Senjata dibalik handuk

1123 Words
"Gilak lo, Sa" teriak Bio. "Emm, sudah-sudah. Kalian jangan banyak bercanda. Kalian tahu. Kalian sudah banyak membuang waktu untuk banyolan yang gak jelas. Kalian semua adalah pemuda nusa dan bangsa. Masa depan negara ini ada di tangan kalian, seharusnya kalian bersatu memikul cita-cita, sehingga bisa membanggakan suatu hari nanti. Kalian gak mau jadi banyak uang setelah itu?" semangat 45 yang Manda ucapkan. "Males, ahk," balas Ibas lalu tiduran. "Gak perlu jalanin cita-citanya juga Dika udah kaya. Dia,'kan kaya dari jaman embrio," tutur Zero ditanggapi anggukan dari Dika. Gak tahu mengangguk-angguk karena lagu yang ia dengar dari headsetnya atau karena ucapan Zero. 'Ini kenapa mereka ngejawab aja sih kalau di bilangin. Bener memang kata emak-emak di dekat kostan aku. Anak-anak sekarang tuh kalau di bilangin ngejawab saja bikin kesel. Ternyata emang bener,yah sengeselin itu loh rasanya' Bahkan Manda yang bukan emak kandung mereka terus juga yang gak tua-tua banget, gak beda jauhlah usianya sama mereka. masih saja ng-bathin sama sikap mereka. Pantas Syadina Ali Bin Abi Thalib berwasiat untuk, "Jangan menggunakan kefasihanmu untuk berdebat (berbicara) di hadapan ibumu yang dulu telah mengajarimu bicara." Maksudnya jangan selalu membantah saat orangtua bicara, jikapun berniat meluruskan sebaiknya di utarakan tanpa menimbulkan rasa sakit hati. "Ini.., muridnya segini aja? satu, dua... Cuma enam orang?" cicit Manda kaget. "Yang lain lagi lihat Rian mandi tuh," ucap Bio. Hampir mirip sama yang di katakan Zero tadi. "Emang si Rian mandinya dimana?" "Cie, mau ngintip juga nih?!" selidik Esa dan. Manda melotot "Cepat jawab. Atau catatan Jason ini akan saya bawa ke kepala sekolah. Biar kalian kena hukum," ancamnya menggebu. "Gak tau, Bu. Paling mandi di kamar mandi guru." Esa jadi jauh lebih kalem. "Kamar mandi guru?" Manda mengulang ucapan Esa "Iya, Bu tapi lebih baik Ibu jangan kesana. Soalnya Rian punya senjata. Dan biasanya dia buka senjatanya waktu mandi," balas Esa dengan mimik serius. 'Anak sekolahan, membawa senjata.' Ulang Manda dalam hati dengan perasaan berdebar kuat. Ini udah gak bener. Rian, Rian itu udah harus ditertibkan. Gak ada lagi kata toleransi, gimana bisa anak seusia mereka kedapatan memiliki senjata. Manda keluar kelas, jantungnya berpacu. Dulu ia dan teman-temannya nakal. Tapi gak ada tuh yang bawa senjata. Tak sulit baginya menemukan kamar mandi guru, karna dari kejauhan tempat itu sudah ramai didatangi para gadis bahkan ada anak-anak cowok juga yang mau tahu apa resep Rian supaya punya perut sixpack kayak gitu. Manda semakin mendekat kesana "Bisa tolong minggir?" "Eh, kamu siapa?" tanya Afika tak suka "Saya guru BK baru, jadi bisa tolong menyingkir dan segera masuk kelas!" titah Manda keras tak ada lagi keramah tamahan dalam dirinya saat ini. Manda lagi marah, marah! Hooaarr. "Duuhh..." gerutu Rian yang belum selesai pakai baju. Ia ingat, tadi menggantungkan bajunya di atas pintu karna gantungan baju yang biasa ia pakai copot. Karna itu ia menyumpalkan baju dan celananya di sela-sela ventilasi. Lagi asik-asik mandi baju dia dicuri bikin Rian gak bisa keluar dari tadi, padahal ia sudah kedinginan di dalam. Manda menggedor pintu dengan kekuatan penuh. "Rian, Rian keluar kamu! Kamu gak bisa membawa senjata ke dalam sekolah." Kini Manda amat murka. Rian menyeritkan alisnya, Kapan dia bawa senjata. Ada sih dia "pistol" tapi itu juga gak akan buat seseorang meninggal. Yah, paling kalau ada cewek kena tembak jadi melendung sembilan bulan sepuluh hari sudah gitu saja. "Lo siapa?" pekik Rian juga kesal. Dari tadi dia sebal sama yang ambil bajunya, dia,'kan bukan