Mulai hari itu Mentari pun sibuk merawat diri, sore hari ia akan ke salon dan baru pulang di malam hari. Ia tak pernah lupa membawa makan malam untuk anak-anaknya. Mentari berusaha untuk mengatur waktunya di pagi hari, setelah mengantar Dara ke sekolah ia akan bertemu dengan Cahaya. Ada beberapa latihan yang harus dilakukan Mentari sebelum mulai bergabung dengan mereka, seperti bagaimana cara berjalan di atas panggung dan bagaimana cara berpose di depan kamera, semua dipelajarinya dari Cahaya. Beruntung ada Romlah yang dengan senang hati menjaga anaknya.
Awalnya sulit. Namun, Mentari yang sudah bertekad untuk mencari uang sendiri menganggap jika itu adalah peluang yang tepat, membuat ia pun berusaha untuk melakukan yang terbaik. Ia tak ingin kehilangan pekerjaan itu.
"Apa kamu ada kesulitan?" tanya Cahaya saat mereka baru saja selesai melakukan sesi pemotretan. Hari ini masih sesi latihan, jadi hanya ada Mentari, Cahaya dan juru kameranya. Mentari bisa masuk ke studio foto karena adanya Cahaya, berbeda dengan peserta lainnya yang katanya ada beberapa orang yang akan bersaing dengannya. Hsl membuat Ia pun memanfaatkan kesempatan itu untuk belajar berpose sebaik mungkin.
"Nggak ada masalah, kok. Aku hanya tak yakin jika hasilnya akan bagus."
"Ini masih permulaan, aku yakin kamu pasti bisa. Seiring berjalannya waktu dan saat kamu sudah terbiasa di depan kamera Kamu pasti bisa dan memberikan hasil yang terbaik, percaya padaku jika inilah duniamu. Kamu bermodalkan wajah yang cantik, jadi semua akan mudah. Lihat, hanya dalam tiga hari saja kamu sudah memiliki banyak perubahan, kamu harus terus merawat diri sampai aku tak mengenalimu lagi, jika perlu tiga kali seminggu datanglah ke salon untuk perawatan. Masalah biaya, kamu jangan memusingkannya hal itu bisa kita atur, kamu pakai uangku dulu dan kamu bisa membayarnya saat kamu sukses nanti, untuk sekarang fokus pada perawatamu saja," ucap Cahaya membuat Mentari pun hanya mengangguk saja, ia akan melakukan apapun yang dikatakan oleh Cahaya, ia percaya jika Cahaya akan memberikan bimbingan yang terbaik untuknya agar bisa sukses.
Hari ini Mentari pulang lebih awal dari hari lainnya, dimana hari ini tepat 3 hari suaminya meninggalkan rumah tanpa ada kabar apapun. Mentari takut jika sampai suaminya pulang sebelum ia pulang dan melihat penampilannya.
Mentari terlebih dahulu membawa beberapa barang belanjaannya masuk ke dalam kamar, ia sengaja menyembunyikannya di bagian bawah pakaiannya, takut jika sampai suaminya mengetahui semua itu. Ia juga memakai daster lusuhnya seperti yang biasa dia pakai, wajahnya sengaja dipoles bedak yang sedikit gelap untuk menyamarkan warna kulitnya yang kini sudah lebih cerah. Rambutnya juga yang selama ini dirawatnya di salon sengaja dibuat acak-acakan sama seperti penampilan sebelum suaminya itu pergi, kucel dan kusam. Dua kata yang selalu diucapkan suaminya untuk menilai penampilannya.
Setelah memastikan suami tak akan curiga dengan penampilannya, ia dengan membawa makanan menghampiri Romlah dan juga kedua anaknya yang bermain di teras rumah ibu Romlah, mereka lagi-lagi makan bersama.
"Apa suamimu sudah datang?" tanya Romlah setelah mereka selesai dengan makanannya.
"Nggak tahu, Bu. Katanya hanya 3 hari, tapi sudah jam 07.00 malam dia kok belum pulang, ya?"
"Apa dia tak pernah menelponmu?" tanya bu Romlah membuat Mentari pun menggeleng, bu Romlah hanya menghela napas, ia tak mau terlalu ikut campur dengan menanyakan hal-hal yang lebih mendalam lagi.
Jam 09.00 malam Rian belum pulang juga, membuat Mentari pun mengambil kesimpulan jika suaminya itu tak akan pulang malam itu, Mentari mengirim pesan untuk mencari tahu.
