Alya Dalam Bahaya!

2013 Words
Setelah mendengar penjelasan dari Maya, Rangga terdiam sejenak. Dia masih kesal dengan sikap Evan yang melihat Alya begitu rendah. Rangga membuang napasnya kasar, ternyata bukan dia saja yang khawatir dengan Alya, ternyata ibunya juga sama khawatir dengan Alya. "Alya gak cerita apa-apa sama aku tante, udah berapa hari ini Rangga belum ketemu Alya. Atau hanya sekedar saling balas chat," jelas Rangga. Maya membuang napasnya kasar, wajahnya terlihat sedikit kecewa, karena Rangga tidak mengetahui apa-apa. Namun, tiba-tiba Maya teringat kalau Evan dan Rangga bertengkar. Maya kembali melihat ke arah Rangga. "Ngga, tadi pagi Evan bilang kalau kamu mukulin Evan? Karena kamu salah paham sama dia?" Rangga mengerutkan keningnya saat mendengar obrolan Maya. "Salah paham apa tante?" Maya menarik napasnya dalam-dalam, "katanya kamu nyangka yang bersama Evan itu selingkuhan, padahal itu adalah saudaranya," jelas Maya. Rangga tertawa pelan mendengarnya, ternyata Evan sudah lebih dulu mencuri start. Padahal Rangga tidak akan menceritakan apa-apa tentang Evan, tapi pria itu sudah ketakutan terlebih dahulu. Sedangkan Maya menunggu jawaban dari Rangga. "Bener itu Rangga?" "Semalam memang Rangga melihat Evan sama cewe tante, tapi Rangga ragu kalau itu saudaranya. Rangga juga sempat ambil fotonya, siapa tahu Tante mau liat!" ucap Rangga. Maya langsung menganggukkan kepalanya. Rangga langsung memberikan ponselnya kepada Maya, wanita paruh baya itu langsung meraih ponsel Rangga, dan melihat foto yang sempat ditangkap oleh Rangga. Maya mengernyitkan keningnya, melihat foto yang ada di ponsel Rangga. "Emang ada saudara yang kaya gini?" tanya Maya heran. Rangga hanya tertawa pelan mendengar ucapan dari Maya. Dari sana Maya pun bisa menilai apakah itu saudara atau bukan. "Kalau kayak gini sih pantes aja kamu mukul si Evan, coba kirim fotonya ke tante. Nanti biar tante kasih lihat ke Alya." Rangga menganggukkan kepalanya, lalu dia langsung mengirim foto itu ke ponsel Tante Maya. "Udah aku kirim tante!" jawabnya. Maya tersenyum tipis, wajahnya kini membalas kepada Rangga. "Rangga Tante Boleh minta tolong?" Pria itu mengangguk tanpa ragu, "Boleh tante apa?" tanyanya. "Tolong jagain Alya ya, dan tante suka khawatir sama dia. Apalagi sekarang dia deket sama Evan, duh tante benar-benar nggak mau kalau Alya kenapa-napa. Tolong jagain Alya ya, kalau misalkan kamu punya teman yang lagi cari calon istri terus menurut kamu dia baik, kenalin sama Alya..." Mendengar permintaan Maya, entah kenapa ada rasa keberatan di hatinya. Terlintas di dalam pikirannya, kenapa bukan dia saja yang menjadi suami Alya, toh mereka sama-sama sedang mencari. Soal cinta? Itu masalah nanti, yang penting mereka bisa membuat ke dua orang tua mereka merasa tenang. Rangga menganggukan kepalanya pelan, " Iya Tante nanti kalau ada Rangga kenalkan!" jawabnya dengan berat hati. "Oh iya kata mama kamu, udah punya calon. Tapi belum di kenalin aja, mama kamu terus kepikiran tahu Rangga." Rangga hanya tersenyum tipis mendengar itu, sudah bukan hal langka kalau ibunya selalu ingin menjodohkan dirinya. "Mamah kamu itu, kepikiran kalau kamu gak bisa buka hati kamu Rangga. Dia hanya ketakutan, jadi kamu jangan marah sama mama kamu, niatnya baik mungkin caranya yang tidak kamu suka!" Jelas Maya yang bisa memahami Rangga. Rangga menatap ke