Malam telah merayap masuk, membawa serta selimut kelam yang membungkus gedung rumah sakit dengan tenang. Cahaya lampu neon yang suram menghiasi koridor panjang yang sepi, menciptakan bayangan yang menari-nari seiring langkah-langkah resah Revan. Dia terus-menerus berkeliling di area rumah sakit, seolah-olah berharap menemukan sesuatu yang dapat memberinya alasan untuk tetap tinggal di tempat itu. Suara langkah kakinya bergaung, menjadi satu-satunya suara yang menemani malam yang hening ini. “Ck! Jadi nggak tahu harus ngapain di sini,” gumam Revan dengan kesal. Dia mengembungkan pipinya berulang kali, menunjukkan kekesalan yang terpendam. Malam telah datang, dan suasana rumah sakit menjadi lebih tenang, hanya dihiasi oleh bunyi-bunyian kecil yang khas dari suasana malam—detak mesin,

