"Biar bagaimana pun, Mama itu ibumu, Bang. Jangan sampai kau menjadi anak yang durhaka!" Yudha bangkit dan berdiri tegak menatap adiknya. "Biarlah aku menjadi anak durhaka. Biarlah surga jauh dariku. Kau yang menjadi saksi. Mulai hari ini, aku berikrar, Ratih Darmi bukanlah ibuku!" "Tenangkan dirimu, Bang!" "Aku saat ini sedang menekan diriku sendiri agar tidak meluluh lantakkan tempat ini beserta seluruh penghuninya, Nin. Keluarlah! Keluar!" Dengan cepat, Nindi berlari keluar dari kamar itu. Yudha menutup pintu itu dengan sangat kuat. Kembali ia membuka catatan di ponsel itu, membacanya sekali lagi, lagi dan lagi. Laki-laki itu berharap, rasa sakit setiap kali kalimat yang tertulis itu bisa menjadi hambar. Namun sayangnya tidak, justru semakin sakit dan menusuk. Beberapa kali Nind