arah Maya, wanita paruh baya ini selalu mengetahui isi hatinya tanpa Rangga bilang. "Tante selalu ngerti Rangga!" ucap Rangga sambil tersenyum lebar. "Gimana tante nggak tahu kamu, dari kamu orok aja, kamu tuh udah sama tante. Tahu gak mama kamu itu riwehnya minta ampun, pasti selalu datang ke rumah tante sambil bawa kamu. Katanya kalau ada temen ngurusin anak nggak terlalu stress," kekehnya. "Iya kah Tante?" Maya langsung menganggukkan kepalanya. "Mama kamu tuh sering banget nginep di rumah tante, sampe papa kamu selalu jemput mama kamu karena nggak mau pulang. Katanya kalau ngurus anak sendirian itu stress! Makanya kamu sama Alya itu emang bener persahabatan dari orok, dari rahim malahan!" Maya tertawa pelan, kita juga dengan Rangga yang ikut tertawa. "Sempat tante sama mama kamu itu pengen ngejodohin kalian, waktu masih kecil. Kami ngebayangin kalau kalian nanti udah besar bisa menikah, lalu besanan. Tapi Tante sama mama kamu juga nggak mau memaksakan keinginan kami, walaupun sebenarnya berharap sih!" Kekehnya. Rangga menaikkan sebelah alisnya, saat melihat ada lampu hijau untuk menikahi Alya. Rangga pikir lebih baik menikahi Alya, dari pada dia harus menikah dengan wanita yang tidak dia kenal. "Oh ya Tante sama mama kepikiran buat jodohin aku sama Alya?" Tante Maya langsung menganggukkan kepalanya, "iya kepikiran sih buat ngejodohin kalian, tapi nggak lihat kalian kayak lebih nyaman jadi sahabat kayak begitu!" Rangga tertawa pelan sambil meminum minumannya. "Kalau ternyata Rangga sama Alya mau dijodohin gimana Tan?" Maya mengedip-ngedipkan matanya, saat mendengar ucapan dari Rangga. "Emangnya kamu mau dinikahin sama Alya?" "Ya kalau memang jodohnya Rangga, Alya. Ya kenapa enggak?" ucap Rangga. Maya sedikit ternganga mendengar jawaban dari Rangga. "Memangnya kamu suka sama Alya?" Saat mendapatkan pertanyaan itu Rangga terdiam, dia bingung harus menjawab seperti apa kepada Tante Maya. Karena dia juga sendiri belum merasakan apa-apa pada Alya. "Kalau suka sih bisa mengikuti ya Tan. Cuman Rangga emang udah anggap Alya itu kayak adik Rangga sendiri!" Tante Maya langsung menganggukkan kepalanya, saat mendengar jawaban dari Rangga. Sebenarnya ada rasa kecewa juga dari jawaban Rangga, yang Tante Maya pikir kalau Rangga itu menyukai Alya. Tapi hanya sebatas Rangga itu menganggap Alya sebagai adiknya. "Oh gitu, kirain tante Emang kamu punya rasa ke Alya, Kalau ada sih mau Tante bantuin tapi kalau misalnya kayak begitu ya mungkin kalian belum jodoh!" Rangga menelan salivanya kasar, Dia hanya bisa terdiam saat mendapatkan jawaban dari Tante Maya. "Iya tante..." Maya melihat jam yang ada di tangannya, sudah menunjukkan pukul 13.00 siang. "Angga, kamu nggak masuk kantor lagi? Ini udah jam 13.00 siang loh!" Rangga pun langsung melihat jam yang ada di tangannya. Benar saja jam waktu makan siang sudah habis, dan dia harus segera kembali ke kantor karena ada meeting. "Oh iya tante, keasikan ngobrol sama tante sih. Nggak papa Tan kalau Rangga balik lagi ke kantor? Soalnya habis ini mau ada meeting!" "Ya nggak apa-apa lah Rangga, makasih ya udah mau nemenin tante. Kalau kamu punya info tentang Alya sama Evan tolong kasih tau tante secepatnya ya!" Rangga segera menganggukkan kepalanya, "Tante aku pasti bakalan cepat kasih tahu kok, Rangga ke kantor dulu ya. Tante nanti pulangnya diantar sama sopir nggak