“Aku beneran jatuh cinta sama kamu Diana,” ucap Gilang. “Hah?!” Diana tak percaya. Ia bahkan tak tahu apakah lelaki di hadapannya itu masih waras. “Yang bener kamu kalau ngomong, enggak usah dibuat-buat.” “Aku serius Diana, buat apa aku ngelamar kamu kalau bukan karena cinta?” imbuh Gilang kemudian. “Enggak mungkin Gilang bisa kayak gini,” batin Diana. Ia menatap Gilang dengan seksama, mencari sisi kebohongan yang masih tersisah di wajahnya. Sialnya semua raut penyesalan yang terpancar dari wajah lelaki itu terasa nyata. Kemudian hal yang membuat Diana semakin terbelalak adalah ketika Gilang tiba-tiba berlutut di hadapannya seraya memohon, “Kita mulai dari awal lagi ya? Anggap yang kemarin terjadi di antara kita itu adalah kenakalan masa kecilku.” “Kenakalan masa kecil katamu?” tany