"Mas, maaf aku mengganggu pekerjaanmu, kapan kamu pulang? Bukankah kamu pergi hanya 3 hari, ini sudah 3 hari. Kamu baik-baik saja kan, Mas?" tulis Mentari, pesannya dibaca. Namun, tak dibalas.
Melihat centang biru pada pesannya, membuat Mentari hanya menghela napas, ia pun menyimpan kembali ponsel dan memutuskan untuk bermain bersama dengan kedua anaknya, ia belakangan ini terlalu sibuk di luar sehingga lebih banyak menitipkan Dara dan Vio pada ibu Romlah.
Mentari berusaha membiasakan diri untuk tak sakit hati dengan tindakan suaminya di luar sana. Ia sudah tak sabar ingin segera terlepas dari hubungan mereka yang sudah hancur.
Selagi dia ada di rumah, Mentari akan berusaha untuk menemani keduanya bermain.
Malam itu pun Mentari tidur tanpa adanya kabar dari sang suami, Mentari menatap ponselnya. Ingin rasanya ia mengirim pesan pada Sari atau Salma, menanyakan apakah suaminya masih bersama mereka, apakah malam itu bersama Salma atau bersama wanita baru yang bernama Sari, masih ada sedikit rasa khawatir saat suaminya itu tak memberi kabar. Namun, ia kembali mengurungkan niatnya. Untuk apa juga dia menanyakan hal itu pada mereka.
Keesokan harinya setelah mengantar Dara, Mentari pun melajukan motornya menuju ke perusahaan sang suami bekerja. Yang ia tahu suaminya hanya sebagai karyawan biasa. Dari kejauhan ia menunggu hingga mobil yang pernah ditumpangi oleh suaminya itu tiba dan terparkir cantik.
Benar saja, tak lama kemudian Mentari bisa melihat suaminya keluar dari mobil itu bersama dengan wanita yang sama, sepertinya suaminya sudah sangat betah tinggal di rumah wanita itu, sampai lupa pada dirinya dan juga anak-anaknya.
“Mas, apa membalas pesanku saja kamu sudah tak punya waktu?” Mentari tak ingin berlama-lama menyakiti hatinya sendiri, Ia pun memutuskan untuk kembali menemui Cahaya. Mentari kembali melajukan motornya meninggalkan perusahaan itu.
“Itu kan istrinya Rian, mengapa dia jadi cantik. Oh mungkin dia berdandan karena ada acara kondangan,” gumam Salma yang melihat Mentari sudah mengajukan motor yang biasa dipakai oleh Rian, kemudian ia kembali melihat ke arah Rian dan juga Sari. Salma bekacak pinggang menatap keduanya, sudah beberapa hari ini ia memperhatikan mereka yang terlihat begitu dekat. Rian bahkan sudah tiga hari ini tak pernah merayunya seperti biasanya.
“Apa hubungan mereka sebenarnya?” gumam Salma ikut melangkah masuk menyusul keduanya.
Hari itu, selama bekerja di kantor Salma terus memperhatikan mereka dengan intens, hingga saat jam istirahat Salma melihat Rian masuk ke ruangan Sari.
“Mau ngapain dia di ruangan Ibu Sari?” gumam Salma melihat gerak-gerik mencurigakan dari Rian.
Sari memang memiliki ruangan khusus, berbeda dengan mereka yang hanya di ruangan luar saja bersama beberapa karyawan lainnya. Salma berpura-pura membawa beberapa berkas di tangannya dan menghampiri ruangan Sari.
Begitu sedikit membuka pintu dan mengintip masuk ke dalam, Salma terkejut dengan apa yang dilihatnya.
“Jadi selama ini dugaanku benar, Rian tak pernah mendekatiku lagi karena dia telah memiliki mangsa baru. Apa kalian pikir kalian bisa seenaknya di kantor ini,” gumam Salma kemudian merekam adegan m***m yang sedang mereka lakukan.
Salma tahu siapa suami dari Sari, dan video itu mungkin saja bisa digunakannya suatu saat nanti. Baik untuk Sari ataupun untuk Rian, atau ia bisa mendapatkan uang dari keduanya.
“Dasar, sudah punya istri cantik masih saja tergoda dengan p*****r seperti Sari,” ucap Salma tersenyum getir kemudian meninggalkan ruangan tersebut.