Keesokan paginya, mobil Evan sudah berada tepat di depan halaman rumah Alya. Ia turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Maya yang berada di halaman, yang sedang menyiram tanaman langsung menoleh ke arah Evan. Maya mengernyitkan keningnya.
"Pagi tante!"
Maya menautkan kedua alisnya, Maya membalas sapaan dari Evan sambil tersenyum lebar.
"Pagi juga Evan, wah tumben banget nih Kamu ke sini?" Tanya Maya.
"Iya saya mau jemput Alya tante!" Ucap Evan.
Maya menganggukkan kepalanya pelan, tapi tatapannya tertuju kepada wajah Evan yang terlihat habis dipukul.
"Van, wajah kamu kenapa kok kayak begitu?" tanya Maya.
"Oh ini, biasa tante cowo!" ucapnya.
"Loh kamu berantem? Sama siapa?" tanya Maya.
Evan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, memasang wajah bingung harus menjawab seperti apa.
"Duh gimana ya tan bilangnya, saya gak enak. Nanti di sangka ngadu lagi tan!" ucap Evan.
Maya mengernyitkan keningnya, wanita paruh baya itu tambah penasaran dengan apa yang ingin Evan ucapkan.
"Emang siapa? Tante kenal sama orangnya?" tanya Maya.
Evan mengangguk kan kepalanya pelan. Maya pun sedikit lebih mendekat ke arah Evan, bagaikan emak-emak komplek yang penasaran dengan gosip terhangat.
"Emang siapa bilang aja?" titah Maya.
"Hmm." Evan merapatkan bibirnya terlebih dahulu, dia benar-benar memasang wajah tidak enak. "Rangga tante..."
Maya menautkan kedua alisnya, saat mendengar nama Rangga keluar dari mulut Evan.
"Apa Rangga?" Evan langsung menganggukkan kepalanya cepat.
"Iya tante, tapi Tante jangan bilang ke Alya ya, atau ke Rangganya," pinta Evan.
Maya masih saja belum terlalu percaya dengan ucapan Evan, "tapi kenapa kamu dipukul sama Rangga?"
Evan mengangkat sebelah bahunya, "saya juga nggak tahu tante, kemarin malam saya akan ke supermarket. Di sana saya ketemu sama Rangga, dia tiba-tiba marah sama saya. Padahal saya jalan bersama saudara saya, tapi dia malah nuduh saya yang macam-macam!" ungkap Evan.
Maya mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengarkan cerita dari sisi Evan. "Oh gitu, Emang Rangga nggak nanya dulu sama kamu masa main pukul sih?"
Maya yang sudah mengetahui Rangga pun, tidak terlalu percaya dengan ucapan Evan.
"Rangganya mabuk tante, jadi dia langsung main hajar saya aja!" sambungnya lagi.
"Mabuk? Tumben banget anak itu mabuk, biasanya Dia jarang banget kalau mabuk. Dan kalau mabuk juga pasti pulangnya ke sini!" papar Maya, yang sangat mengetahui bagaimana Rangga.
Evan menelan salivanya kasar, ucapannya dicurigai oleh Maya. "Wah kalau itu saya juga kurang tahu tante, cuman kronologisnya seperti itu. Sampai satpam misahin kita berdua!"
Maya menatap lekat ke arah Evan, pria itu benar-benar memasang wajah yakin kalau dirinya itu tidak bersalah. Maya pun pada akhirnya mau tidak mau percaya dengan ucapan Evan.
"Oh gitu, kalau gitu maafin Rangga ya Van. Dia pasti lagi banyak masalah itu, makanya dia begitu. Tante sudah hafal sekali dia seperti apa, dari kecil Rangga itu suka di asuh sama tante, jadi sedikity tante tahu bagaimana Rangga!" jelas Maya, yang terkesan masih tetap membela Rangga.
Sebelah tangan Evan pun terkepal, saat Maya ternyata ada di sisi Rangga. Evan membuang nafasnya kasar, lalu tersenyum kembali.
"Iya Tante nggak apa-apa kok, Alyanya ada tante?" tanya Evan.
"Ada, ayo masuk dulu biar tante panggilkan Alyanya." Evan pun menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah Maya dari belakang.
"Tunggu dulu ya, biar tante panggilkan dulu di dalam!" Evan menganggukan kepalanya dan duduk di ruang tamu.
Maya segera naik ke lantai atas, dia sedikit berlari. Tanpa mengetuk pintu Maya langsung masuk ke dalam kamar Alya.
Alya langsung menoleh ke arah ibunya yang berjalan sedikit tergesa-gesa. "Mama kenapa sih?" tanya Alya dengan tatapan heran.
"Itu ada Evan di bawah jemput kamu," jawabnya.
Terlihat dari wajah Alya tidak senang saat tahu kalau dirinya dijemput oleh Evan. Alya membuang nafasnya kasar, tapi dia tidak berbicara apapun pada ibunya.
"Kalian balikan?"
Alya mengangkat sebelah bahunya, meneruskan merias wajahnya di balik cermin.
