Wajah Zhan Jin berkerut-kerut, tapi tidak ada yang memperhatikan. Jalan menuju lokasi ditemukan korban menjadi sangat becek dan berlumpur karena hujan deras. Tanah yang berlumpur lengket di sol sepatu hingga menjadi berat dan itu terasa lebih merepotkan.
“Harusnya cukup sekali aku ke sini. Dokter forensik tidak harus mendatangi tempat kejadian beberapa kali. Lihat, sepatuku menjadi sangat kotor!” Zhan Jin melontarkan celetukkan yang sama sekali tidak memanaskan telinga Liu Xikuan dan Luo Xi, mereka sudah terbiasa dengan orang itu yang memang menceletuk dengan cara yang langsung.
“Sepatumu ada beberapa pasang, menurut ingatanku. Satu sepatu kotor, itu bukan masalah. Kamu yang menginginkan bekerja dengan sepatu putih, jadi itu urusanmu.” Menjawab dengan gumaman yang terdengar nyaring. Luo Xi tidak marah, hanya sedikit menegur.
“Lakukan ini, setidaknya untuk membantu kasus. Kamu adalah orang yang memeriksa mayat korban, kamu yang lebih tahu secara rinci di mana lokasi korban ditemukan.” Liu Xikuan menengahi, memberikan alasan yang sebenarnya hanya setengah benar. Setelah ini ia hanya ingin mengantarkan Zhan Jin pulang agar tidak menggunakan jasa taksi. Jika diantar, Zhan Jin dapat tidur sebentar di perjalanan. Jadi ia berharap kalau besok tim akan lengkap dalam keadaan bugar. Sebagai ketua tim, dia harus memastikan keadaan tim. Satu orang sakit, maka kerja tim akan cacat.
“Baiklah, untuk kasus. Untuk kasus ini aku akan mengorbankan diri dan mengambil resiko terkena penyakit jantung karena kekurangan tidur. Pengorbananku sebesar itu.” Semua orang di sana, termasuk Chloe dan Joshua juga mengulum bibir sendiri. Dengan tekad Zhan Jin yang sebesar itu, rasanya tidak baik untuk menertawainya.
Sedikit memasuki hutan dengan bibir tebing curam yang menjulang di sebelah kiri, mereka semakin dekat dengan tempat yang dikelilingi oleh garis polisi. Chloe dan Joshua meletakkan koper kecil yang sedari tadi mereka bawa ke atas tanah dan membukanya. Sedangkan Luo Xi melihat sekitar, memperhatikan setiap detail yang bisa matanya tangkap.
“Dokter, Doktor, Sir!” panggil Chloe. Zhan Jin, diikuti Liu Xikuan dan Luo Xi mengulurkan tangan ke arah perempuan itu, menunggu sampai semua peralatan selesai diserahkan. Masker, sarung tangan, penutup kepala dan pembungkus sepatu, peralatan memasuki tempat kejadian sudah siap. Peralatan itu dipakai salah satunya adalah untuk mencegah mereka merusak lokasi.
Liu Xikuan berjalan lebih dulu dan mengangkat garis polisi untuk membuka jalan orang-orang di belakang tubuhnya. Lalu ia mengikuti langkah Luo Xi yang mengikuti Zhan Jin, berjalan beringingan menuju sebuah tempat dengan tanah basah berwarna pekat. Ketika sudah mendekat, ternyata tanah basah itu pekat karena darah. Bau amis yang sedikit menembus masker membuat Luo Xi mengerutkan hidung. Tapi tidak membuatnya mundur dan malah mendekatkan wajah untuk melihat lebih jelas. Tidak lama kemudian, dia kembali menegakkan tubuh.
“Aku ingin ke atas.” Dengan kening berkerut, Luo Xi beranjak dari sana. Liu Xikuan tidak mengatakan apapun dan mengikuti. Sedangkan Zhan Jin tidak bergerak, dia merasa sangat letih dan kembali berkeringat banyak. Tubuhnya pegal dan dia berdiri di sana sebentar sebelum keluar dari garis polisi, Zhan Jin pikir dia tidak akan baik-baik saja jika ia ikut menaiki jurang.
Saat hampir naik ke atas jurang melalui jalan yang lebih landai, Liu Xikuan menahan bahu Luo Xi. Dia hampir tidak mengerti saat melihat Liu Xikuan naik dengan gerakan yang mulus. Dia memperhatikan cara temannya itu naik dan memperhatikan bekas yang tertinggal. Tanah tidak begitu padat, serpihan jatuh saat Liu Xikuan melepas pijakannya.