salah satu tujuh bidadari dalam legenda Jaka tarub. Jadi kenapa dia kena juga deh?! "Rian cepat keluar!" habis semua kesabaran Manda. Di otaknya dia lagi mikir kalau Rian adalah salah satu dari anggota gangster sehingga memiliki senjata berapi, Hm. Manda kebanyakan baca serial mafia dengan judul The Don's Father nih, "Ahhkk.., gilak!" Rian mengambil handuk kecil yang ia pakai untuk mandi. Untuk menutupi daerah itu dan keluar sesuai dengan titah Manda. Rian cuma mau tahu toa siapa yang memaksanya keluar sampai sebegitunya. Rian membuka pintu menatap nyalang ke arah Manda. Perut sixpacknya ia biarkan terekspos diselingi dengan buliran air yang perlahan menetes, hanya bagian terlarang yang ia sembunyikan. Manda yang lagi membungkuk karena tadi mencoba memperhatikan rumah kunci jadi terdongak. "Elo!" sebut keduanya bersamaan Manda menelan ludahnya kasar, posisi dia gak bagus. Sama sekali gak bagus! Matanya tepat ada di bawah perut Rian, Iyah, bawah. Bukan-bukan disitu. Bukan di pongkol pinggulnya. bawahan lagi! Nah, iyah disitu! Manda bangun, pasang muka biasa saja "Mana senjata kamu. Serahkan pada saya?" "Gue gak punya senjata!" teriak Rian "Bohong! pasti kamu tutupin'kan. Itu, itu. Ngapain ditutup?!" Manda menunjuk handuk yang terlilit di pinggul Rian Sudut bibir Rian terangkat. "Yakin nih mau liat?!" seringainya. Bagi Rian mah gak rugi nunjukin pistolnya ke Manda. Yah hitung-hitung amal-amal time. Manda menyipitkan matanya. Buat Rian gak tahan untuk tidak menggodanya. Dengan senang hati ia menunjukkan "senjatanya". "Niih!" Rian buka separuh handuknya "Aahkk.., p***o. Iih, iih!" pekik Manda sambil menutup matanya dengan tangannya. Lalu tangan satunya lagi menabok bahu Rian. "Aaauuw..., yah tadi lo yang mau lihat!" bela Rian nggas. "Lagian juga gue pakai CD kok!" lanjutnya sambil natap ke bawah. 'Emang agak nonjol sih biar sudah di kurung juga!' pikirnya. "Kamu gak ada sopan santun!" "Yang gak sopan gue apa lo?!" cecar Rian membalikkan fakta. Tetapi dia bener sih, dia,'kan lagi mandi wajar dong kalau dia naked. Yang gak wajar itu Manda... Orang Mandi diminta pakai baju, itu mah namanya lagi kehujanan. "Sekarang keluar!" suruh Manda. Rian memutar bola matanya malas. Kalau dari tadi dia bisa keluar juga dia mau. Masalahnya'kan mana baju dia. Masa iyah, dia keluar cuma pakai k****t segitiga. Bisa heboh seisi sekolah. "Ngapain liatin aku kayak gitu. Keluar gak!" ancam Manda sekali lagi. "Yang keluar tuh elu!" sungutnya geram. "Kenapa aku, emang kamu gak mau masuk kelas?!" selidik Manda dengan segala gengsi. Otaknya gak bisa berfikir sejak kejadian lima menit yang lalu. Hampir saja ia punya pengalaman dewasa sebelum masuk ke jenjang pernikahan. "Gini, gue dari tadi gak keluar karena gak ada baju gue. Jadi gimana caranya gue keluar?!" "Hhhaah. Gak ada baju?!" kutip Manda seraya menelan ludahnya. "Lo mandi gak bawa baju?!" "Bukan itu. Tapi baju gue tadi di embat orang gak bertanggung jawab!" Saat itu, saat itu Manda pengen banget ketawa. Mana muka Rian yang lagi kena musibah itu mood banget buat diketawain. Kayak ada lucu-lucunya gitu, siap ditampol tau gak! Ada kesalnya juga ketara sialnya. "Hahaa," tawanya pecah. Gak bisa Manda tahan. Ia tahu, ketawain orang kena musibah itu gak baik. Tapi, "Nyengiir lo!" cerca Rian. "Lagi kok bisa?!" "Bisa. Kan pake A kalau pakai U bisu" "Hahaha!" "Lo bakat lawak,ya?!" tanya Manda "Bakat gak,ya?!" Rian malah berfikir. "Bakat terpendam yang harus lo pendam, kalau lo gak mau jadi bahan ketawaan orang terus" saran Manda masih cengengesan. Hahaha. Manda gak bisa menghentikan tawa. Rian memperhatikan bu gurunya itu. 'Cantik dan Em,'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD