Alvin yang merasa bosan setelah belajar dan ingin menyegarkan pikirannya sejenak dengan mencari buah-buahan segar di dapur tak sengaja melewati kamar adiknya yang pintunya memang terbuka sedikit. Ia mengintip di sela-sela pintu yang terbuka dan menemukan adik perempuannya itu sedang membaca sebuah novel percintaan di tangannya dengan wajah serius.
Kedua alisnya bertaut melihat sikap tak biasa adiknya itu yang biasanya sangat anti dengan novel percintaan yang katanya bisa membuatnya mual dan mengeluarkan isi perutnya kini malah membacanya dengan serius dan seperti tak ingin diganggu oleh siapa pun.
Ia mendorong pintu di depannya yang lumayan mengeluarkan suara yang mengganggu namun gadis di depannya seperti tak menyadarinya dan tetap lanjut membaca novel di tangannya. Alvin melangkah semakin mendekat dan saat sudah tiba di samping adiknya ia segera merebut novel yang sedang dibaca adik kembarnya itu yang tentu saja membuat gadis di depannya segera menatapnya tajam.
“Tumben kamu baca novel. Biasanya juga malas.” Alvin membolak-balikkan novel di tangannya berusaha mencari sesuatu yang kiranya bisa menarik perhatian adiknya itu. Namun novel itu hanya berkisah tentang remaja perempuan dan laki-laki yang saling jatuh cinta hanya karena tidak sengaja bertabrakan di lorong kelas yang baginya terlalu klise dan tentu saja membosankan.
“Balikin!” Vina merebut kembali novelnya yang sudah ia baca hingga setengah halaman dengan wajah kesal. Padahal ceritanya sedang mencapai k*****s dengan kehadiran orang ketiga di antara kedua tokoh utama dan Alvin malah datang mengganggunya setelah muncul layaknya hantu yang tidak diundang.
Alvin hanya mengangkat bahu tak acuh menanggapi pelototan marah dari adiknya. “Dari pada kamu baca novel tidak jelas kayak gitu mending kamu belajar, deh. Lebih banyak faedahnya.”
Vina mencibir dengan bibir yang sedikit manyun. “Ini juga ada faedahnya tahu.” Tangan kanannya membuka lembaran baru novel di hadapannya untuk membaca kisah selanjutnya berusaha mengabaikan kehadiran Alvin di sampingnya.
“Apa coba faedahnya?” Alvin malah duduk di pinggir ranjang di hadapan Vina yang sedang membaca dengan memeluk boneka beruang berwarna biru kesayangannya yang dibelikan olehnya saat mereka berdua berulang tahun dua tahun yang lalu.
Vina tidak bisa menahan untuk memutar matanya jengah. “Ya supaya aku bisa tahu bagaimana perasaan dua orang yang saling jatuh cinta dan apa arti cinta itu.”
“Buat apa, sih?”
Vina melirik kakak laki-lakinya di depannya dengan wajah datar. “Kamu kenapa, sih?” tanyanya bingung melihat sikap kakaknya yang kini menampilkan wajah yang jelas-jelas keberatan dengan hobi barunya itu. Padahal ia hanya membaca novel yang bahkan Anggi juga sering membacanya dan kakaknya biasa-biasa saja, tidak menegur pun melarangnya. Tapi giliran ia yang membacanya malah membuat kakaknya bersikap seolah-olah ia sedang memiliki hobi baru menyiksa orang tanpa sebab. Ia hanya membaca novel dan itu bukanlah perbuatan yang buruk sehingga ia harus bersikap marah seperti itu.
Alvin menghela napas melihat sikap adiknya yang tidak bisa menangkap kekhawatiran yang ia rasakan saat ini. Ia hanya tidak ingin adiknya itu mengenal cinta dan berakhir bertemu dengan laki-laki tidak baik yang hanya akan membuatnya sakit hati. “Kamu masih terlalu kecil untuk itu, Na.”
“Please, deh, Vin,” Vina kembali memutar matanya bosan mendengar kalimat yang selalu pemuda di hadapannya katakana padanya seolah-olah perbedaan jarak usia di antara keduanya begitu besar sehingga ia bisa menganggapnya sebagai anak kecil. “Perbedaan umur kita itu cuma lima menit. Kalau kamu menganggapku yang hanya lahir lima menit setelah kamu ini anak kecil, lalu bagaimana dengan kamu?”
“Itu jelas berbeda, Vina.” Sorot mata Alvin kini tampak berbeda dan Vina bisa mengetahui bahwa kakak laki-lakinya itu sedang sangat serius sekarang ditambah lagi ia tidak menyebut namannya seperti biasanya.