Luo Xi kemudian terintrupsi saat uluran tangan muncul di depan wajahnya. Itu Liu Xikuan yang terlihat mengokohkan kaki dan membungkuk sedikit. Liu Xikuan tidak cukup nyaring saat bergumam, “aku bantu kamu naik. Ayo!”
Genggaman tangannya sangat kuat saat Luo Xi menyambutnya. Dia memberikan aba-aba dengan hitungan dan Luo Xi merasa tubuhnya setengah melayang. Laki-laki itu menariknya kuat sampai mengerucutkan bibir. Seorang anggota kepolisian yang sudah terbiasa dengan pelatihan lapangan memang selalu dapat mengalahkan orang-orang teknis jika masalah investigasi lapangan. Luo Xi jadi sadar diri, jika saja Liu Xikuan tidak membantu, dia mungkin akan berakhir menghancurkan lokasi.
Pemandangan di atas terlihat kacau dan membuat Luo Xi terdiam. Sangat banyak yang terjadi, termasuk ulah hujan yang deras. Tapi dia ingat mengenai sebuah jalur dari semak belukar yang roboh yang ada di video investigasi. Jadi dia berputar sebentar dan menemukan kalau itu ada di semak belukar dari sisi kiri, dekat dengan jalan turun yang landai itu. Luo Xi mendekat dan memperhatikan dengan sangat lekat. Jalur ini semakin aneh jika dilihat dari dekat. Sebelumnya sudah nampak aneh dan sekarang menjadi lebih aneh.
Menoleh ke segala sisi, Liu Xikuan melihatnya dengan kening berkerut. Luo Xi berjalan menjauh sebentar untuk kembali dengan sebuah ranting cukup panjang di tangan. Dia kembali ke dekat jalur dan menekan-nekan semak yang roboh, seperti menguji sesuatu. Lalu dia melempar ranting itu menjauh dan membersihkan tangan dengan saling menepukkannya. Helaan napas muncul dan ia menjadi sedikit lebih santai daripada sebelumnya.
“Bagaimana? Kamu menemukan sesuatu?” Liu Xikuan menanyainya ketika melihatnya kembali berjalan ke area landai itu lagi.
“Ya, aku menemukannya.” Luo Xi menyahut singkat dan mengamati pemandangan di bawah sebentar. Ia tengah mencoba mencari detail lain yang mungkin akan menjadi petunjuk tambahan. Petunjuk yang ia temui tidak banyak, jadi dia mencoba mencari detail lain.
Dari atas ia melihat Joshua tengah berjalan mengarungi tempat yang dilindungi garis polisi. Dia yang biasanya bekerja di bidang bahan investigasi memang akan selalu seperti itu, bekerja teliti untuk mencari bukti, bahkan bukti terkecil. Investigasi tidak akan pernah berjalan lancar jika saja tidak memiliki orang-orang di bidang mereka.
“Apa? Apa yang kamu temukan?” Hanya menggeser pandangan, Luo Xi melihat Liu Xikuan sudah turun. Dia berdiam sebentar lalu ikut berjalan ke arah tanah landai tadi dan turun perlahan dengan bantuan Liu Xikuan lagi.
“Aku belum yakin, jadi akan lebih baik jika kita berbicara di mobil. Aku masih memerlukan pemikiran kalian. Jika temuanku masuk akal, kita baru bisa memberitahu tim.” Ucapan Luo Xi mendapatkan anggukkan.
Luo Xi berjalan duluan ke arah mereka masuk tadi. Sedangkan Liu Xikuan mendatangi Joshua dan mengajaknya untuk kembali. Saat sudah berada di luar garis polisi, Luo Xi melepaskan peralatan di tubuh dan memasukkannya ke dalam wadah khusus untuk dibuang nanti. Dari jauh ia melihat Liu Xikuan berjalan ke arahnya seraya berbincang dengan Joshua. Lalu di dekatnya ada Zhan Jin yang agak pucat dan tengah menyesap lamat-lamat air mineral dari sebuah botol kemasan yang tidak terlalu besar. Di dekatnya ada Chloe yang menemani dengan wajah khawatir. Sepertinya demamnya semakin parah dan Luo Xi mulai merasa bersalah karena menyeretnya untuk ikut ke tempat ini.
Luo Xi mendekati Liu Xikuan ketika dia dan Joshua sudah berada di luar garis polisi dan sedang melepaskan peralatan. Dia terlihat seperti ingin menyampaikan sesuatu yang tidak ingin didengar banyak orang. Jadi Liu Xikuan merendahkan tubuh untuk mendengarkan bisikan samar, “kita antar Zhan Jin pulang dulu lalu mengurus makan siangnya. Setelah itu aku akan memberitahu segalanya padamu.”