aja." Tante Maya langsung menggelengkan kepalanya. "Eh nggak usah Rangga, habis ini Tante mau ke rumah temen dulu soalnya. Biasa ibu-ibu!" "Ya udah tante nggak apa-apa, nanti biar sopir Rangga nganterin tante ke rumah teman tante. Tinggal bilang aja di mana oke, Jangan nolak tante! Rangga pamit dulu!" Rangga pun segera pergi meninggalkan Tante Maya. Maya tersenyum tipis sambil melihat kepergian Rangga. "Andaikan anak itu jodoh Alya, aku bisa tenang ninggalin Alya!" --- Tidak terasa langit pun sudah mulai berwarna jingga. Wajah Alya langsung berubah menjadi tidak semangat, padahal setiap jam pulang pasti Alya selalu semangat. Kali ini Alya ingin kerja lebih lama lagi. Ponselnya pun langsung berdering, tampak nama Evan yang muncul di layar ponselnya. Alya tidak menggubris panggilan tersebut, dia langsung menggantinya dengan mode silent. Alya kembali fokus ke laptopnya, karena masih ada pekerjaan yang belum selesai. Ponselnya kembali berdering menandakan pesan masuk dari Evan. Alya menarik nafasnya pelan-pelan, pada akhirnya dia membaca pesan dari Evan yang terlihat dari bubble chat. Matanya membelalak sempurna, saat tahu kalau Evan sudah ada di depan kantornya. Alya benar-benar merasa tertekan, oleh Evan. Di dalam benaknya, sepertinya Alya harus meminta bantuan pada Rangga. Tiba-tiba ada pesan lain yang masuk ke ponselnya, dari ibunya. Alya langsung membuka pesan dari ibunya, Alya menyipitkan matanya saat Maya mengirimkan gambar ke padanya. "Bukannya ini Evan ya? Dia sama cewek?" Terlintas di dalam pikiran Alya untuk menggunakan bukti ini, agar bisa menjauhi dirinya. Senyum Alya pun terbit, dia segera membereskan pekerjaannya untuk segera menemui Evan. Dia sudah tidak sabar ingin segera menyelesaikan masalahnya dengan Evan. Alya pun membalas pesan Evan untuk menunggunya di dalam mobil. Wajah Alya mendadak begitu semangat, Dia segera membereskan pekerjaannya yang hanya tinggal sedikit lagi. Tidak butuh waktu lama pekerjaan Alya pun beres, Ia segera membereskan barang-barang yang ada di atas meja kerjanya untuk dimasukkan ke dalam tas. Fares yang melihat Alya begitu semangat pun menjadi penasaran. "Semangat banget nih yang mau pulang?" "Berisik lu, gue balik duluan ya bye!" Ucap Alya, yang segera meninggalkan ruang kerjanya. Alya sedikit bergegas untuk sampai di mobil Evan lebih cepat. Alya pun langsung memencet tombol, untuk segera sampai di lantai dasar. Sesampainya di lobby Alya segala berjalan menuju basement. Di sana Evan sudah menunggunya, Alya segera masuk ke dalam mobil Evan. "Hai, udah beres kerjanya?" Alya hanya menganggukkan kepalanya, tanpa bersuara. "Baguslah kalau begitu, aku mau ngajak kamu ke sebuah tempat!" Alya mengerutkan keningnya, saat akan diajak ke sebuah tempat oleh Evan. "Ke mana?" "Nanti juga kamu tahu!" Alya pun tidak banyak bicara, saat Evan sudah melajukan mobilnya keluar dari kantor Alya. Di dalam perjalanan Alya hanya diam, Alya memutuskan untuk memperlihatkan foto itu, saat sudah sampai di tempat tujuan. Saat dalam perjalanan Alya melihat Rangga mengirimkan pesan padanya. Rangga: lo di mana? Namun Alya tidak membalasnya, dia hanya melihat pesan Rangga dari bubble chat yang timbul di layar ponselnya. Evan yang melihatnya pun langsung bertanya, " chat dari siapa?" Alya terdiam sejenak tidak langsung menjawab pertanyaan dari Evan. "Kenapa kamu diam? itu chat dari siapa?" Tanya