“Apanya yang berbeda? Hanya karena kamu laki-laki jadi kamu bisa berpacaran dengan mudahnya sementara aku yang perempuan ini tidak bisa? Sejak kapan kamu memiliki pemikiran sedangkal itu, sih, Vin?”
Alvin mengacak rambutnya kasar sebelum berdiri dan menatap tajam pada adiknya yang hanya mendongak dengan wajah tanpa rasa takut dan bersalah. “Aku hanya tidak ingin kamu terluka.” Setelah mengucapkan hal itu yang beranjak dari sana tak menghiraukan teriakan adiknya di dalam kamar.
“Yang namanya patah hati itu manusiawi, Vin. Semua manusia pasti akan merasakannya cepat atau lambat.” Vina hanya menghela napas melihat kakaknya yang tak menghiraukan ucapannya dan berjalan keluar dari kamarnya tanpa menoleh sediki pun, ia kembali menghela napas saat melihat ibunya yang tidak sengaja berpapasan dengan Alvin di depan kamarnya dengan wajah bingung karena ini memang kali pertama kedua saudara kembar itu saling beradu argument
*****
“Bayu, pacaran itu menyenangkan, nggak?” Vina mengabaikan tatapan tajam yang dilayangkan sosok pemuda di sampingnya dan tetap menatap Bayu yang duduk di belakang kursinya dengan tatapan penasaran.
Bayu yang menangkap raut wajah tidak senang Alvin melirik pemuda itu ragu-ragu, ia yakin jawaban yang akan keluar dari bibirnya saat ini akan menjadi penentu bagaimana nasibnya ke depannya. Ia menggaruk pipinya yang tidak gatal dengan senyum canggung, ini kali pertama gadis di depannya bertanya soal percintaan yang biasanya tak pernah menarik perhatiannya sedikit pun. “Bagaimana, ya.” Ia kembali melirik Alvin yang sudah seperti memberi peringatan padanya untuk tidak menjawab secara sembarangan. “Ada menyenangkan dan ada buruknya juga, sih. Tergantung orangnya bagaimana menyikapinya.”
“Jawaban macam apa itu?” Adit yang duduk di sebelahnya tertawa mendengar jawaban Bayu yang terkesan ambigu di telinganya. Ia menatap pada Vina dengan rasa tingkat percaya diri yang tinggi tak menyadari tatapan tajam Alvin yang kini dilayangkan padanya. Maklum ia memang memiliki tingkat kepekaan yang sangat rendah dibanding sahabatnya yang lain. “Gini, Na. Biar aku yang jawab. Pacaran itu jelas menyenangkan, ada yang bisa dikangenin setiap hari. Kalau mood lagi buruk ada yang kasih semangat. Jalan bareng, teleponan bareng. Pokoknya enak, deh, setiap hari rasanya seperti berada di syurga.”
“Benar ‘kan? Aku juga menganggapnya begitu.” Kedua mata Vina berbinar-binar mendengar jawaban Adit yang memang sesuai dengan yang ia harapkan. Berbekal novel romansa fiksi remaja yang ia pinjam dari Anggi beberapa hari yang lalu ia sudah bisa menyimpulkan bahwa pacaran itu benar-benar hal yang menyenangkan untuk dilakukan. Terlebih lagi melihat sikap Alvin dan Anggi yang selalu terlihat seperti dua sejoli yang baru merasakan kasmaran membuatnya semakin yakin dengan teorinya itu.
“Eh, ngomong-ngomong kalian berdua punya pacar, nggak? Soalnya aku baru sadar kalian nggak pernah ngenalin cewek.” Pandangan Vina bergantian mengamati wajah Bayu dan Adit di depannya sementara ia masih terlihat tak acuh dengan keberadaan sosok kakak kembarnya di sampingnya. Ia masih kesal dengan pembicaraan mereka tadi malam yang membuatnya tak bisa tidur sehingga mood-nya menjadi buruk di pagi hari. Hari ini ia juga tidak berangkat bersama Alvin ke sekolah melainkan berangkat bersama Angga yang memang tinggal di kompleks perumahan yang sama dengannya.
“Kalau aku nggak punya. Memang mau lebih fokus ke sekolah dulu.” Bayu menjawab dengan senyum tipisnya. Ia meskipun tak sepintar Alvin dan Anggi namun termasuk siswa yang lumayan pintar di kelasnya. Ia juga aktif di setiap pelajaran dan tentu saja tidak pernah membolos sekolah seperti sahabatnya yang lain.
“Kalau aku lagi sementara pendekatan.” Adit memberikan tatapan genitnya. “Doain, ya, semoga sukses.”
