Melarikan Diri
“Gimana Bang, sudah dapat tiket buat aku pulang?”
“Sabar Cin, beberapa daerah lagi terkena dampak asap. Kita belum bisa pergi jauh-jauh bandaranya belum buka.”
“Iya Bang. Oh iya, makasih ya Bang Iwan udah mau bantuin Nawang selama Nawang ada di sini.”
“Udah gak usah kayak gitu Cin ... kamu juga bantu abang. Kalau gak ada kamu abang mungkin udah jadi almarhum.”
Mereka saling menggenggam tangan. Hubungan mereka memang seperti saudara kandung. Mereka saling menjaga dan melindungi dengan cara mereka masing-masing.
***
“Kamu mau beli apa aja, Cin?”
“Aku gak pengen beli apa-apa Bang. Aku cuma mau jalan-jalan aja.”
Malam ini, Iwan dan Mawar berjalan berdua di mall terbesar di Pontianak. Di saat yang sama Bagas pun tengah menuju ke mall untuk membeli sepatu kets.
Iwan bertemu beberapa temannya yang sama-sama melambai. Mereka ngobrol seru. Karena bosan Mawar memutuskan melihat-lihat sepatu.
Mawar ingin mengambil sebuah sepatu cantik tapi tanpa sengaja menyenggol sepatu lain karena dia terdorong oleh anak kecil yang tengah berlarian kesana kemari mengganggu pengunjung lain.
Mawar bermaksud mengambil sepatu itu namun sebuah tangan kekar mengambilnya terlebih dahulu dan menaruhnya di rak.
“Bagas,” ucap Mawar lirih.
“Hai Mawar, apa kabar?” Bagas menyapa Mawar dengan lembut. Pandangan matanya teduh dan penuh kerinduan. Mawar bukanlah gadis polos, dia tahu arti tatapan Bagas. Mawar akui Bagas memang berbeda dengan para lelaki yang pernah ditemuinya.
“Kamu mau beli sepatu?”
“Hem.” Mawar berusaha bersikap ketus.
Bagas hanya tersenyum.
“Kamu suka yang kayak apa modelnya, suka yang hak tinggi atau wedges atau slip.”
“Brisik tahu!”
Bagas terkekeh melihat reaksi Mawar alias Nawang. Kalau saja Bagas belum pernah merasakan bagaimana kehangatan Nawang dan dia pula lelaki pertama yang berhasil menariknya ke ranjang, mungkin Bagas akan bersikap ketus juga. Tetapi tidak. Kali ini, Bagas ingin menghapus gencatan senjata antara keduanya. Dengan hangat, digenggamnya jemari Nawang lalu Bagas menariknya untuk melihat sepatu.
Mau tak mau Mawar pasrah juga akan kehadiran Bagas. Mereka nampak seperti sepasang kekasih yang tengah berbelanja. Apalagi beberapa kali Bagas membantu memasangkan sepatu pada kaki jenjang Mawar. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat mereka penuh cemburu.
***
“Kamu berkeringat.” Bagas mengambil sapu tangannya dan mengelap keringat Mawar.
“M-makasih.” Mawar menjadi gugup akibat tingkah lembut Bagas.
Iwan menatap dua orang di depannya dengan penuh selidik. Saat pertemuan pertama mereka dulu, mereka nampak seperti anjing dan kucing tapi sekarang seperti sejoli lagi kasmaran.
“Kalian pacaran?”
“Enggak.”
“Iya.”
Bagas dan Mawar saling pandang.
“Ckckck. Malah pada gak ngaku lagi.” Iwan mulai bersungut-sungut.
Mereka makan dengan santai. Sesekali obrolan terdengar dari ketiganya. Selesai makan, ketiganya menuju tempat parkir. Sesampainya di tempat parkir, mereka berpisah. Tiba-tiba ada beberapa orang yang menculik Mawar. Iwan berusaha membantu tapi sayang dia kalah. Bagas yang mengetahuinya segera menolong Mawar.
Terjadi perkelahian sengit, tiga lawan satu tapi Bagas dengan mudah menghadapinya. Kedua orang yang tengah menarik Mawar segera menuju ke mobil. Tapi mawar berontak dan menginjak salah satu kaki penculik sedangkan yang lain ia gigit. Dia pun berlari menjauh.
Bagas berlari menuju arah Mawar, dia segera menarik tangan Mawar. Salah satu penculik spontan memegang pistol dan mengarahkan ke arah Bagas. Bagas menghindar, mencoba melindungi Mawar.
Adegan seperti di film action terjadi, dimana Bagas dan Mawar mencoba melindungi diri mereka dari serangan penculik yang membawa pistol. Mereka terus berlari untuk melarikan diri.
Bagas bisa membuka mobilnya, menarik Mawar masuk lalu segera melajukan mobilnya cepat. Para penculik mengejarnya. Iwan hanya bisa pasrah, ia menangis, takut terjadi sesuatu dengan Mawar.
“Bara, kamu dimana?” Iwan menghubungi Bara.
“Saya di apartemen Bang.”
“Cepetan ke sini. Kita harus menyelamatkan Mawar. Kevin bener-bener gila.”
***
Aksi kejar-kejaran kedua mobil masih terjadi. Sesekali tembakan terlepas menuju mobil Bagas. Mereka menyusuri jembatan yang melintasi sungai Kapuas. Salah satu tembakan mengenai ban mobil Bagas, mobil oleng. Bagas kehilangan kendali dan terlempar menuju sungai Kapuas. Orang suruhan Kevin menghentikan mobilnya.
“Gila kamu, sudah kubilang hati-hati. Kalau Bos Kevin tahu bagaimana?” Bentak orang yang paling besar badannya.
“Aku tadi gemas. Udah, nanti kita bilang aja kalau buruan kita kabur karena ada yang membawanya lari.”
“Ya sudah ayo.”
***
“Bodoh kalian semua, kalian tidak becus.” Kevin marah-marah karena wanita pujaannya jatuh ke sungai. Entah ia hidup atau tidak.
Di sisi lain, Mayang tersenyum sinis mengetahui wanita yang dicintai suaminya mungkin sudah mati. Mayang tahu, kalau Kevin tergila-gila pada Mawar sejak pertama jumpa dengan wanita itu. Mayang tipe pencemburu, dia marah karena sampai hari ini Kevin tak mau mencintai Mayang.
Mayang seorang putri bandar n*****a terkenal. Tapi dia tergila-gila pada Kevin. Hingga berbagai cara ia lakukan untuk mendapatkan Kevin. Sayang dia hanya mendapat raganya bukan hatinya. Mayang tahu Kevin selalu bersenang-senang dengan wanita lain. Jika wanita itu seorang PSK, Mayang tak ambil pusing tapi jika bukan maka wanita itu akan bernasib seperti Nana. Dihajar dan dipermalukan di depan banyak orang.
“Bos, sudah saya laksanakan.”
“Bagus. Biarkan mereka mati, aku tak perduli. Pergi sana!”
“Baik Bos.”
Mayang menatap foto Nawang dengan penuh kebencian.
“Aku benci sama kamu Nawang Wulan.”
*****