Nana mencoba melepaskan ikatan di pergelangan tangannya. Bahkan napasnya mulai sesak karena sekitar gelap tanpa cahaya sedikit pun seolah semua lubang tertutup atau mungkin memang hari sudah gelap. Keringat dingin sudah mengucur deras di pelipis Nana, kedua tangannya yang masih terikat terus ia gerakkan berharap tali yang mengikatnya bisa sedikit mengendur dan ia bisa terlepas. Namun, rasa sesak di dadanya membuat kesadarannya di ambang batas, Nana terus berusaha sadar dan mencoba tenang meski batinnya berteriak ketakutan. “To..long..” Napas Nana semakin berat tubuhnya juga tidak bisa ia gerakkan kembali. Sisa napasnya ia mencoba tidak panik mengingat kembali saran dari dokter juga dorongan dari Dila dulu. “NANA!!” “Eh Jak bangun!! Hei!!” ucap Ifan sambil mencoba mendudukkan Jaka juga