Vina menangkupkan kedua tangannya dengan senyum lebarnya. “Amin. Semoga secepatnya, ya. Dan jangan lupa kenalin ke kita.”
“Beres.” Adit memberikan jempolnya. “Oh iya, kalau kamu sendiri bagaimana? Lagi ada cowok yang kamu sukai?”
Pertanyaan yang dilontarkan Adit kepada Vina membuat Alvin yang sejak tadi hanya diam saja segera menoleh pada adik kembarnya itu dengan perasaan was-was, ia benar-benar belum siap menerima fakta jika ternyata adiknya itu sudah punya pacar atau sudah mempunyai laki-laki yang ia sukai tanpa sepengetahuannya. Dibanding dengan Adit yang memberikan pertanyaan, ia lebih penasaran dengan jawaban adiknya itu.
Vina menatap kosong ke langit-langit kelasnya, tampak berpikir yang sebenarnya hanya ia lakukan untuk menarik rasa penasaran ketiga pemuda di depannya. Ia tersenyum. “Belum ada, sih,” jawabnya membuat Alvin yang duduk di sebelahnya menghela napas lega.
“Kirain ada.” Adit ikut tertawa bersama Vina kemudian tawanya terhenti dengan wajah serius yang tiba-tiba. “Atau kamu mau aku kenalin sama cowok?”
“Apa?” Alvin tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan suara lagi, ia benar-benar sudah habis kesabaran sekarang. Matanya melotot memandangi tajam Adit yang mulai merasakan aura membunuhnya. “Tadi kamu bilang apa, Dit?”
Vina mendelik tajam melihat singkat pada kakaknya yang masih melemparkan tatapan tajamnya pada Adit yang nyalinya mulai menciut. “Sudah, Dit, nggak usah dipedulikan orang kayak dia. Tadi kamu bilang mau kenalin cowok ke aku, ya?”
Adit mengangguk sebagai tanggapan pertanyaan Vina. Suaranya mulai lirih saat ia mengeluarkan suaranya. “Iya, itu pun kalau nggak ada yan keberatan, sih,” ujarnya sambil melirik Alvin yang wajahnya sudah mulai memerah menahan amarah.
“Siapa yang marah coba?” Vina melambaikan tangannya di depan wajahnya sambil tertawa kecil. “Ini ‘kan hidup aku, jadi aku yang tentuin, dong, mau bagaimana.”
Alvin tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi, ia segera menangkap lengan adiknya dan berusaha menariknya keluar dari kelas. “Ikut aku sekarang. Aku mau bicara.”
Vina menahan lengannya dengan perasaan kesal. “Buat apa? Kalau mau bicara di sini saja.”
Alvin terdiam cukup lama memandangi wajah adiknya yang juga ikut menatapnya dengan wajah datar. Melihat suasana yang mulai memanas di antara keduanya membuat Bayu dan Adit saling senggol dan berinisiatif untuk keluar dari kelas sambil mengajak teman lainnya meninggalkan Alvin dan Vina berdua saja di dalam kelas. Lebih baik mereka yang mengalah dari pada membuat pertengkaran dua saudara kembar itu semakin besar.
Bayu memukul belakang kepala Adit saat mereka sudah berada di luar kelas dengan lumayan keras sehingga menimbulkan suara yang cukup bisa didengar oleh orang-orang yang mereka lewati di koridor. “Ini semua gara-gara kamu tidak bisa membaca keadaan dengan benar. Begini ‘kan jadinya.”
Adit hanya mengusap-usap belakang kepalanya dengan wajah kesakitan dan penyesalan. “Ya aku ‘kan nggak tahu kalau mereka ternyata lagi bertengkar,” ujarnya membela diri. Ia tentu tidak ingin disalahkan untuk hal yang memang bukan kesalahnya sepenuhnya.
Bayu memberikan tatapan kesalnya. “Aku ‘kan sudah kasih kode tapi kamunya saja yang nggak bisa tangkap.”
“Kamu ‘kan tahu sendiri kalau aku itu nggak bisa dikasih kode. Cowok itu butuh penjelasan bukan kode yang nggak jelas.” Adit mengangkat bahu acuh tak acuh merasa bahwa ucapannya itu sangat keren dan mewakili setiap laki-laki yang ada di dunia ini.
“Dasar gila.”
Sekali lagi satu pukulan mengenai belakang kepala Adit yang membuat pemuda itu berteriak jengkel, ia baru saja ingin membalas perbuatan kurang ajar Bayu padanya namun pemuda itu sudah berlalu pergi meninggalkannya sehingga membuatnya harus mengeluarkan tenaga untuk mengejar dan membalas dendam pada pemuda itu yang terlihat menghindari amukannya.
*****