Maya menyipitkan matanya menatap curiga ke arah Alya. "Kalau nggak balikan, Kenapa Evan jemput kamu? Kemarin juga dia nganterin kamu kan?" tanya Maya penuh selidik.
"Udah ah mah, aku mau siap-siap dulu!" ucap Alya.
Maya mengerutkan keningnya, melihat gerak-gerik anaknya itu sangat mencurigakan.
"Kamu Beneran balikan ya sama Evan? Bukannya dulu kamu sakit hati banget sama cowok itu?" tanya Maya kepo.
Alya membuang napasnya pelan, Dia sedikit menoleh ke arah ibunya yang berada di sisinya.
"Aku sama dia nggak balikan mah! Gini aja yang ngejar-ngejar aku terus!" jelas Alya.
"Terus kamunya juga mau kan? Makanya Evannya berani ngejemput kamu, coba kalau kamu tolak. Pasti dia juga nggak akan berani kayak begini, apalagi katanya dia kemarin habis berantem sama Rangga!"
Mendengar nama Rangga, Alya langsung menoleh kembali ke arah ibunya. "Apa? Dia berantem sama Rangga?"
Maya segera menganggukkan kepalanya, "Iya, lihat aja nanti kamu mukanya si Evan itu babak belur," ucap Maya menggebu-gebu.
"Kenapa mereka bisa berantem mah?"
"Kata Evan sih Rangga salah paham, terus dia lagi mabuk banget!" jelas Maya.
"Salah paham apaan mah? Tentang apa?" Tanya Alya menjadi penasaran.
"Rangga nyangkanya kalau Evan itu punya cewek lagi. Terus ya dipukul deh si Evannya, Mama sih percaya nggak percaya ya. Karena mama lebih kenal sama Rangga!" ungkap Maya.
Alya terdiam saat mendengar penjelasan dari ibunya. Jika Rangga bisa sampai seperti itu, berarti benar kalau Evan semalam bersama dengan wanita lain.
Alya menghela nafasnya pelan, Ia kembali menatap dirinya di cermin dan merapikan penampilannya. Alya berusaha untuk tidak peduli untuk sementara waktu, demi keselamatan mamahnya, sambil dia mencari cara bagaimana keluar dari ancaman Evan.
Alya beranjak dari tempat duduknya, dia menatap ke arah ibunya. "Aku pergi kerja dulu ya mah!"
"Sama Evan?" Dengan berat hati Alya menganggukkan kepalanya. "Serius kamu mau bareng sama Evan? Mending kamu naik ojek online aja atau bareng sama Rangga, nanti Mama telepon Rangga biar datang ke sini."
Alya langsung menggelengkan kepalanya, "nggak usah mah, semua akan baik-baik saja kok!" ucap Alya sambil tersenyum lebar ke arah ibunya.
Namun ketara sekali, wajah ibunya yang tampak khawatir kepada Alya. Maya hanya bisa mempercayai keputusan Alya, dia membalas senyuman Alya sambil mengusap pipi anaknya.
"Kalau ada apa-apa itu bilang ke mama ya, jangan kamu pendam sendiri!" ucapnya.
Alya kembali menganggukkan kepalanya, sambil mengedipkan sebelah matanya. "Ok bos! Aku pergi dulu!"
Alya pun pergi melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya sendiri. Sedangkan Maya mengikuti langkah Alya dari belakang, dia ingin memastikan kalau Alya itu pergi baik-baik saja.
Kini mereka sudah berada di ruang tamu, Alya sudah menemui Evan yang menyambutnya dengan senyuman lebar. Tetapi tidak dengan Alya yang memasang wajah kecut.
Setelah kedatangan Alya, Evan pun segera beranjak dari tempat duduknya dan berpamitan kepada Maya.
"Tante Evan dan Alya pergi dulu ya!" Pamit Evan yang di angguki oleh Maya.
"Hati-hati di jalan ya, jangan ngebut-ngebut ya Van!" pinta Maya.
"Siap tante!" Evan memberikan jempol kepada Maya. Dia pun menatap ke arah Alya dan mengajaknya untuk segera pergi menuju kantor. "Yuk Al!"
Alya pun mau tidak mau, ikut dengan Evan. Walaupun di dalam hatinya, Dia sangat menolak diantar oleh mantan kekasihnya itu.
Apalagi saat dia mendengar penjelasan dari mamanya, tentang Evan yang dipukul babak belur oleh Rangga. Saat mereka keluar dari rumah Alya, dan berjalan menuju mobil yang terparkir di depan gerbang rumah Alya.
Evan membukakan pintu mobil untuk Alya. Namun saat Alya akan masuk ke dalam mobilnya, tiba-tiba saja mobil Rangga ada di dekat mereka. Alya yang masih kesal dengan Rangga, pada akhirnya, memutuskan untuk merespon sikap dari Evan.
Alya mendelikkan matanya dari mobil Rangga, dan dia pun tersenyum lebar ke arah Evan. Sambil bilang terima kasih dengan nada yang manja.
Melihat Alya masuk ke dalam mobil Evan, Rangga mengeratkan pegangannya pada setir mobil. Dia pun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"b******k!"