Di kamar, begitu acara usai. Rea langsung memeluk pak suami. Entah kenapa Rea melow sekali habis mendengar doa Jaya di kala siraman. Benar-benar menyentuh ke dalam hatinya. Jaya baru saja menyusul masuk, sudah disambut dengan dekapan. Terasa perut buncit Rea menyentuh perutnya. Keras sebagaimana perut ibu hamil. "Kenapa ini?" tanya Jaya. Rea malah terisak. Jaya sontak memaksa membuat jarak demi bisa melihat raut putri Bu Santi. "Ada apa, Re?" Eh, tangisnya makin deras. Jaya tuntun Rea dan didudukkannya di kursi rias. "Ada apa?" "Aku sayang sama Mas." Diungkap dengan iringan isak tangis. Jaya diam. Kenapa tiba-tiba, ya? Meski begitu, dia lalu inisiatif memberi dekapan. Rea duduk, Jaya berdiri. Membuat kepala Rea bersandar di perutnya, Jaya usap-usap bagian belakang kepala sang is