Evan dengan nada tinggi. "Dari Rangga!" "Jangan dibalas! Karena kamu itu sekarang milik aku!" ungkap Evan. "Kata siapa aku belum mengiyakan ajakan kamu kan?" Elak Alya. "Mau atau tidak kamu akan tetap menjadi milik aku Alya!" "emangnya kamu siapa berhak atas aku?" "Ya aku calon suami kamu jangan membantah atau kamu tahu akibatnya!" ancam Evan. "kamu pikir aku takut hah?" tantang Alya. Evan menoleh sebentar ke arah Alya yang kini sudah berani menantangnya. Sebelah tangan Evan mencengkram lengan Alya dengan kuat, hingga dirinya merasa kesakitan. "Lepasin gue b******k!" pinta Alya langsung menepis tangan Evan. Evan mengajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Alya sedikit panik saat dia bingung akan dibawa ke mana. "Kita mau ke mana! Lu jangan yang aneh-aneh ya Van, gue makin benci sama lo! Gue tahu ya lu masih suka main cewek di belakang gue! Gue punya buktinya!" Evan menaikkan sebelah alisnya saat mendengar ucapan Alya. Dia teringat saat bertemu dengan Rangga, pasti info itu tidak jauh keluar dari mulut Rangga. Namun Evan memilih untuk diam, dia fokus kepada jalan yang ada di depannya. "Lu diem, sampai kita, sampai di tujuan!" "Lu mau bawa Gua ke mana sih?" "Yang pasti kita akan bersenang-senang!" "Sinting lu Van, berhenti nggak mobilnya atau kalau nggak gue loncat dari mobil." Mendengar ancaman dari Alya, Evan justru menambahkan kecepatan mobil miliknya. "Kalau lo mau loncat, loncat aja. Paling lu nanti langsung mati atau enggak lumpuh!" Alya mengepalkan tangannya kesal, apa kata Evan kalau dia berani loncat. Maka dirinyalah yang akan celaka. Ternyata Evan masih mengetahui kelemahan Alya. Pada akhirnya mereka sampai di sebuah wilayah yang cukup sepi. Alya kurang tahu di mana tempatnya. Tangannya pun langsung masuk ke dalam tas untuk mencoba menghubungi Rangga. Firasatnya kalau Evan akan melakukan hal yang tidak benar. Alya langsung mencoba untuk menelpon Rangga tanpa sepengetahuan Evan. Mereka pun memasuki sebuah rumah yang seperti villa. Dan rumah itu pun sangat sepi, seolah tidak ada penghuninya sama sekali. "Turun!" Alya langsung menggelengkan kepalanya, "gua nggak mau turun gue pengen pulang!" "Turun gua bilang!" tirah Evan yang sudah membuka pintu mobil Alya dan mencengkram tangannya sangat kuat. "Lepasin gua b******n!" Teriak Alya, yang meronta-ronta ingin dilepaskan. Namun genggaman Evan terlalu kuat, Alya pun tidak bisa mengalahkan tenaga Evan. "Lepasin gua!" Alya terus berteriak ingin minta dilepaskan. Berharap ada seseorang yang mendengar teriakannya, Tapi semua itu sepertinya mustahil. "Lu bisa diem nggak sih?! Semakin lu gak bisa diam, gue semakin kasar sama lo!" Evan terus menarik Alya hingga masuk ke dalam rumah tersebut dan menghempaskannya hingga jatuh ke lantai. Kening Alya hingga membentur meja yang ada di depannya. "Awh!" Sebuah darah segar pun keluar dari kening Alya. Dia langsung memegang kepalanya karena terasa amat sangat sakit. Alya berharap kalau dia berhasil menghubungi Rangga. Evan berjalan mendekati Alya dan mencengkram rahangnya. "Lu denger ya, mulai saat ini lu cuman milik gue!" Alya menggelengkan kepalanya dengan wajah yang memelas. "Lepasin gue, gue gak mau!" "Sekarang lebih baik lo puasin gue!" Alya terus menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk menolak. "Rangga tolong!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD