak mereka sangat dekat.
Gemi sadar, orang yang menyelamatkannya tadi bukanlah Benua. Lantas ia melepaskan tangannya. Gemi juga berjalan mundur. Bumi masih menatap Gemi, lalu tak berapa lama, ia memutuskan untuk pergi dari hadapan Gemi. Tanpa perkataan.
"Tadi, Bumi? " gumam Gemi setelah Bumi meninggalkannya.
Gemi tidak perduli itu, perempuan itu pun pergi dari toilet dan berjalan menuju aula.
***
Benua masih melamun, bahkan bu Ririn yang sedari tadi meneriaki nama Benua tidak ia hiraukan. Benua tidak bisa fokus, ia masih memikirkan Gemintang. "Benua konsentrasi!" ujar Bu Ririn sedikit kesal.
Meysha melirik Benua, tangan perempuan itu menyentuh punggung tangan Benua. "Kak..." panggil Meysha.
Benua sedikit melirik Meysha lalu menarik tangannya yang di pegang oleh Meysha. "Skor kita ketinggalan..." ujar Meysha lirih.
"Oke SMA Galaksi berhasil memperoleh nilai 120 poin. SMA Kusumajaya 100 poin, dan SMA Tri Sakti 20 poin. Babak kedua kita akan di mulai 5 menit lagi..." kata pembawa acara lomba.
Dengan kesal, Bu Ririn melangkah mendekati Benua dan Meysha. "Benua! Kenapa dengan kamu? Ibu yakin kamu bisa dengan mudah menjawab pertanyaan pertanyaan tadi tapi kenapa dengan kamu?" ujar Bu Ririn bertanya tanya.
"Maaf bu..." balas Benua sembari menunduk.
Dari arah pintu, Langkah Gemi terhenti. Perempuan itu menatap Benua. Begitu juga Benua yang melihat ada Gemi di sana. Benua langsung berlari kearah Gemi.
"Kamu kemana? Saya khawatir..." ucap Benua memeluk Gemi.
"Maaf, ada yang kunciin gue di kamar mandi..." jawab Gemi.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Benua menatap Gemi dari atas kebawah.
Gemi menggelengkan kepalanya, dengan yakin Benua menggenggam tangan Gemi erat. Dan melangkah menuju area lomba.
"Oke kita mulai lagi lomba tahunan cerdas cermat 2019. Beri semangat untuk para siswa/siswi yang di wakilkan..." ujar pembawa acara, semua bertepuk tangan untuk memberi semangat kepada para peserta lomba.
Pertanyaan pertanyaan mulai di berikan. Dengan cepat juga, Gemi dan Benua menjawab semuanya. Hingga poin mereka lebih unggul dari para peserta lain.
"Dan pemenang lomba tahunan cerdas cermat tahun 2019, adalah SMA TRI SAKTI..." ujar pembawa cerita. Sontak Gemi memeluk Benua.
Mereka melepaskan pelukan mereka, bu Ririn menghampiri Mereka. "Selamat ya untuk kalian..." ucap Bu Ririn memberi selamat.
Setelah menerima piala, Benua menarik tangan Gemi untuk keluar dari gedung aula. Mereka saling berhadapan, kedua tangan Benua memegang tangan Gemi.
"Saya gak tau kalau kamu tadi benar-benar tidak datang..." kata Benua sembari tersenyum.
"Lo frustasi banget ya? Mikirin gue?" tanya Gemi melingkarkan tangannya pada leher Benua.
Benua tersenyum. "Cuma kamu yang bisa membuat saya seperti ini..." ucap Benua, mereka tertawa bersama.
Jarak wajah mereka hanya beberapa jengkal. "Besok, saya mau menghabiskan waktu bersama kamu..." ujar Benua menyibakkan beberapa helai rambut Gemi.
"Boleh, kemana?" tanya Gemi antusias.
"Besok kamu akan tauu." balas Benua. "Dandan yang cantik ya, Sayang..." pinta Benua dengan menahan senyumnya.
Gemi tersenyum lebar. "Apa tadi? Gak kedengeran..." ujar Gemi dengan senyuman jahilnya.
Benua menatap Gemi. "Sayang..." ulang Benua sedikit malas.
Gemi tertawa. "Iya sayang..." balas Gemi sembari mencium pipi kanan Benua, lalu lari dari hadapan Benua.
Benua masih diam, tak berapa lama. Senyum di bibirnya merekah. Betapa jahilnya perempuan itu. Perempuan yang mampu membuat harinya berwarna.
****